
Setelah perdebatan panjang masalah perijinan Edrea yang ingin masuk ke dalam kasus ini. Pada akhirnya Barra memilih membiarkan Edrea melakukan sesuai dengan rencananya, asalkan Barra harus selalu ikut kemanapun ia pergi nantinya jika rencana yang dibicarakan Edrea berhasil. Mendapat persetujuan tersebut tentu saja membuat Edrea tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini. Dengan tersenyum lebar Edrea mulai masuk ke dalam situs online tersebut.
Edrea membuat kisah hidupnya sesedih mungkin ketika situs website tersebut menanyakan tentang permasalahan Edrea. Agar terlihat kian dramatis Edrea menambahkan bumbu-bumbu agar situs tersebut lebih percaya kepadanya seperti Edrea yang tidak menerima kelebihan yang ia miliki, satu-persatu orang-orang yang ia sayangi dan ada didekatnya meninggalkan dirinya, sampai-sampai membuat Edrea begitu frustasi akan kehidupan yang ia jalani di dunia ini. Tak lupa Edrea juga menambahkan emot sedih dan juga menangis agar lebih terlihat menyedihkan lagi.
"Sempurna" ucap Edrea dengan senyum bahagia.
Barra yang melihat senyuman tak luntur juga dari wajah Edrea, membuat Barra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Edrea yang seperti itu. Barra mencoba untuk diam sambil memantau semua yang dilakukan oleh Edrea sedari tadi tanpa bertanya ataupun mengomentari segalanya. Hingga kemudian Edrea menatap ke arah Barra dengan senyum yang mengembang sambil menunjukkan laptop miliknya ke arah Barra.
Barra yang tidak mengerti akan maksud dari senyuman tersebut, lantas menatap ke arah laptop yang ditunjukkan oleh Edrea sambil bertanya-tanya akan maksud dari senyuman itu.
Bergabunglah bersama kami Kitty untuk menuju dunia yang lebih baik lagi. Kami akan membawa mu menuju alam damai setelah kematian. Jika kamu takut melakukannya sendiri kami akan bersama dengan mu melewati rasa itu. Bergabunglah bersama dengan kami.
Ya Tidak
Melihat tulisan tersebut muncul di layar laptop Edrea membuat Barra langsung mengernyit menatap ke arah Edrea, sedangkan Edrea yang mengerti akan maksud dari tatapan tersebut lantas tetap tersenyum sambil mengangguk tanda mengiyakan apa yang saat ini ada dipikiran Barra. Barra berdecak kesal ketika melihat wajah Edrea yang begitu menyebalkan dan tidak enak untuk dipandang itu.
"Apa kau sungguh akan melakukan itu Re?" tanya Barra sekali lagi mencoba untuk memastikan rencana Edrea.
"Tentu saja, jangan khawatir aku adalah ratunya akting di kampus. Aku bahkan pernah menjuarai lomba teater antar kampus." ucap Edrea dengan bangga.
"Tapi masalahnya ini adalah kehidupan nyata bukan drama ataupun teater yang kau bicarakan." ucap Barra dengan nada yang kesal.
"Tenanglah Bar dan percayakan kepadaku, oke?" ucap Edrea lagi mencoba untuk meyakinkan Barra.
__ADS_1
Mendengar perkataan Edrea kembali membuat Barra hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Membuat Edrea kembali tersenyum dan mengklik tombol Ya dengan santainya seakan tanpa beban sama sekali.
Kami pastikan kamu akan pergi dengan damai, berikut adalah lokasi dan waktu yang kami tentukan khusus untuk anda.
Jln xxxx
pukul 14.30 WIB
Edrea yang mendapat kembali balasan dari situs website tersebut kemudian kembali menunjukkannya kepada Barra, membuat keduanya langsung saling pandang satu sama lain selama beberapa detik kemudian kembali menatap ke arah layar laptop tersebut.
"Bukankah ini sore nanti?" ucap Edrea sambil menatap ke arah Barra.
Barra yang juga melihat hal tersebut terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu. Hingga kemudian Barra menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang menelisik, membuat Edrea sedikit kebingungan akan maksud dari tatapan Barra.
"Kamu pergilah dan berakting sesuai cerita yang kau buat. Aku akan kembali ke Stasiun pemberhentian untuk melihat data kematian pada pukul tersebut." ucap Barra kemudian yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Edrea tanda mengerti.
"Jaga dirimu baik-baik dan jangan melakukan sesuatu yang membuat mu dalam bahaya, apa kamu mengerti?" ucap Barra memberi peringatan kepada Edrea.
"Baiklah aku mengerti tuan Barra." ucap Edrea dengan senyum yang mengembang.
Setelah mengucapkan pesan tersebut Barra kemudian berteleportasi menuju ke Stasiun pemberhentian untuk mencari data kematian pada pukul 14.40 WIB nanti dan meninggalkan Edrea untuk bergerak sendiri.
***
__ADS_1
Pukul 13.30
Edrea terlihat memilih beberapa baju di lemarinya dengan raut wajah yang serius. Dicarinya baju-baju lama Edrea yang terlihat usang dan juga jadul, namun sayangnya meski Edrea sudah hampir mengobrak-abrik isi lemarinya ia sama sekali tidak menemukan baju kolot ataupun usang yang ia cari, membuat Edrea lantas mendengus dengan kesal karena tak kunjung menemukannya juga.
Edrea terdiam sejenak ditempatnya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dengan tatapan yang menelisik Edrea mulai menelusuri satu-persatu bajunya yang terlihat berserakan di lantai. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada celana komprang dan juga kaos abu-abu polos yang tergeletak di lantai kamarnya. Ditatapnya kedua baju itu dengan seksama sambil berpikir sebentar.
"Aku rasa baju itu tidak terlalu buruk." ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang bahagia.
Dengan langkah kaki yang bergegas Edrea lantas mengambil baju tersebut dan langsung berganti pakaian dengan gerakan yang terburu-buru. Hingga beberapa menit kemudian Edrea terlihat keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian barusan.
Ditatapnya penampilannya di cermin kemudian Edrea memasang raut wajah yang cemberut karena menurutnya penampilannya ini sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang hendak melakukan bunuh diri. Edrea kemudian melangkahkan kakinya ke arah meja riasnya dan mengambil kacamata bentuk bulat di sana dan langsung memakainya, tidak lupa Edrea juga membuat kuncritnya ala cepol sedikit acak-acakan agar terlihat lebih tragis lagi.
Edrea yang baru saja selesai dengan penampilannya kembali menatap ke arah cermin dan tersenyum.
"Sempurna, tinggal menambah efek sedih dan aku sudah siap untuk berakting." ucap Edrea dengan senyum yang mengembang.
***
Di sebuah bangunan tua yang terletak jauh dipinggiran kota, terlihat Edrea mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki bangunan yang begitu lembap dan juga kotor itu dengan langkah kaki yang perlahan. Ditatapnya area sekeliling bangunan sambil sesekali membenarkan kacamatanya yang melorot karena Edrea yang tidak biasa memakai kacamata.
"Apakah ini benar-benar tempatnya? Mengapa sepi sekali? Atau aku salah tempat kali ya?" ucap Edrea dalam hati dengan raut wajah yang bingung sambil menatap ke arah kanan dan kiri mencoba mencari sesuatu ataupun seseorang yang bisa ia tanyai tentang informasi situs ini.
Edrea terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan dengan sekat pintu di mana di dalamnya terdapat pembatas dari mika yang menutup area pintu masuk. Dengan raut wajah yang penasaran Edrea mulai menyusuri tempat tersebut, hingga kemudian sebuah suara lantas terdengar dan mengejutkan dirinya.
__ADS_1
"Apa kamu datang untuk menyelesaikan segalanya?"
Bersambung