Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tugas selanjutnya


__ADS_3

Di sebuah hutan di masa lalu


Terlihat gadis yang berwajah mirip dengan Edrea terssebut tengah berlarian dengan nafas yang terengah engah mendekat ke arah Barra.


"Ada apa kamu berlarian seperti itu nyi mas? apakah ada sesuatu yang terjadi di desa?" tanya Barra ketika melihat kedatangan gadis tersebut dengan raut wajah yang ketakutan.


"Ular besar yang ada di ramalan itu telah muncul dan menggemparkan warga desa." ucap gadis tersebut.


"Hanya saja makhluk itu mencari dirimu... Kedatangan ku ke sini adalah untuk memperingatkan mu akan kedatangan makhluk tersebut." ucap gadis itu lagi yang lantas membuat Barra terdiam sekaligus bertanya tanya maksud dari ucapan gadis itu yang mengatakan bahwa makhluk tersebut mencari dirinya.


**


Beberapa hari kemudian


Barra terlihat tengah menunggu kedatangan gadis itu dengan raut wajah yang bahagia. Langkah kaki seseorang di semak semak mulai terdengar di pendengaran Barra yang lantas membuat Barra menoleh ke arah sumber suara.


"Kau datang lagi" ucap Barra dengan bahagia.


Hanya saja gadis tersebut nampak diam tidak menanggapi ucapan Barra, dari auranya Barra seperti mencium ada yang tidak beres pada gadis tersebut.


"Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Barra dengan penasaran sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu.


Bukannya jawaban yang di dapatkan oleh Barra ketika mendekati gadis itu, malah sebuah serangan mendadak. Barra yang tadinya bingung akan serangan tersebut lantas baru tersadar ketika menatap manik mata gadis itu yang berubah berwarna hijau layaknya mata ular.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Barra pada gadis itu.


"Aku datang untuk menjemput kematian mu!" ucap gadis itu dengan tawa ketika mengetahui bahwa Barra ternyata menyadari kehadirannya di dalam tubuh gadis itu.


"Pergi dari tubuhnya dan hadapi aku secara langsung!" ucap Barra.


"Tidak semudah itu" ucapnya lagi.


Pada akhirnya baik Barra maupun gadis itu lantas terlibat dalam perkelahian yang seimbang, keduanya benar benar sama kuatnya. Hingga ketika Barra sudah mulai lelah dengan pertarungan ini, ia lantas mencengkram dengan erat leher gadis itu. Manik mata yang semula layaknya seekor ular perlahan mulai kembali menjadi normal ketika cengkraman tangan Barra semakin kuat.

__ADS_1


"Bunuh aku Bar... makhluk ini sudah.. membunuh banyak nyawa tak bersalah.. bunuh aku dengan belati milik mu..." ucap gadis itu yang lantas membuat Barra melepas cengkraman tangannya pada leher gadis itu.


Barra yang mengira gadis itu telah kembali, sontak terkejut ketika manik mata gadis itu berubah kembali menjadi seperti layaknya mata ular, membuat Barra harus terpelanting cukup jauh karena tendangan yang tiba tiba dari gadis itu.


"Sanggupkah aku melakukannya?" ucap Barra dalam hati sambil menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang sendu.


"Kau hanyalah putra mahkota yang terbuang dan tidak di harapkan, jika aku membunuh mu bukan kah maha raja akan menyukai ku?" ucapnya sambil tertawa dengan nyaring.


Barra yang mendengar hal tersebut lantas tersulut emosi kemudian melesat sambil menggenggam dengan erat belati di tangannya. Dengan gerakan yang cepat dan tepat Barra menusukkan belati tersebut ke jantung gadis itu hingga ia memuntahkan darah segar yang lantas membasahi baju miliknya.


"Maaf.." ucap Barra dengan lirih sambil menangkap tubuh gadis itu yang jatuh ke tanah.


**


Sementara itu setelah Max menemukan tuannya dalam keadaan yang tidak baik baik saja, kondisi Barra saat ini sangatlah mengkhawatirkan. Sudah berhari hari Barra tidak kunjung bangun juga dari tidurnya membuat Max khawatir akan keadaan tuannya itu.


Setetes air mata terlihat jatuh dari sudut mata Barra disaat matanya terpejam, membuat Max yang tengah berada di sampingnya lantas dengan sigap mengusap air mata Barra yang jatuh.


**


Dua hari kemudian di dunia manusia.


Edrea yang baru saja menyelesaikan kelasnya lantas duduk termenung di kantin dengan tatapan kosong ke arah depan.


"Tumben melamun, ada apa?" tanya Kiera yang membawa dua mangkuk bakso di tangannya.


Mendengar ucapan Kiera yang nyaring lantas langsung membuyarkan lamunan Edrea.


"Pingin cerita tapi aku tidak bisa cerita... aku harus gimana dong?" ucap Edrea sambil mencebikkan mulutnya.


Entahlah hanya saja Edrea merasa sangat kosong karena Barra tiba tiba menghilang begitu saja dan tidak pernah memanggilnya selama dua hari ini. Jika Edrea tidak salah hitung dua hari di dunianya sama dengan 48 hari di dunia Barra, sebenarnya Edrea tidak telalu yakin hanya saja waktu itu Kiera mengatakan bahwa ia di dalam toilet Kafe sudah satu jam lebih padahal jelas jelas Edrea sudah menghabiskan waktu berjam jam bahkan seharian lebih dalam memecahkan kasus hantu berlumur darah waktu itu.


Di saat Edrea tengah gundah sambil terus mengaduk aduk baksonya, dari kejauhan Edrea tanpa sengaja melihat seseorang tengah berdiri menatap ke arahnya dengan penampilan yang mirip sekali dengan Max.

__ADS_1


"Ki aku pergi dulu ya ada urusan penting... thank you traktirannya..." ucap Edrea sambil bangkit dari duduknya dan berlari begitu saja meninggalkan Kiera yang menatap kepergian Edrea dengan berjuta tanda tanya.


**


Di lorong gedung bagian belakang.


Edrea mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Max karena ia jelas jelas yakin melihat Max masuk ke daerah ini.


"Apakah anda siap untuk melanjutkan tugas selanjutnya?" tanya Max dengan tiba tiba yang lantas mengejutkan Edrea yang sedari tadi mencari keberadaannya.


"Kau mengejutkan ku saja" ucap Edrea sambil mengelus dadanya.


Max yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum kemudian menjentikkan jarinya ke atas dan langsung berteleportasi tanpa menunggu jawaban dari Edrea.


**


Rumah sakit


Edrea dan juga Max lantas berteleportasi di sebuah rumah sakit yang Edrea sendiri tidak tahu di mana keberadaannya. Edrea yang di bawa berteleportasi begitu saja oleh Max lantas di buat bertanya tanya apa maksud dan tujuan Max membawanya ke mari.


"Mengapa hanya ada Max? di mana Barra?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.


"Sudah ikuti saja tak perlu banyak bertanya, ini adalah tugas mu selanjutnya yaitu menjemput arwah seorang dokter yang masih belum menyadari kematiannya." ucap Max menjelaskan dengan singkat detailnya.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut dari arah depan beberapa orang nampak berlarian dengan mendorong brankar yang di atasnya terdapat korban kecelakaan, seorang dokter nampak naik ke atas brankar dan melakukan pompa jantung untuk pasien secara manual dan terus menerus hingga masuk ke dalam IGD.


"Lalu dimana arwah dokter tersebut?" tanya Edrea setelah beberapa orang barusan berlalu melewati dirinya dan Max.


"Dia baru saja lewat, apa kau tidak melihatnya?" ucap Max dengan entengnya.


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2