Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah alasan


__ADS_3

"Apa kau mau bernostalgia dengan datang kemari?" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Barra menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.


Ketika Barra menoleh di saat mendengar suara barusan, Barra yang melihat Fano melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra saat ini lantas langsung membuang mukanya, Barra benar benar tidak mood sekarang jika harus bertengkar maupun bertarung dengan sosok ular hitam yang mendiami tubuh Fano saat ini. Sedangkan Fano yang melihat ekspresi wajah murung milik Barra hanya tersenyum dengan sinisnya kemudian menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah Barra.


"Kau pergilah, aku sedang tidak mood meladeni mu saat ini... anggap saja aku sedang memberi mu bonus kali ini karena membiarkan mu pergi." ucap Barra dengan nada yang lirih namun masih bisa didengar oleh Fano.


Fano tersenyum ketika mendengar ucapan dari Barra barusan, kedatangan Fano ke sini memang bukanlah berniat untuk melakukan serangan. Fano yang sedang mencari mangsanya di sekitaran sini, lantas menghentikan langkah kakinya ketika melihat Barra tengah berdiri dan menatap ke arah pohon besar di taman terbuka hijau ini, membuat Fano dengan perlahan lahan lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra. Entah mengapa, namun rasanya Fano juga sedang tidak ingin melakukan perlawanan saat ini dan malah ikut menatap ke arah pohon besar di hadapannya dan juga Barra itu.


"Aku juga sedang tidak ingin berdebat dengan mu sekarang, jadi mari kita diam dan mengenang masa lalu saja, bukankah hal itu yang tengah kau lakukan di sini sedari tadi?" ucap Fano yang lantas langsung membuat Barra menoleh ke arahnya dan menatap tajam ke arah Fano, namun Fano malah menanggapinya dengan senyuman.

__ADS_1


Barra mendengus kesal ketika mendengar ucapan dari Fano barusan kemudian kembali menatap ke arah depan, dalam pikirannya saat ini cukup Fano diam dan tidak melakukan apa apa, maka Barra juga tidak akan melakukan apa apa. Beberapa menit diam tanpa sepatah kata apapun, membuat sebuah pertanyaan aneh mendadak melintas di benaknya dan langsung membuat Barra menatap ke arah Fano dengan tatapan menelisik. Sedangkan Fano yang merasa tatapan Barra sedikit aneh, lantas langsung menoleh dan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, tapi aku sungguh penasaran akan alasan mu yang menggebu gebu itu ingin membunuh ku, apa aku pernah berbuat salah padamu?" ucap Barra kemudian.


Mendengar pertanyaan dari Barra barusan membuat Fano langsung tersenyum, Fano menarik kembali ingatannya ke masa lalu di mana peradaban belum mulai berkembang. Siluman ular hitam tersebut merupakan salah satu siluman ular hitam terkuat di kala itu biasanya orang orang memanggilnya dengan sebutan Angkara, sosok Angkara yang kuat dan juga tampan membuat seorang Putri cantik dari sebuah kerajaan jatuh cinta dan menjalin tali asmara bersamanya.


Ikatan cinta antara Angkara dan juga Putri itu kian lah membesar dan semakin hari semakin menguat, hingga sebuah berita tentang pernikahan Putri tersebut, membuat Angkara murka dan hendak meluluhlantahkan desa karena Angkara merasa di bohongi oleh Putri dan merasa perasaannya hanya di permainkan saja, namun ketika Angkara melakukan aksinya, air mata yang menetes membasahi wajah si Putri membuat Angkara luluh dan pada akhirnya memaafkan si Putri.


**

__ADS_1


Fano menatap ke arah Barra sekilas, sosok Putri yang sangat di cintainya benar benar menurun pada ketampanan yang di miliki Barra saat ini, ada perasaan yang tenang ketika Fano menatap manik mata milik Barra yang jernih, membuat dirinya kembali mengingat akan masa lalu dan juga kenangannya bersama dengan Putri, namun ketika bayangan pernikahan sang Putri dengan Raja membuat Fano langsung membuang mukanya dan menyudahi tatapannya itu, membuat Barra yang melihat hal tersebut lantas sedikit kebingungan akan perubahan ekspresi dari Fano yang mendadak berubah setelah sepersekian detik terlihat begitu hanyut dan penuh dengan raut wajah yang bahagia.


Barra benar benar yakin bahwa manik mata Fano semula benar benar tengah berbinar seperti memendam kerinduan yang mendalam pada manik mata tersebut, namun detik berikutnya perasaan kerinduan yang tergambar dengan jelas pada manik matanya malah berubah menjadi perasaan penuh amarah sekaligus kebencian kepada dirinya.


"Kau tidak perlu tahu apa alasannya, yang jelas ketika tiba saatnya nanti kau akan mati di tangan ku. Aku juga tidak menginginkan pengulangan itu terjadi karena yang aku inginkan adalah kematian mu!" ucap Fano dengan nada penuh penekanan menatap tajam ke arah Barra saat ini.


Barra yang mendengar ucapan dari Fano barusan bukannya takut atau apa, malah lebih ke penasaran sekaligus bertanya tanya akan arti dari tatapan Fano kepadanya tadi. Barra yakin ada yang mendasari segala hal yang di lakukan oleh siluman ular itu kepadanya, sebuah kebencian tidaklah muncul secara tiba tiba pasti ada sebuah alasan yang mendasarinya dan Barra yakin akan hal itu.


Manik mata keduanya bertemu dalam keheningan sepersekian detik, namun detik berikutnya Fano langsung memutusnya dan melengos seakan enggan untuk menatap Barra saat ini. Fano yang sudah tidak menyukai situasi ini lantas langsung berbalik badan bersiap untuk pergi dan meninggalkan tempat tersebut, namun Barra yang masih penasaran akan alasan kebencian siluman ular hitam itu padanya, lantas langsung mengejar langkah kaki Fano dan berusaha menghentikannya, membuat Fano yang mendapat sentuhan di area bahunya langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika dan menatap ke arah Barra dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dari ku?" ucap Barra kemudian sambil menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Fano.


Bersambung


__ADS_2