Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Ada sesuatu yang aneh


__ADS_3

Cafe


Terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi, seulas senyum terbit dari wajah Edrea ketika mengingat tingkah konyol Barra dan juga Mira yang seakan akan benar benar bisa menghibur hatinya yang kini terasa sunyi dan penuh kekosongan, apalagi setelah kepergian Sita yang seakan mengubah seluruh dunia Edrea.


Edrea terus melangkahkan kakinya melewati bagian kasir dan berpapasan dengan pelayan cafe, ada satu hal menarik yang lantas membuat Edrea menghentikan langkah kakinya ketika berpapasan dengan pelayan cafe tersebut, sebuah aura gelap nampak menyelimuti wajah pucat pelayan itu yang lantas membuat Edrea bertanya tanya sekaligus penasaran akan apa yang terjadi dengan pelayan tersebut.


Edrea yang sudah terlanjur melihatnya, tentu tidak akan bisa mengacuhkannya begitu saja. Hingga pada akhirnya Edrea yang semula hendak pergi ke kamar mandi malah berbalik dan menghampiri pelayan tersebut dengan langkah kaki yang bergegas. Di pegangnya pundak pelayan tersebut yang langsung menghentikan langkah kaki pelayan tersebut, namun di detik itu juga aura gelap yang menyelimuti pelayan itu mendadak hilang dan seperti di bawa angin, benar benar lenyap tak berbekas.


Pelayan itu menolehkan kepalanya perlahan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung, begitu juga Edrea tepat ketika aura itu menghilang dari gadis itu, selama beberapa detik keduanya saling berpandangan dengan manik mata yang kebingungan.


"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu mbak?" tanya Indri kepada Edrea dengan tatapan yang penasaran karena Edrea hanya diam saja dan terus menatapnya dengan intens tanpa mengatakan sesuatu.


"Eh maaf... apa kamu baik baik saja? wajahmu begitu pucat, apa kamu sedang sakit?" tanya Edrea kemudian.


Mendengar pertanyaan dari Edrea barusan, membuat Indri hanya tersenyum sekilas ke arah Edrea kemudian menggeleng dengan perlahan yang menandakan bahwa ia baik baik saja.


"Saya baik baik saya mbak, cuman memang agak kurang enak badan." ucap Indri dengan ramah.


"Jangan terlalu di paksakan, sebaiknya kamu ijin pulang saja." ucap Edrea memberikan saran kepada Indri.


"Terima kasih banyak mbak atas perhatiannya, saya permisi dulu." ucap Indri yang di balas Edrea dengan anggukan kepala kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Edrea di sana dengan raut wajah yang masih penasaran.

__ADS_1


Edrea menatap kepergian Indri dengan tatapan yang kebingungan kemudian berbalik badan dan meneruskan langkah kakinya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa Edrea yakin ada sesuatu dengan gadis itu, tapi ketika Edrea benar benar datang dan melihatnya semuanya tampak normal dan tidak ada sesuatu apapun, membuat Edrea hanya bisa kebingungan sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.


"Mungkin hanya perasaan ku saja." ucap Edrea sambil berlalu pergi.


Setelah langkah kaki Edrea berlalu pergi dari sana, sebuah gumpalan asap terlihat membumbung membentuk sosok pria bermata merah yang menatap kepergian Edrea dengan senyum yang sinis, seakan ia merasa senang karena telah berhasil mengelabui Edrea dan membuatnya pergi tanpa mengetahui keberadaannya.


Apakah dia selalu sebodoh itu? ternyata apa yang aku dengar tentang penguasa Stasiun Pemberhentian hanya bualan semata, jika pelayannya saja seperti itu... tentu tuannya tidak akan jauh berbeda bukan?


ucap sosok tersebut sambil masih menatap kepergian Edrea dari sana dengan tatapan yang meremehkan.


Setelah sosok itu tidak lagi melihat punggung Edrea di sana, sosok itu perlahan lahan mulai berbalik badan hendak mengejar kembali Indri dan menempel di tubuhnya. Hanya saja ketika ia mulai berbalik badan seorang sosok pria berwajah tegas nan garang nampak terlihat menatapnya dengan tatapan yang aneh, membuat sosok tersebut lantas kebingungan akan siapa sosok yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang tajam.


Siapa kau?


Kau Barra?


Ucap sosok roh itu dengan raut wajah yang terkejut karena sosok yang ia bicarakan tiba tiba saja muncul di hadapannya seperti ini.


"Apa aku perlu memperkenalkan diri padamu dulu? aku rasa itu tidak penting karena roh pendendam seperti mu harusnya sudah di lenyapkan sejak dulu!" ucap Barra dengan nada penuh penekanan membuat sosok itu langsung ketar ketir ketika mendengarnya.


Barra yang melihat sosok itu terdiam lantas tanpa membuang waktu lagi langsung melesat ke arah sosok roh tersebut dan mencengkeramnya dengan erat, membawanya hingga tersudut tepat di sudut tembok cafe. Sosok itu yang mendapat serangan tiba tiba dari Barra tentu saja terkejut bukan main. Ada ketidak seimbangan kekuatan yang terjadi antara Barra dan juga sosok tersebut, sehingga membuat sosok roh itu tidak bisa lagi berkutik sedikitpun ketika Barra mencengkram lehernya dengan erat.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu? bukankah kau tadi meremehkan ku?" ucap Barra dengan nada yang menyindir sedangkan sosok itu hanya bisa meringis kesakitan menahan serangan dari Barra.


**


Kamar mandi


Edrea yang baru saja menyelesaikan panggilan alamnya, terlihat mencuci tangannya di wastafel sambil menatap ke arah cermin, bayangan akan gadis pelayan tadi benar benar membekas di ingatan Edrea. Entah mengapa Edrea masih sangat yakin ada sesuatu yang aneh dengan gadis itu, hanya saja Edrea tidak tahu apa itu. Edrea menghela nafasnya dengan panjang kemudian menghentikan gerakannya.


"Apa dia sedang di ikuti oleh arwah atau semacamnya? ah benar benar menyebalkan... karena tingkah kepo mu itu Rea kau selalu saja berurusan dengan hal hal yang tidak kau inginkan, sepertinya aku memang harus menguranginya sedikit demi sedikit." ucap Edrea sambil mengibaskan tangannya dan membereskan rambutnya sebentar kemudian bersiap untuk keluar dari kamar mandi.


Dengan langkah kaki yang perlahan Edrea kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi sambil membersihkan tangannya yang basah dengan tisu dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan santainya ia terus melangkahkan kakinya kembali menuju meja di mana Barra dan juga Mira yang saat ini mungkin tengah menunggunya.


Hanya saja, sebuah suara tak asing mendadak terdengar di pendengarannya tepat ketika ia melewati ruangan cafe tepat di sebelah dapur. Edrea yang tidak terlalu yakin dengan apa yang di dengarnya, lantas melangkahkan kakinya mendekat sambil mengernyitkan dahinya dengan bingung dan membuka telinganya lebar lebar.


"Apa yang terjadi padamu? bukankah kau tadi meremehkan ku?" ucap Barra dengan nada yang menyindir sedangkan sosok itu hanya bisa meringis kesakitan menahan serangan dari Barra.


"Barra? sedang berbicara dengan siapa dia?" ucap Edrea pada diri sendiri bertanya tanya.


Edrea yang mulai penasaran lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sumber suara dan berhenti tepat di belakang Barra yang kini terlihat dalam posisi tengah memunggunginya.


"Apa yang kamu lakukan Bar?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2