Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Berusaha membujuk


__ADS_3

Sementara itu beberapa menit sebelum Mira mulai mengeksekusi arwah Ardi.


"Wil kecoh gadis itu agar tidak mengganggu pekerjaan kita, lakukan apa saja untuk memancing perhatiannya." ucap Mira kemudian memberi perintah kepada Wili.


"Tentu Madam, saya permisi..." ucap Wili sambil melangkahkan kakinya melenggang pergi untuk melaksanakan tugas yang baru saja di berikan oleh Mira.


Setelah kepergian Wili dari sana, Mira lantas mulai memperhatikan gerak gerik arwah Ardi di mana terlihat cahaya kehitaman semakin memenuhi sosok arwah tersebut. Diliriknya sekilas ke arah Edrea sambil menunggu waktu gadis itu teralihkan fokusnya.


Hanya saja, baru beberapa detik Mira melirik ke arah Edrea sosok arwah Ardi terlihat mulai bergerak dan menempel tepat di punggung pria yang menjadi selingkuhan calon istrinya. Mira yang melihat Ardi mulai bertindak, lantas langsung melesat tanpa perduli lagi dengan Edrea dan juga Wili.


"Apa yang akan kau lakukan ha?" ucap Mira sambil menarik leher arwah Ardi agar terlepas dari tubuh pria tersebut.


Ardi yang tadinya hendak mempengaruhi pria tersebut agar melangkahkan kakinya ke jalan raya, lantas sedikit terkejut ketika tiba tiba ada seseorang yang menariknya dengan paksa.


"Siapa kau? jangan ikut campur dengan urusanku!" teriak arwah Ardi dengan nada yang terdengar marah.


Mira yang memang sudah terbiasa mengurus beberapa arwah yang membelot, lantas dengan tersenyum sinis mencengkram leher Ardi dan membawanya berteleportasi agak menjauh dari pria tersebut.


"Akh" teriak Ardi merintih kesakitan.


Baik Ardi dan juga Mira lantas terlibat perang dingin dan saling tatap satu sama lain. Hingga ketika Mira hendak mengeksekusi arwah tersebut mendadak terdengar suara teriakan dari arah tak jauh dari posisi keduanya.


"Jangan!" teriak Edrea ketika melihat hal tersebut.


"Sialan!" ucap Mira dengan nada yang menahan amarahnya.


Mira yang mendengar teriakan tersebut, lantas melepaskan cengkraman tangannya kemudian menjentikkan jarinya pelan untuk membuat segel agar arwah Ardi tidak bisa pergi kemanapun dan tetap pada tempatnya.


"Kau jangan ikut campur! dia sudah menjadi urusan kami."ucap Mira dengan nada yang sinis.

__ADS_1


"Tidak bisa begitu saja, aku mohon jangan lakukan hal itu..." ucap Edrea dengan nada yang memohon kepada Mira, sedangkan tubuhnya di hadang oleh Wili dan juga Riko agar tidak bisa mendekat ke arah Ardi dan juga Mira.


"Kau manusia bisa apa ha? sudah cukup kau mengacaukan pekerjaan kami." ucap Mira dengan nada yang dingin.


"Beri aku waktu beberapa menit untuk berbicara dengannya, jika memang tidak ada yang berubah kau boleh membawanya pergi bersama mu." ucap Edrea kemudian mencoba meyakinkan Mira.


Wili yang juga ikut mendengar ucapan dari Edrea, lantas langsung melirik ke arah Mira seakan menunggu perintah dari Mira.


"Baiklah lakukan sesuka mu, aku akan memberi mu waktu beberapa menit." ucap Mira pada akhirnya dengan nada yang meremehkan.


Wili dan juga Riko yang mendengar ucapan dari Mira barusan, lantas langsung bergeser dan memberikan jalan untuk Edrea agar bisa mendekat ke arah arwah Ardi.


Edrea menghela nafasnya perlahan kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardi.


"Lepaskan aku!" teriak Ardi dengan mata yang sudah merah menyala sedangkan tubuhnya di tutupi cahaya yang berwarna hitam pekat.


"Tenangkan lah dirimu, apa kamu tidak ingat tujuan mu meminta bantuan? kita bahkan belum bertemu ibumu... apa kamu ingin semuanya menjadi sia sia?" ucap Edrea dengan nada yang lebih lembut.


Mira yang melihat tubuh arwah Ardi semakin tertutup akan cahaya kehitaman lantas tersenyum dengan sinis.


"Persiapkan diri kalian dan bawa arwah tersebut sebentar lagi." ucap Mira memberi perintah kepada Wili dan juga Riko.


"Baik Madam" ucap Wili dan juga Riko hampir bersamaan.


Sedangkan Edrea yang melihat tubuh Ardi terus tertelan, ia lantas tidak berputus asa dan terus memutar otaknya.


"Aku memang tidak mengerti rasa sakitnya, tapi bukankah ibumu lebih penting dari pada semua ini? Ibumu kini pasti tengah bersedih ketika mendengar tentang kabar kematian mu, apa kau sungguh akan membuang waktu dengan percuma dan hanya melakukan sesuatu yang sia sia dan melewatkan kesempatan tidak bisa bertemu dengan ibumu untuk terakhir kalinya?" ucap Edrea lagi.


Arwah Ardi yang semula penuh dengan dendam dan amarah, lantas langsung terdiam seketika di saat mendengar ucapan dari Edrea barusan, setetes air mata terlihat menetes dari mata Ardi ketika ia kembali teringat akan ibunya, bersamaan dengan hal itu perlahan lahan cahaya kehitaman yang menyelimuti tubuh arwah Ardi mulai terlihat menyusut dan mengecil, membuat Mira dan juga kedua ajudannya lantas terkejut bukan main ketika melihat hal tersebut.

__ADS_1


"Apakah aku masih bisa bertemu dengan ibuku?" tanya Ardi kemudian dengan nada yang lirih sementara tubuhnya sudah berangsur angsur kembali normal seperti sebelumnya tanpa adanya cahaya hitam pekat di sekitarannya.


"Tentu saja, aku akan mengantar mu sekarang juga." ucap Edrea dengan tersenyum ke arah Ardi.


Ardi yang mendengar ucapan Edrea tentu saja sangat senang dan langsung menganggukkan kepala tanda setuju akan ucapan dari Edrea. Ardi kemudian lantas bangkit dari posisinya dan mengusap air matanya dengan senyum yang mengembang karena bahagia sekaligus senang bisa bertemu ibunya untuk yang terakhir kalinya.


Edrea yang melihat Ardi sudah kembali normal, lantas langsung melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Mira.


"Aku sudah melakukannya, sekarang tepati janjimu dan biarkan aku pergi membawanya." ucap Edrea kemudian.


**


Sementara itu Barra terlihat tengah melangkahkan kakinya memasuki sebuah mansion yang terletak di tengah tengah perkebunan yang terhampar dengan luas di kanan dan kirinya.


Barra melangkahkan kakinya memasuki area mansion mencari keberadaan Ibu di sana. Hingga kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dengan anggunnya menikmati secangkir teh di tangannya.


"Bu..." panggil Barra kemudian.


Mendengar suara yang tak asing di pendengarannya, lantas langsung membuat Ibu meletakkan cangkir teh yang ia pegang di atas meja.


"Akhirnya kamu datang juga Bar..." ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Barra.


"Ibu tahu aku akan datang?" tanya Barra dengan bingung ketika mendengar ucapan dari ibu barusan.


"Tentu saja Ibu tahu, bukankah kau datang ke sini punya maksud dan tujuan tertentu?" ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Ada sesuatu yang mengganggu pikiran ku beberapa hari ini bu? apakah Ibu juga mengetahui akan hal itu?" ucap Barra sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ibu dan mengambil duduk di sampingnya.


"Tentu, terkadang sebuah kejadian besar yang terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa depan. Dan aku rasa kamu harus siap dalam mengatasi hal itu walau kamu tidak menginginkannya." ucap Ibu lagi dengan nada bicara yang lembut.

__ADS_1


"Maksud Ibu?"


Bersambung


__ADS_2