
"Saya sudah berhasil mengetahui tempatnya tuan"
Ucap sosok tuyul tersebut yang langsung membuat seseorang di kursi tersebut mulai memutar kursinya dan menatap ke arah sosok hantu tuyul tersebut dengan tersenyum senang.
"Aku sudah tahu lewat sorot matamu itu, kerja yang bagus..." ucap sosok pria tersebut yang tidak lain adalah Fano.
Setelah melaksanakan tugasnya, sosok hantu tuyul tersebut perlahan lahan mulai menghilang dari pandangannya dan hanya menyisakan Fano seorang diri di sana di dalam kegelapan ruangan tersebut.
Fano yang melihat sosok hantu tuyul tersebut sudah pergi, lantas bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah jendela dan mulai menatap rembulan malam kala itu.
"Aku tidak menyangka kau menutupi aura gadis itu agar tidak tercium oleh ku, saking fokusnya terhadap ku kau sampai melupakan tentang setan setan kecil yang tidak akan kau duga duga bahwa mereka adalah suruhan ku... hahahahahaha" ucap Fano pada diri sendiri dengan tawa yang menggema memenuhi ruang kerjanya malam itu.
***
Keesokan paginya
Pagi ini Kiera yang memang sedang ada kelas pagi itu, lantas langsung melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota pagi hari menuju ke arah kampus, butuh waktu hampir satu jam lebih bagi Kiera untuk sampai di kampus karena jalanan pagi itu yang begitu padat dan macet, untung saja Kiera selalu memajukan keberangkatannya sehingga kemacetan atau hal lainnya sama sekali tidak akan mengganggu atau mempengaruhi jam kelasnya di mulai atau membuatnya telat.
"Ah syukurlah masih ada waktu 15 menitan sebelum kelas di mulai..." ucap Kiera dalam hati sambil memarkirkan mobilnya ke parkiran kampus.
Kiera kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan menuju ke arah kelasnya, ketika ia sudah hampir setengah jalan tidak jauh dari tempatnya berada Kiera melihat Edrea tengah melangkahkan kakinya juga menyusuri lorong kelas pagi itu.
Kiera yang melihat Edrea si sana, tentu saja langsung berlarian mendekat ke arahnya dan langsung memeluknya dari arah belakang karena memang hal itu sudah menjadi salah satu kebiasaan untuk dirinya jika bertemu dengan Edrea.
"Rea!" pekik Kiera sambil merangkul bahu Edrea dari arah belakang.
Edrea yang terkejut akan rangkulan tangan yang tiba tiba dari Kiera, lantas langsung menatap dengan datar ke arah Kiera, membuat Kiera yang baru ingat bahwa hubungannya dan juga Edrea sedikit merenggang, perlahan lahan terlihat mulai menurunkan tangannya dari bahu Edrea.
"Maaf... aku tadi hanya spontan saja..." ucap Kiera dengan nada yang menyesal karena tidak bisa mengontrol dirinya.
"Sudahlah, tidak perlu terus terusan meminta maaf aku mulai jenuh mendengarnya..." ucap Edrea dengan nada yang datar, membuat Kiera langsung terdiam seketika.
__ADS_1
"Apa kamu..." ucap Kiera kemudian hendak kembali bertanya namun ucapannya keburu terpotong ketika mendengar ponselnya berbunyi.
Edrea yang juga mendengar suara ponsel tersebut, lantas sedikit melirik sekilas ke arah sebelah.
Secara singkat namun juga samar samar Edrea seperti melihat nama seseorang yang sangat ia kenal namanya tertulis dengan jelas di sana, membuat Edrea berdecak dengan kesal karena lagi lagi dia yang selalu saja merusak suasana.
"Aku pergi dulu ya... kelas ku hampir di mulai." ucap Kiera kemudian setelah mengecek isi dari pesan singkat di ponselnya.
"Iya pergilah..." ucap Edrea dengan nada yang ketus.
Kiera yang mendengar nada ketus Edrea, sama sekali tidak marah dan malah tersenyum ke arah Edrea kemudian berlalu pergi menuju ke arah kelas sambil melambaikan tangan kepada Edrea.
"Kelas.. kelas.. dan kelas... tinggal bilang dari Fano aja susah amat... sok sokan.. katanya mau baikan tapi mengapa mereka masih berhubungan?" gerutu Edrea tepat setelah kepergian Kiera dari sana.
Di saat Edrea tengah ngedumel tidak jelas ketika kembali terbayang akan nama Fano yang tertera pada layar ponsel milik Kiera, sekelebat bayangan tertangkap pada ekor mata Edrea yang langsung dengan spontan membuatnya menoleh ke arah sumber bayangan tersebut.
"Aneh... kok gak ada sih.. perasaan tadi aku yakin ada sesuatu di sana..." ucap Edrea sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ketika ia menoleh untuk memastikan bayangan tersebut, di area sana sama sekali tidak ada apapun kecuali mahasiswa yang sedang asyik berlalu lalang menuju kelasnya.
***
"Ah syukurlah Edrea tidak melihat ku, jika aku sampai terlihat pasti perempuan itu akan mengomel dan mencari tahu apa yang sedang aku kerjakan saat ini." ucap Max sambil bernafas lega karena bisa terbebas dari tatapan elang milik Edrea.
Hingga kemudian...
"Memangnya kamu sedang mengerjakan apa?" tanya Edrea kemudian tepat dari arah belakang Max.
Max yang mendengar ucapan Edrea barusan, lantas perlahan lahan mulai berbalik dan menatap ke arah Edrea.
"Aku hanya sedang menjalankan tugas tidak lebih." ucap Max beralasan.
"Jika hanya itu... mengapa kamu sampai menggunakan mode menghilang ketika aku melihatmu?" ucap Edrea yang tidak langsung percaya akan ucapan dari Max barusan.
__ADS_1
"Em .. itu... itu... aku sedang bersembunyi agar tidak tertangkap oleh kamera pengawas saat sedang bertugas." ucap Max lagi berdalih.
"Oh ya?" ucap Edrea lagi dengan manik mata yang menelisik.
"Tentu saja" jawab Max sambil membenarkan ikatan dasinya yang entah mengapa terasa sedikit mengikat dan sesak, apa karena ia tengah gugup dan takut ketahuan oleh Edrea saat ini?
"Kalau begitu kemari kan iPad mu agar aku bisa melihat siapa kali ini." ucap Edrea lagi sambil menengadahkan tangannya.
Sedangkan Max yang mendengar permintaan dari Edrea barusan, lantas langsung terdiam seketika sambil menelan salivanya dengan kasar karena bingung harus berbuat apa.
"Sini iPadnya biar ku lihat!" ucap Edrea lagi kali ini dengan nada yang sedikit meninggi membuat Max mau tidak mau memberikan iPadnya kepada Edrea.
"Semoga saja aku melakukan hal yang benar." ucap Max dalam hati ketika melihat iPad tersebut sudah berada di tangan Edrea saat ini.
Edrea yang berhasil mendapatkan iPad tersebut, lantas di buat terkejut akan apa yang di lihat olehnya saat ini.
Nama : Kiera Larasati
Ttl : Jakarta, 15 Oktober 2000
Kode : Putih
Penyebab kematian : Di serap energi yang ia miliki hingga habis tidak tersisa
"Apa... apaan ini?" ucap Edrea saking terkejutnya sambil terus menggeser layar iPad tersebut berharap apa yang ia lihat bukanlah sebuah kenyataannya.
"Jangan coba coba untuk bertindak sesuatu yang gegabah karena ini di luar kekuasaan mu." ucap Max memperingati Edrea.
Edrea yang sedari tadi sibuk menggeser layar iPad, lantas kemudian menghentikan gerakan tangannya ketika sebuah bayangan tentang ingatannya beberapa menit yang lalu sebelum Kiera meninggalkannya di lorong.
"Jangan bilang ini...."
__ADS_1
Bersambung