
"Edrea!" ucap Barra dengan spontan sambil memegang area dadanya dengan erat mencoba untuk menahan rasa berdenyut di area dadanya.
Barra yang sadar sesuatu terjadi kepada Edrea, lantas langsung menegakkan tubuhnya secara perlahan kemudian menyentuh pohon besar itu sambil memejamkan matanya. Sebuah cahaya berwarna putih lantas terlihat keluar dari dalam pohon besar tersebut tepat ketika Barra memejamkan matanya. Hingga beberapa detik kemudian tubuh Barra yang semakin di bawa masuk oleh cahaya berwarna putih itu, lantas perlahan-lahan menghilang dari sana beriringan dengan hilangnya cahaya berwarna keputihan itu.
Seorang anak-anak yang tidak sengaja melewati area pohon itu, lantas terkejut karena sosok Barra yang tiba-tiba menghilang dari sana.
"Mama... paman itu menghilang dan masuk ke dalam pohon, Mama... Mama.." ucap anak kecil tersebut sambil menarik baju ibunya yang terlihat tengah sibuk membeli siomay pada salah satu pedagang kaki lima yang berjualan tidak jauh dari area taman.
"Kamu jangan bercanda nak, ini sudah malam sebaiknya kita pulang saja. Bukankah kamu ingin makan siomay?" ucapnya sambil menggendong anak kecil tersebut karena merasa ucapan anaknya semakin melantur saja.
"Tapi Ma..." ucap anak kecil tersebut hendak membantah namun langsung buru-buru di potong olehnya yang mulai merasa merinding berada di tempat ini berlama-lama.
"Sudah-sudah jangan membahasnya lagi!" ucapnya kemudian berlalu pergi dari sana setelah mengambil kembalian.
***
Di sebuah hutan
Barra yang berhasil masuk ke dalam pohon besar tersebut. Lantas terlihat langsung menatap ke arah sekeliling mencoba untuk mencari keberadaan Edrea di sekitaran sana. Barra mencoba memejamkan matanya sambil mencari keberadaan Edrea di hutan ini dengan kekuatannya, dan tidak berapa lama Barra berhasil menemukan keberadaan Edrea yang lantas membuatnya langsung membuka kelopak matanya dengan lebar.
"Aku menemukannya!" ucap Barra dengan nada yang datar kemudian langsung berteleportasi ke tempat di mana Edrea tengah berada saat ini.
**
__ADS_1
Setelah berteleportasi ke tempat di mana Edrea berada, Barra yang seperti tidak asing akan tempat ini lantas terlihat menatap ke arah sekeliling sambil berusaha mencari sosok Edrea di sekitaran sana. Hingga beberapa kali menyusuri area sekitar, pandangan mata Barra terhenti pada sebuah punggung seseorang yang tengah duduk di atas batu besar dengan posisi membelakanginya tepat disebelah pohon besar yang sama dengan yang berada di taman kota.
"Rea apa yang kamu lakukan disini? Aku bahkan sangat khawatir kepadamu, tapi kamu malah bersantai di sini seperti ini. Tidakkah kamu memikirkan perasaan ku?" ucap Barra dengan nada yang kesal.
Edrea yang mendengar pertanyaan tersebut bukannya menjawab malah hanya terdiam di tempatnya. Manik mata milik Edrea terlihat mengkilap terkena kilauan cahaya bulan purnama merah saat itu, tapi bukan manik mata milik Edrea yang terlihat melainkan manik mata ular yang terlihat begitu mengkilap ketika tersorot dengan sinar rembulan. Seulas senyum terbit dari wajah Edrea ketika mendengar derap langkah kaki Barra kian mendekat ke arahnya.
"Kamu sudah datang Bar sss..." ucap Edrea kemudian dengan di akhiri desisan yang lantas membuat Barra langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika karena merasa ada yang aneh dengan Edrea saat ini.
"Apa terjadi sesuatu Rea?" tanya Barra lagi mencoba untuk mengajak bicara Edrea seakan tengah mencari tahu apa yang salah.
Barra terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada saat ini sambil berusaha untuk melihat ke arah Edrea karena sedari tadi Edrea hanya memunggungi saja, membuat Barra semakin merasa penasaran akan apa yang tengah terjadi kepada Edrea.
Barra yang semakin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya ketika ia mulai merasa apa yang terjadi saat ini seperti layaknya sebuah pengulangan di masa lalu. Di mana dahulu Barra juga sedang melakukan hal yang sama ketika sosok nyimas terlihat hanya diam saja kala itu tanpa menyahuti ataupun menanggapi ucapan dari Barra.
Barra terdiam di tempatnya dan tidak ingin melanjutkan langkah kakinya mendekat ke arah Edrea. Barra benar-benar bimbang, jika memang hari ini adalah waktunya Barra sama sekali tidak ingin itu terjadi, sehingga ia terlihat diam di tempatnya dan enggan untuk melanjutkan langkah kakinya.
Edrea yang mengetahui Barra tidak mau mendekat ke arahnya, lantas langsung tersenyum dengan sinis kemudian tertawa, membuat Barra langsung terkejut ketika mendengar tawa tersebut berasal dari Edrea.
"Apa kau takut kejadian di masa lalu terulang kembali Bar?" ucap Edrea sambil bangkit dari posisinya dan menatap tajam ke arah Barra.
Sosok Edrea benar-benar berbeda 180 derajat dari biasanya. Manik matanya yang berubah warna selayaknya manik mata ular bercampur dengan perubahan kulit leher Edrea yang terlihat seperti bersisik disaat cahaya rembulan menyorot jelas ke arahnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan dengan Edrea?" pekik Barra kemudian dengan nada yang tidak suka apalagi setelah melihat perubahan yang signifikan terhadap Edrea.
__ADS_1
"Ini adalah takdirnya, jika ia tidak ingin menjemput takdirnya maka aku lah yang datang menjemputnya!" ucap Edrea dengan tersenyum senang sambil sesekali mendesis seperti layaknya seekor ular pada umumnya.
"Jangan pernah bermimpi!" ucap Barra dengan spontan menyangkal ucapan dari Edrea.
"Oh ya? Kalau begitu mari kita buktikan!" ucap Edrea dengan tersenyum menyeringai.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut Edrea langsung melesat ke arah Barra dan mencengkeramnya dengan erat, membawa tubuh Barra hingga berpuluh-puluh meter dengan kecepatan yang tinggi. Barra yang mendapat serangan mendadak tentu saja meringis menahan rasa sakit akibat cengkeraman tangan Edrea kepadanya.
"Ada apa Bar? Apakah seorang Barra sudah tidak lagi berdaya dan lemah?" ucap Edrea dengan tertawa senang sambil terus membawa Barra melesat.
Barra yang sudah tidak tahan lagi akan tingkah dari sosok yang mendiami tubuh Edrea, lantas langsung memberikan tekanan pada area dada Edrea hingga membuat Edrea langsung terhempas cukup jauh dari posisi semula. Sedangkan Barra mencoba untuk menghentikan laju tubuhnya yang juga ikut terhempas karena tekanan yang baru saja ia berikan kepada Edrea.
Melihat sosok Edrea terjatuh dalam posisi terlentang di tanah, membuat Barra langsung melesat dan ganti mencengkram leher Edrea dengan kuat tepat sebelum Edrea bangkit dari posisinya.
"Bukankah kau terlalu meremehkan ku Siluman?" ucap Barra dengan tersenyum meremehkan.
Namun di luar dugaan Sosok tersebut malah ikut tersenyum ketika menanggapi ucapan Barra barusan, membuat Barra sedikit kebingungan akan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh sosok ular tersebut.
"Apa yang sedang kau tunggu Bar? Ayo keluarkan belati mu dan akhiri segalanya hari ini!" teriak Edrea dengan tawa yang menantang, namun berhasil membuat Barra tertegun seketika karena pada akhirnya ia tahu apa yang hilang dari dirinya selama ini.
"Belati!"
Bersambung
__ADS_1