Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sudah terlanjur jauh


__ADS_3

"Semoga saja cara ini berhasil." ucap Edrea kemudian melempar batu ditangannya dengan keras.


Batu yang dilempar oleh Edrea melayang jauh masuk dan memecahkan kaca jendela rumah Fano, membuat Edrea langsung mengambil langkah kaki seribu dan bersembunyi di balik pohon menunggu Fano keluar.


Cetar...


Satu menit....


Dua menit....


Hingga kemudian terlihat pintu rumah Fano mulai terbuka dan memunculkan Fano yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari sana untuk mengecek suara apa barusan. Melihat hal tersebut, Edrea yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan lantas membuat Edrea langsung berteleportasi ke dalam rumah Fano kembali ke ruangan santai di rumah tersebut.


Di langkahkan kakinya mendekat ke arah lukisan tersebut, dengan raut wajah yang penasaran Edrea mulai menatap ke arah lukisan tersebut dengan seksama sambil terus berpikir dan mencari tahu apa yang salah dalam lukisan tersebut sehingga terus saja mengganggunya.


Edrea yang terus menatap dan fokus menatap ke arah gua yang ada di dalam lukisan tersebut, lantas tanpa sadar mulai mengarahkan tangannya hendak menyentuh lukisan tersebut. Hanya saja ketika tangannya mulai bergerak dan menyentuh lukisan tersebut, mendadak tubuh Edrea seperti terasa langsung ditarik masuk ke dalam lukisan tersebut. Membuat Edrea yang sama sekali belum bersiap akan hal itu lantas hanya bisa mengikuti arah tarikan tanpa bisa melawan sama sekali.


***


Stasiun pemberhentian


Barra yang terlihat tengah menyandarkan punggungnya sebentar pada kursi kebesarannya, lantas terlihat menatap lurus ke arah depan seakan seperti tengah memikirkan sesuatu. Max yang melihat tuannya sedang beristirahat hendak berbalik badan dan mengurungkan niatnya untuk memberikan laporan, namun sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya lantas langsung menghentikan langkah kaki Max yang hendak keluar dari sana.

__ADS_1


"Apa yang membuat mu berbalik badan? Kemarilah dan katakan!" ucap Barra namun masih dengan posisi yang sama.


Mendengar suara tersebut berasal dari Barra lantas membuat Max kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra berada.


"Ini hanya masalah perijinan saja tuan, jika anda masih istirahat saya akan kembali lagi nanti." ucap Max kemudian.


Barra yang mendengar jawaban tersebut lantas hendak memperbaiki posisinya, hanya saja ketika Barra mulai bangkit dari posisi bersandarnya sebuah penglihatan yang datang dengan tiba-tiba. Barra terdiam sejenak dalam posisinya mencoba mencerna penglihatan yang baru saja masuk ke dalam pikirannya. Hingga setelah beberapa menit terdiam dalam posisinya Barra langsung dengan spontan menatap tajam ke arah depan, membuat Max lantas terkejut sekaligus bertanya-tanya akan maksud dari tatapan tajam Barra kepadanya.


"Bukankah sudah ku katakan untuk jangan pergi!" ucap Barra dengan nada yang datar membuat Max menjadi semakin kebingungan ketika mendengar perkataan dari Barra barusan.


"Pergi kemana tuan? Apakah saya melupakan sesuatu tuan?" tanya Max dengan tatapan yang bingung sambil mencoba mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang ia lupakan.


Mendengar perkataan dari Max membuat Barra langsung menoleh ke arah Max sambil memijit pelipisnya dengan pelan karena mendadak berdenyut ketika Barra memikirkan tentang tingkah laku Edrea yang semakin hari semakin ada-ada saja, membuat Barra tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Edrea agar membuatnya mengerti apa yang tidak dan juga boleh untuk dilakukan.


"Apa anda butuh bantuan tuan?" ucap Max kemudian menawarkan bantuan kepada Barra yang terlihat sedang terburu-buru.


Walau Max tidak terlalu tahu akan urusan yang di maksud oleh Barra, namun setidaknya mungkin tenaganya bisa berguna untuk Barra. Sedangkan Barra yang mendengar tawaran dari Max langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap ke arah Max.


"Tidak perlu, ini hanya tentang Edrea yang selalu saja membuat masalah. Mungkin aku akan pergi agak lama jadi urus segalanya selama aku pergi." ucap Barra sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Max dengan tatapan yang bertanya-tanya tentang perkataan Barra barusan.


***

__ADS_1


Di sebuah hutan


Edrea yang baru saja ditarik masuk ke dalam lukisan, mendadak di bawa ke sebuah hutan yang tidak asing baginya, di mana tepat dihadapannya Edrea melihat sebuah gua yang bagian dalamnya begitu gelap dan tentu saja menakutkan bagi Edrea.


Edrea menelan salivanya dengan kasar begitu menatap ke arah sekelilingnya yang hanya terdapat pepohonan dan juga ranting kayu dimana-mana. Dengan perasaan yang aneh Edrea terus menatap ke arah sekitaran dengan tatapan yang bertanya-tanya, Edrea terlihat bingung sekaligus bimbang apakah ia harus masuk ke dalam gua tersebut atau tidak.


"Harusnya aku mendengarkan Barra saja kemarin, mengapa aku dongkol banget sih?" ucap Edrea sambil menggigit bibir bagian bawahnya sambil merutuki kembali kebodohannya.


Namun bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur dan disinilah Edrea berdiri saat ini, mau tidak mau Edrea harus tetap maju karena ia sudah pergi terlalu jauh hingga sampai ke tempat ini, lagi pula Edrea juga tidak tahu bagaimana dan dimana jalan keluar untuknya pulang keluar dari hutan ini. Dengan membulatkan tekadnya Edrea mulai mengambil nafas dengan panjang bersiap untuk masuk ke dalam gua dan mencari tahu apakah jiwa Fano tersimpan di dalamnya atau tidak.


Dengan langkah yang perlahan Edrea mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gua tersebut sambil mencoba meraba sekeliling karena suasana gua yang begitu gelap dan tak terlihat apapun di sana. Sambil melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah Edrea masuk semakin dalam pada gua tersebut sambil terus meraba ke arah sekitaran takut jika Edrea menginjak ular atau sejenisnya. Hingga kemudian sebuah suara benda yang terdengar nyaring karena ia injak lantas mengejutkan Edrea hingga membuatnya terjingkat seketika.


Klontang


"Oh astaga!" ucap Edrea sambil mengelus dadanya karena terkejut.


Dalam kegelapan Edrea mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar mencoba mencari ke arah sumber suara, namun sayangnya tidak ada siapapun di sana dan hanya ada kesunyian yang menyapanya. Edrea bergeser sedikit ke sebelah karena ia yakin suara tersebut mungkin berasal dari sebongkah kayu atau semacamnya. Hingga ketika kakinya seakan seperti menyentuh sebatang kayu, sambil menunduk dengan raut wajah yang girang Edrea langsung mengambil kayu tersebut dan memegangnya dengan erat.


Sambil memfokuskan pikirannya ke arah kayu tersebut, Edrea mencoba untuk menyalakan api menggunakan energi yang dimiliki olehnya. Hingga tidak beberapa lama kemudian kayu yang sedang ia pegang pada bagian ujungnya keluar cahaya terang seperti barra api dan langsung menerangi area sekitarnya.


"Berhasil!" ucap Edrea dengan gembira.

__ADS_1


"Mengapa kau selalu saja berbuat sesuka hatimu ha?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea terkejut seketika disaat mendengarnya.


Bersambung


__ADS_2