
Kiera yang menatap Barra membawa Edrea pergi sari hadapannya, hanya bisa terdiam sambil menatap ke arah kepergian keduanya. Semenjak Kiera mengetahui siapa sebenarnya Barra entah mengapa Kiera sedikit merasa takut pada sosok Barra, namun anehnya disisi lain didalam hatinya Kiera seperti mengatakan bahwa Barra tidak akan melukai Edrea, sehingga Kiera memilih diam saja ketika melihat Barra membawa Edrea pergi darinya.
Helaan nafas terdengar keluar dari mulut Kiera setelah punggung Edrea dan juga Barra tidak lagi terlihat pada pandangannya.
"Semoga saja firasat ku benar tentang Barra, jika sampai Edrea terluka karena Barra... aku pasti akan menjadi seseorang yang paling menyesal di dunia ini karena membiarkan Edrea dekat dengan sosok Barra." ucap Kiera pada diri sendiri kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya meneliti sebuah lukisan untuk tugas yang diberikan oleh Reno.
***
Sementara itu Barra yang sedari tadi menarik tangan Edrea, setelah melangkahkan kakinya keluar dari Galeri seni tersebut Barra terlihat menghentikan langkah kakinya. Ditatapnya raut wajah Edrea dengan tatapan yang tidak biasa, membuat Edrea sedikit kebingungan akan maksud dari tatapan Barra kepadanya.
"Ada kasus arwah hilang dan aku ingin kamu menyelesaikannya." ucap Barra kemudian yang langsung membuat Edrea melongo ketika mendengarnya.
"Tunggu sebentar, kamu datang jauh-jauh dari Stasiun Pemberhentian hanya untuk mengatakan ini kepadaku? Ayolah Bar... kau bahkan tahu sendiri jika kasus arwah yang hilang tidaklah semudah itu diselesaikan." ucap Edrea dengan nada yang menggerutu.
Sedangkan Barra yang mendengar jawaban dari Edrea barusan lantas menghela nafasnya dengan panjang kemudian menjentikkan jari tangannya dan memunculkan sebuah iPad di sana, membuat Edrea lantas mendengus dengan kesal ketika melihat iPad andalan tersebut.
"Untuk itu aku meminta mu menyelesaikannya, lagi pula tugas mencari arwah yang hilang lebih cocok dikerjakan oleh manusia seperti mu yang bisa merasakan kehadiran mereka di dunia ini ketimbang kami." ucap Barra sambil memberikan iPad tersebut kepada Edrea.
Sambil memutar bola matanya dengan jengah, Edrea kemudian menerima iPad tersebut dan mulai menggeser satu persatu informasi yang tertera pada layar iPad tersebut. Beberapa kali menggeser dan membaca informasi tentang sosok arwah yang hilang tersebut dengan ogah-ogahan, tidak beberapa lama jari tangannya lantas terhenti pada sebuah fakta yang mengatakan bahwa sosok tersebut merupakan seorang pelukis semasa hidupnya.
"Aku seperti pernah membaca nama ini, tapi dimana ya? Steven Fernando... Steven Fernando..." ucap Edrea pada diri sendiri sambil mengingat-ingat dimana Edrea pernah melihat atau mendengar nama tersebut.
__ADS_1
Cukup lama Edrea mencoba mengingat tentang nama tersebut, membuat Barra mulai menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat Edrea begitu serius memikirkan tentang sosok arwah yang hilang.
"Tak perlu terburu-buru, aku tidak menyuruh mu menyelesaikannya saat ini juga, kamu hanya..." ucap Barra namun terpotong ketika melihat raut wajah bahagia Edrea yang menatap ke arahnya.
"Aku tahu!" ucap Edrea dengan girang membuat Barra langsung menatapnya dengan bingung karena perubahan ekspresi wajah Edrea yang begitu cepat.
Dengan raut wajah yang gembira Edrea mulai menceritakan kepada Barra bahwa salah satu karya lukisan dari Steven ada di Galeri seni ini. Edrea benar-benar yakin karya seni yang di pajang di dalam adalah milik Steven. Edrea juga menceritakan tentang kejanggalan yang ia rasakan ketika pertama kali datang ke tempat ini dan langsung disuguhkan dengan sosok gumpalan asap berwarna hitam keabuan yang terus menarik pelanggan agar mendekat ke arah lukisan tersebut.
Edrea memang belum melihat lukisan tersebut sepenuhnya karena tarikan tangan dari Kiera yang tiba-tiba ditambah lagi dengan kehadiran Barra yang secara mendadak, membuat Edrea gagal melihatnya. Untung saja Edrea sempat melihat sebuah papan yang bertuliskan nama pada lukisan tersebut beserta senimannya, membuat Edrea tahu bahwa lukisan yang mengandung aura aneh milik Steven Fernando.
Kini tanpa melihat secara langsung lukisan tersebut, Edrea sudah mulai bisa mengurai untaian benang yang kusut. Karena ternyata aura aneh yang menyelimuti lukisan tersebut berasal dari sang pelukis sendiri dimana rohnya kabur setelah tepat kematiannya dan masuk ke dalam karya seninya.
"Apa kamu yakin?" tanya Barra kembali memastikan ucapan dari Edrea barusan.
"Jika kamu tidak percaya, aku bisa menunjukkan lukisan tersebut di dalam. Aku yakin sejak pertama melangkahkan kaki kemari kamu pasti juga merasakan ada aura tidak enak yang berkeliaran di dalam Galeri seni ini." ucap Edrea masih dengan tersenyum simpul.
"Kalau begitu tunjukkan sekarang." ucap Barra kemudian yang ikut penasaran setelah mendengar ucapan dari Edrea barusan.
Edrea yang mendengar permintaan dari Barra tentu saja langsung membalasnya dengan anggukan kepala kemudian setelah itu menggandeng tangan
Barra dan melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam dan menunjukkan kepada Barra tentang lukisan yang ia maksud tadi. Hanya saja ketika Edrea baru berbalik badan, ia yang tidak tahu ada beberapa orang yang tengah menggotong sesuatu, lantas hampir menabrak beberapa orang tersebut jika tangan Barra tidak cekatan menarik tubuh Edrea dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Edrea yang menabrak dada bidang milik Barra lantas terdiam seketika di tempatnya. Jantungnya mendadak berdetak dengan kencang disertai raut wajah yang bersemu merah. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba datang menggelitik tubuhnya ketika Barra memeluknya dengan erat seperti ini, membuat tubuhnya langsung mematung seketika.
Sedangkan Barra yang tidak sadar wajah Edrea kini tengah bersemu merah, lantas hanya menatap ke arah beberapa orang yang tadi hampir menabrak Edrea dengan tatapan yang aneh. Entah mengapa Barra seperti merasakan ada sesuatu disaat mereka berpapasan namun detik berikutnya menghilang dan lenyap.
"Se.... sebaiknya kita segera masuk dan melihat lukisan tersebut." ucap Edrea kemudian sambil melepas pelukan Barra namun dengan posisi kepala yang menunduk karena malu.
Setelah mengatakan hal tersebut Edrea langsung menyelonong begitu saja meninggalkan Barra, membuat Barra langsung menatap bingung ketika melihat tingkah Edrea yang seperti itu.
"Tunggu aku Rea!" ucap Barra kemudian sambil melangkahkan kakinya mengejar Edrea yang lebih dulu masuk.
***
Galeri seni
Edrea dan juga Barra yang baru masuk, lantas terlihat terdiam sambil menatap ke arah tembok kosong dimana di papan bagian atasnya tertulis 'sebuah karya by Steven Fernando'.
"Tadi lukisannya masih ada bahkan banyak orang yang berkerumun di sini, tapi..." ucap Edrea dengan tatapan yang bingung.
"Aku sudah menduganya." ucap Barra dengan nada yang datar membuat Edrea langsung menatap bingung ke arahnya.
Bersambung
__ADS_1