
Ruangan Barra
Barra yang terus melihat Edrea yang sedari tadi menangis tanpa henti hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, kepala Barra kini bahkan sudah terasa berdenyut sedari tadi karena terus terusan mendengar tangisan Edrea yang sedari tadi meraung raung dan terus menyebut nama nek Darsih di sela sela tangisnya.
Barra melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea kini tengah duduk sambil menangis tersedu sedu di sofa.
"Sudahlah, apa yang sebenarnya kau tangisi sih? lagi pula kematian itu adalah hal yang wajar, semua orang pasti akan mati pada waktu yang telah di tentukan." ucap Barra dengan nada yang santai sambil menyodorkan sekotak tisu baru untuk Edrea karena tisunya yang lama sudah di habiskan dengan bersih oleh Edrea.
"Huaa.... kau tidak mengerti... bukankah nasib nek Darsih sungguh kasihan?" ucap Edrea masih menangis sambil mengambil satu lembar tisu dan mulai membuang ingusnya secara kasar, membuat Barra yang di sebelahnya lantas langsung menatap Edrea dengan tatapan yang geli dan jorok.
"Sudah sudah tidak perlu menangis lagi karena bekas ingus mu itu sudah memenuhi ruangan ku!" ucap Barra lagi dengan nada yang datar, tapi berhasil membuat Edrea berhenti menangis dan langsung menatap ke arah sekitaran.
"Aku sudah membuat ruangan mu kotor ya? maaf..." ucap Edrea sambil menghisap ingusnya dengan kuat.
"Jika kau sudah sadar maka hentikan tangis mu itu, apakah kamu tidak lelah menangis sedari tadi? lihatlah mata mu kini bahkan sudah hampir mirip dengan mata ikan, bulat dan menonjol." ucap Barra sambil memperagakan bentuk mata ikan, yang langsung membuat Edrea mencebikkan mulutnya karena kesal akan ejekan dari Barra barusan.
"Benar benar menyebalkan!" ucap Edrea yang lantas membuat Barra tersenyum simpul ketika melihat ekspresi wajah Edrea.
****
Keesokan harinya
Arhan yang baru saja selesai kelas, lantas langsung menghentikan langkah kakinya yang hendak pergi menuju ke arah kantin, notifikasi pesan pada ponselnya mendadak berbunyi.
"Fano? tumben ngechat gue, ada apa?" ucap Arhan sambil mulai membuka pesan singkat yang di kirimkan oleh Fano kepadanya.
Arhan yang tadinya bingung, perlahan lahan raut wajahnya mulai berubah ketika melihat sebuah foto serta vidio dirinya dan juga kekasihnya yang sedang berhubungan panas di ruang kesehatan.
__ADS_1
"Apa apaan ini?" pekik Arhan yang terkejut bahwa Fano mengetahui apa yang telah kekasihnya dan Arhan lakukan di ruang kesehatan.
Datanglah ke gudang belakang jika kau tidak ingin vidio panas mu menyebar ke seluruh kampus!
Arhan yang mendapat kembali pesan singkat tersebut, tentu saja langsung emosi dan kesal akan kelakuan dari Fano yang menurutnya sama sekali tidaklah lucu.
**
Gudang
Arhan yang sudah terlanjur emosi, lantas melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki area gudang untuk mencari keberadaan Fano di sana.
Dalam pikiran Arhan benar benar sangatlah khawatir sekaligus kesal, jika Fano benar benar menyebarkan vidio panas tersebut, maka reputasinya sebagai senior di kampus ini akan tercoreng dan kemungkinan terburuknya ia akan di DO dari kampus karena telah melakukan tindakan asusila di lingkungan kampus.
"Di mana kamu? jangan bermain main dengan ku kau! kau kira kau siapa ha? keluar!" teriak Arhan begitu ia sampai di dalam gudang dengan kondisi gudang yang gelap gulita tanpa penerangan sama sekali kecuali hanya sinar mentari yang masuk melewati celah celah kaca jendela dan kusen pintu di area gudang itu.
Wusshh...
Ketika Arhan tengah sibuk mencari sumber suara desisan tersebut, sebuah bayangan di tengah gelapnya ruangan gudang terlihat melesat dengan cepat menuju ke arah Arhan, membuat Arhan menjadi terkejut akan kehadiran sosok tersebut yang datang dengan tiba tiba.
"Kau!" ucap Arhan dengan nada yang terkejut.
"Bagaimana? apakah rasanya menyenangkan melakukan olahraga panas bersama dengan Naina kekasih mu?" ucap Fano sambil tersenyum menyeringai menatap ke arah Arhan.
"Apa maksud mu melakukan ini padaku? aku bahkan tidak pernah sama sekali mencampuri urusan mu Fan?" ucap Arhan dengan nada yang ketus sambil mendorong tubuh Fano, namun tidak cukup kuat untuk membuat Fano hingga berpindah posisi dari tempatnya, membuat Arhan yang baru saja mendorong Fano merasakan sesuatu yang aneh, karena tubuh Fano yang tiba tiba saja terasa kaku dan berat hingga ia tidak mampu mendorongnya.
"Apa yang membuat mu begitu terkejut ha?" ucap Fano kemudian dengan nada yang menggoda, membuat Arhan langsung mundur perlahan ketika ia baru menyadari bahwa sosok di hadapannya bukanlah Fano yang ia kenal.
__ADS_1
"Sialan!" ucap Arhan hendak berlari dan kabur dari sana, namun tidak bisa karena tubuhnya mendadak kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Perlahan lahan tubuhnya mulai melayang dan kembali mendekat ke arah Fano tanpa bisa Arhan melawannya sama sekali, hingga kemudian Fano mulai mencengkram lehernya dan tersenyum menatap ke arah Arhan di tengah gelapnya area gudang tersebut.
"Biar ku tunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi untuk mu!" ucap Fano kemudian sambil tersenyum menyeringai, membuat Arhan hendak berontak dan melarikan diri namun sayangnya tidak bisa.
Secara cepat energi milik Arhan di serap hingga habis oleh Fano, membuat Arhan hanya bisa menatap ke arah atas sambil menganga dengan mata yang melotot, layaknya orang yang terkena sakaratul maut.
Hingga setelah energi Arhan terserap dengan sempurna dan hanya menyisakan tulang dan kulitnya saja, barulah Fano melepaskan cengkeramannya begitu saja.
"Lumayan, energi seseorang yang menyimpan penuh amarahnya terasa sangat lezat..." ucap Fano dengan senyum yang mengembang kemudian berteleportasi dan menghilang dari sana menyisakan Arhan yang sudah menjadi mayat tua dan juga keriput.
***
Sementara itu keesokan harinya
Penemuan mayat di gudang belakang kembali menggemparkan seluruh mahasiswa di sana. Banyak mahasiswa yang ketakutan karena adanya satu persatu korban yang meninggal tanpa alasan yang jelas.
Edrea yang baru saja datang dan juga penasaran akan berita yang di bicarakan oleh Kiera di telpon, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menyusuri area lorong menuju ke arah di mana Kiera berada.
Hanya saja ketika Edrea melangkahkan kakinya di lorong kampus, ia tanpa sadar berpapasan dengan Jaya yaitu seorang anggota polisi yang beberapa waktu lalu menangani kasus pertama tentang kematian aneh di kampus ini.
Jaya yang merasa tidak asing akan sosok dari Edrea, lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah, sedangkan Edrea yang memang tidak menyadari kehadiran Jaya, hanya terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
"Mengapa aku seperti tidak asing dengan gadis itu?" ucap Jaya pada diri sendiri.
Bersambung
__ADS_1