
Edrea yang melihat seorang pemuda tampan berbaju kerajaan di dalam unit Apartment tersebut, kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah sosok tersebut sambil menatapnya dengan raut wajah yang penasaran.
"Siapa kamu? mengapa kamu ada di sini? kemana sosok roh pendendam itu?" tanya Edrea dengan bertubi tubi.
Sedangkan sosok tersebut yang mendapat berbagai pertanyaan dari Edrea, lantas bangkit dari posisinya kemudian mendekat ke arah Edrea sambil mengulum senyum yang begitu teduh dan menghipnotis siapapun yang melihatnya.
"Akulah sosok dari roh pendendam itu, apakah saat ini sudah tiba waktunya?" tanya sosok pemuda tersebut.
Edrea yang mendengar ucapan dari sosok pemuda tersebut langsung terdiam seketika, Edrea kini bahkan tengah berpikir dengan keras bagaimana mungkin sosok roh pendendam abadi berubah kembali ke wujud aslinya begitu saja. Hingga sebuah ingatan tentang sosok arwah Ardi beberapa waktu lalu yang bisa kembali berubah menjadi wujud aslinya setelah melewati beberapa bujukan dan teringat akan sosok Ibunya, Edrea kemudian menyadari satu hal bahwa apa yang terjadi dengan sosok pemuda tersebut kemungkinannya juga sama seperti yang terjadi dengan sosok arwah Ardi beberapa waktu lalu.
"Iya kamu benar, aku diperintahkan untuk menjemput mu menuju ke tempat keberangkatan saat ini." ucap Edrea kemudian sambil terus berusaha menerka nerka apa yang tengah terjadi.
"Apakah Indri juga akan berangkat bersama ku?" tanya sosok pemuda tersebut dengan raut wajah yang penasaran.
Edrea yang mendengar pertanyaan dari sosok pemuda tersebut langsung mengangguk perlahan sambil tersenyum, membuat sosok pemuda itu lantas berbinar dan bahagia karena perjalanannya selama beratus tahun lamanya kini akan berakhir dengan bahagia.
Edrea yang melihat manik mata berbinar milik pemuda tersebut entah mengapa ikut merasa bahagia walau Edrea sama sekali tidak berkontribusi apapun dalam kasus kali ini. Dengan perasaan yang ikut bahagia Edrea mulai menuntun sosok pemuda tersebut untuk melangkahkan kakinya menuju ke tempat keberangkatan di mana Indri dan juga yang lainnya menunggu kedatangan sosok roh pendendam yang telah berubah menjadi pemuda tampan yang saat ini sedang berdiri di belakangnya.
***
Tempat keberangkatan
Terlihat Barra, Mira dan juga sosok arwah Indri tengah menanti kedatangan Edrea dan juga sosok roh pendendam tersebut datang.
__ADS_1
Tak tak tak
Sebuah suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik terdengar menggema di pendengaran ketiganya yang lantas membuat tiga orang tersebut dengan spontan menatap ke arah sumber suara. Pandangan mata Mira dan juga Barra terhenti pada sosok pemuda tampan berbaju kerajaan yang kini terlihat tengah melangkahkan kakinya dengan pasti di belakang Edrea saat ini.
"Di mana sosok roh pendendam itu?" tanya Barra ketika melihat Edrea menghentikan langkah kakinya dihadapan mereka.
"Dia di sini" jawab Edrea kemudian sambil menggeser posisinya dan menunjuk ke arah sosok pemuda tampan di belakangnya.
Mendengar ucapan Edrea barusan membuat Mira dan juga Barra langsung terkejut, mereka berdua benar benar tidak menyangka bahwa sosok roh penunggu kayu yang sudah menjadi roh pendendam selama bertahun tahun bisa berubah menjadi sosok pemuda tampan.
"Bagaimana bisa?" ucap Mira dengan pandangan mata yang bingung dan hanya di balas Edrea dengan gelengan pelan.
"Ternyata ini yang di maksud oleh Ibu, ya aku mengerti sekarang." ucap Barra dalam hati sambil menatap ke arah sosok pemuda tersebut.
Indri terdiam menarik jauh ke belakang sambil mengingat ingat di mana ia pernah bertemu dengan sosok pemuda tersebut, hingga setelah beberapa detik kemudian Indri yang seperti mendapat sebuah ingatan entah dari mana datangnya mendadak langsung mengingat segala hal yang berkaitan dengan sosok tersebut dan langsung tersenyum menatap ke arah sosok tersebut.
"Kanda...." ucap Indri dengan tiba tiba.
Mendengar sebuah suara barusan membuat semua orang lantas langsung menatap ke arah Indri secara bersama sama. Sedangkan sosok pemuda itu yang mendengar panggilan dari Indri hanya tersenyum simpul menatap ke arah Indri. Dengan langkah yang perlahan sosok pemuda tersebut lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Indri.
"Mari kita pergi bersama..." ucap sosok pemuda tersebut sambil tersenyum ke arah Indri yang dibalas Indri dengan senyum pula.
Dengan tangan yang saling bertautan keduanya melangkah bersama sama menaiki gerbong kereta api bersiap untuk berangkat menuju ke alam atas. Tak lama setelah keduanya naik ke dalam, pintu gerbong tersebut mulai tertutup dengan kereta yang mulai melaju membawa keduanya pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
__ADS_1
Semua orang yang menyaksikan kepergian keduanya entah mengapa merasa terharu, seakan ikut merasakan penantian panjang yang dilakukan oleh pemuda itu pada akhirnya kini berbuah dengan manis. Edrea dan Mira bahkan tanpa sadar sampai berpelukan ketika melepas kepergian dua sosok tersebut.
Hanya saja semua perasaan haru dan juga bahagia yang di rasakan oleh Mira serta Edrea nyatanya sama sekali tidak membuat Barra tersenyum dan iku hanyut ke dalamnya, yang ada perasaan over thinking dan juga rasa khawatir mendadak memenuhi ruang hatinya tepat ketika kepergian dua sosok arwah tersebut. Barra yang sedang tidak merasa baik lantas langsung berbalik badan hendak melangkah pergi ke arah ruangannya.
"Jangan terlalu lebai begitu, lebih baik kalian berdua kembali bekerja karena banyak kasus penjemputan arwah yang harus diselesaikan." ucap Barra sambil menghentikan langkah kakinya sebentar dan menatap ke arah Mira dan juga Edrea kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan keduanya.
Mendengar nada bicara dingin dari Barra membuat Edrea dan juga Mira langsung melepas pelukannya dan saling pandang satu sama lain sambil menatap ke arah kepergian Barra baru saja.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Edrea kemudian.
"Entah" ucap Mira karena memang ia sama sekali tidak tahu akan perubahan sikap Barra saat ini.
**
Ruangan Barra
Setelah mengantar kepergian sosok roh pendendam dan juga Indri naik ke atas, segala pikiran mendadak berkecamuk di dalam kepala Barra, pikiran Barra melayang jauh membayangkan segala hal yang akan terjadi pada kisahnya dan juga Edrea. Jika memang penantian sosok roh kayu itu berbuah dengan manis, akankah akhir kisahnya sama dengan sosok roh kayu tersebut atau malah sebaliknya?
Helaan nafas bahkan terus terdengar berhembus dari mulut Barra ketika semua pikiran seakan menghantam kepalanya tanpa memberinya celah sama sekali.
"Apa kamu sudah belajar sesuatu dari kisah ini? ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Barra yang sedari tadi tengah melamun.
Bersambung
__ADS_1