
Kediaman Edrea
Sepulang dari kampus Edrea langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja di ranjang empuk miliknya, ditatapnya langit langit kamar dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana.
Bayangan bagaimana Barra menikam dadanya benar benar membekas di ingatan Edrea dan kembali membuat dadanya berdenyut. Edrea meraba area dada dengan perasaan yang sendu dan gundah gulana, Edrea benar benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya saat ini.
"Bukankah harusnya aku marah? tapi mengapa rasanya aku sangat sedih? apakah karena aku yang akhir akhir ini merasa dekat dengannya sehingga timbul suatu perasaan dalam diriku?" ucap Edrea pada diri sendiri bertanya tanya sambil masih meraba area dadanya.
"Aku rasa bukan? jika ini perasaan cinta, maka aku pasti akan tetap marah sama seperti yang aku rasakan ketika melihat Fano dan juga Kiera, hanya saja perasaan yang aku rasakan kepada Barra benar benar berbeda, membuat aku seperti sangat tersiksa dan memendam berjuta juta kesedihan yang aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya." ucap Edrea lagi sambil merubah posisinya secara perlahan menjadi miring ke arah samping.
Edrea yang tadinya merasakan perasaan sedih yang teramat kuat, mendadak jadi terkejut ketika ia menoleh ke samping dan melihat sosok hantu anak anak berkepala botak sedang tertawa menatap ke arahnya.
"Oh astaga tuyul..." ucapnya dengan spontan sambil melempar bantal tidurnya ke arah tuyul itu, hanya saja langsung menembus tubuh sosok tersebut dan tidak bisa mengenainya.
Hihihihihi....
Hihihihi...
"Pergi gak kau dari sini! pergi gak..." teriak Edrea sambil bangkit berdiri dan mengejar tuyul tersebut agar pergi dari kamarnya.
Edrea kini sudah benar benar kebal melihat sosok mereka yang sering muncul secara tiba tiba di hadapannya, tidak ada lagi perasaan takut ataupun ngeri, yang ada kini hanyalah perasaan biasa seperti layaknya bertemu dengan manusia pada umumnya walau terkadang bentuk mereka yang abstrak dan tidak lagi beraturan Edrea tetap akan berusaha tenang dan bersikap biasa saja. Bukankah jika kita takut, itu akan menjadi makanan mereka?
Edrea terus berlari dan berlari mengejar sosok tuyul tersebut hingga hampir memutari ruangan kamarnya, namun langkah kaki sosok tersebut begitu cepat dan tidak bisa di jangkau oleh Edrea.
Hingga sebuah ketukan pintu dari luar kamarnya mulai terdengar dan menghentikan langkah kakinya.
Tok tok tok
"Apa ada sesuatu Rea?" ucap Sita sambil terus mengetuk pintu kamar Edrea karena terkejut akan teriakan Edrea sedari tadi.
"Tenang aja Oma, Edrea hanya sedang mengejar kecoa kecil yang nakal... Oma santai saja..." teriak Edrea dari dalam kamarnya sambil menatap tajam ke arah sosok tuyul tersebut, namun sosok itu malah tertawa dengan lebar seakan tidak merasa bersama sekali karena tengah mengerjai Edrea.
"Apa kamu yakin? mau Oma bantu tangkap kecoanya?" ucap Sita lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu Oma, Rea bisa..." jawab Edrea sambil diiringi tawa garing.
"Baiklah... Oma pergi nih.." ucap Sita lagi.
"Iya Oma.." ucap Edrea lagi.
Setelah menunggu beberapa menit dengan keheningan, barulah Edrea kembali menatap tajam ke arah sosok hantu tersebut yang kini terlihat sedang menatapnya seperti orang gila serta menyeringai dengan mulut yang lebar.
"Sudah... aku sudah benar benar lelah pergi sana kau..." ucap Edrea kemudian sambil menjentikkan jarinya dan sosok hantu tuyul tersebut langsung menghilang seketika dari pandangannya.
"Bagus" ucap Edrea kemudian sambil melangkahkan kakinya ke arah ranjang dan langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja ke ranjang kesayangannya.
Di tengah perasaan sedih, kesal dan juga lelah karena mengejar sosok hantu tuyul tersebut, Edrea lantas mulai memejamkan matanya secara paksa dan menimpanya dengan tangan agar ia bisa terpejam.
"Mungkin tidur akan sedikit mengurangi perasaanku yang sedang kacau..." ucap Edrea kemudian dengan mata yang tetap terpejam.
***
Ruangan Barra
Tok tok tok
Tepat setelah ucapannya terdengar hingga luar, pintu masuk terlihat mulai terbuka secara perlahan dan menampilkan sosok Max yang terlihat masuk dan melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah di mana Barra berada.
"Tuan" panggil Max yang lantas menghentikan aktivitas Barra yang tengah mengecek beberapa dokumen tentang arwah yang hendak dalam proses pemberangkatan.
"Ada apa?" tanya Barra kemudian sambil menatap ke arah Max yang terlihat tengah menatap ke arah Barra dengan serius.
"Saya mendapat pesan dari sistem akan kematian seseorang yang akan mengisi gerbong putih, hanya saja ada yang aneh dalam pesan tersebut. Tulisan yang muncul terlihat sangat samar, terkadang muncul namun terkadang juga menghilang, penyebab kematiannya pun tidak terlalu terlihat dengan jelas, apakah sistem sedang rusak saat ini tuan?" ucap Max menjelaskan apa yang ia lihat sambil menyodorkan iPad ke arah Barra untuk ia lihat.
Nama : Kiera Larasati
Ttl : Jakarta, 15 Oktober 2000
__ADS_1
Kode : Putih
Penyebab kematian : Di serap energi yang ia miliki hingga habis tidak tersisa
Barra yang melihat layar iPad muncul dan hilang, lantas terlihat tersenyum dengan tipis kemudian kembali memberikan iPad tersebut kepada Max.
"Ini bukan karena sistem yang rusak ataupun eror melainkan kematian yang berubah." ucap Barra dengan nada yang datar namun malah membuat Max kebingungan ketika mendengarnya.
"Apa maksud anda tuan?" tanya Max dengan raut wajah yang penasaran.
"Em ini bisa terjadi ketika seseorang yang seharusnya mati namun gagal karena seseorang menyelamatkannya. Bisa di artikan ia selamat dari maut karena pertolongan orang tersebut." ucap Barra kembali menjelaskan.
"Jika orang ini selamat namun mengapa namanya tertulis pada sistem kematian?" tanya Max lagi yang masih tidak mengerti.
"Hidup mati seseorang memang ada di tangan Sang Pencipta, namun untuk mereka... bisa atau tidaknya mereka melanjutkan hidup tergantung kepada si penolong tersebut, mungkin jika dalam persentase lima puluh banding lima puluh." ucap Barra lagi.
"Lalu apa yang harus saya lakukan jika seperti ini tuan?" tanya Max kembali.
"Kamu lakukan saja tugas mu, tetaplah datang dan pantau segala hal yang terjadi dengan syarat jangan pernah kamu ikut campur akan segala hal yang kamu lihat nantinya." ucap Barra kemudian.
"Baik tuan saya mengerti... kalau begitu saya permisi dulu." ucap Max kemudian yang di balas Barra dengan anggukan kepala.
***
Di sebuah tempat dengan nuansa yang gelap tanpa penerangan dari cahaya lampu di sana.
Sesosok tuyul yang tadi mengganggu Edrea, terlihat melangkahkan kakinya masuk ke sebuah ruangan kerja seseorang menembus pintu ruangan tersebut dengan santainya.
Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sebuah bayangan seseorang tengah duduk bersandar di sebuah kursi kerja.
"Saya sudah berhasil mengetahui tempatnya tuan"
Ucap sosok tuyul tersebut yang langsung membuat seseorang di kursi itu, memutar kursinya dan menatap sosok hantu tuyul tersebut dengan tersenyum senang.
__ADS_1
Bersambung