
Di sebuah ruangan tanpa ventilasi dengan ukuran 5x10 meter, terlihat Edrea menggeliat seperti seekor ikan yang berada di daratan. Sedangkan di hadapannya Dora yang mengenakan masker atau topeng wajah terlihat menikmati permainan ini dengan raut wajah yang bahagia sambil terus tertawa seakan ia begitu menyukai tontonan dihadapannya ini tanpa rasa belas kasihan sama sekali.
Hingga kemudian sebuah cahaya nampak terlihat muncul melesat tepat di depan Dora dan detik berikutnya kamera pengawas yang ia pasang pada tiang di ruangan tersebut jatuh dan meledak begitu saja, membuat Dora lantas terkejut akan hal tersebut. Dora yang terlihat marah karena kamera pengawasnya rusak lantas langsung mendekat ke arah rekaman kamera pengawas tersebut.
Tanpa sepengetahuan Dora, ketika ia sibuk dengan kamera pengawasnya yang hancur sosok Barra terlihat muncul tepat di dekat Edrea dan langsung menggendongnya ala bridal style membawa Edrea keluar dari ruangan penuh gas beracun tersebut.
"Bar...ra" panggil Edrea dengan nada yang tersendat.
***
Barra berteleportasi ke sebuah Rumah Sakit ternama di Ibukota dimana di sana Mira sudah menanti kedatangannya. Diletakkannya tubuh Edrea di atas kursi roda dengan hati-hati.
"Bawa dia ke ruang tindakan dan pastikan nyawanya tertolong!" ucap Barra memberikan perintah kepada Mira agar segera membawa Edrea menuju ke arah ruangan UGD.
"Aku mengerti" ucap Mira.
Setelah mengatakan hal itu Mira lantas mendorong kursi roda tersebut menuju ruangan UGD dengan langkah kaki yang cepat agar Edrea segera mendapat pertolongan pertama. Sedangkan Barra terlihat tengah menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangannya mengepal dengan erat seakan menahan amarahnya ketika melihat keadaan Edrea yang seperti itu. Entah mengapa Barra merasa sangat marah dan juga kesal kepada seseorang yang telah membuat Edrea hingga seperti itu.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" ucap Barra dengan nada yang penuh penekanan.
__ADS_1
Setelah memastikan Edrea sudah mendapatkan tindakan, barulah Barra langsung berteleportasi kembali ke ruangan tersebut dimana ia pertama kali menemukan Edrea yang sudah terbaring lemas di sana.
**
Di sebuah ruangan dengan ukuran 5x10 meter, terlihat Dora tengah menggerutu dengan kesal karena mendapati kamera pengawas yang ia pasang untuk merekam segala kejadian di ruangan tersebut malah rusak dan tidak lagi berbentuk. Sepertinya Dora belum terlalu sadar jika Edrea sudah menghilang dari sana karena saking fokusnya kepada kamera pengawasnya yang rusak dan jatuh dengan tiba-tiba saat itu.
Hingga ketika suasana di ruangan tersebut tiba-tiba menjadi gelap dan terang karena lampu ruangan tersebut yang mati dan hidup. Membuat Dora langsung menatap ke arah sekitaran dan baru menyadari jika Edrea sudah tidak ada di sana saat ini. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Dora terkejut seketika dan langsung mencari keberadaan Edrea di sana. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sesosok pria tampan dengan wajah yang tegas terlihat berdiri di sudut ruangan dengan tatapan yang mengerikan, namun sama sekali tak membuat Dora gentar sedikitpun akan kehadirannya.
"Siapa kau? Apa yang kamu?" ucap Dora dengan nada yang meninggi seakan tengah menantang sosok pria tersebut yang tentu saja adalah Barra.
Mendapat pertanyaan tersebut Barra lantas tersenyum dengan menyeringai, sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dora Barra terlihat terus menatapnya dengan tatapan yang intens.
"Jangan bercanda, kau pikir kau dewa?" ucap Dora dengan nada yang mengejek.
"Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepadamu!" ucap Barra dengan nada yang mengejek.
Setelah mengatakan hal tersebut Barra lantas langsung melesat ke arah Dora dan mencengkram kerah bajunya dengan erat. Barra membawa Dora berteleportasi ke sebuah bangunan yang terbengkalai dan langsung menyudutkannya ke tembok, membuat Dora yang mendapat serangan secara mendadak tentu saja langsung terkejut seketika.
Barra melempar masker topeng yang digunakan oleh Dora dengan kekuatannya kemudian menatap dengan tajam ke arah Dora, membuat nyali Dora menjadi ciut ketika mendapat tatapan tajam dari Barra barusan.
__ADS_1
"Kalian manusia serakah yang memanfaatkan kelemahan orang sebagai bahan ladang pekerjaan kalian, sudah sepantasnya kalian mati dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kalian selama di dunia ini!" ucap Barra dengan nada yang penuh penekanan.
Mendengar ucapan Barra barusan membuat Dora lantas terdiam sambil merasakan rasa sakit yang menjalar di area lehernya. Hingga kemudian seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Dora, membuat Barra lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung akan maksud dari senyuman Dora itu.
"Oh ya? Jika kau memang dewa kematian bunuh saja aku! Aku yakin di dalam sistem kalian ti..dak akan diperboleh...kan untuk menghabisi nyawa seorang manusia, kau.. Melakukan ini hanya untuk membuat ku bertobat bukan!" ucap Dora sambil menahan rasa sakit di lehernya.
Sedangkan Barra yang mendengar ucapan Dora barusan tentu saja dibuat semakin marah dan juga kesal. Dipukulnya tembok yang berada tepat di belakang Dora hingga tembok tersebut hancur dan membuat tubuh Dora limbung menggelinding sejauh beberapa meter saja. Dora yang baru saja terjatuh lantas mencoba untuk bangkit secara perlahan sambil mengambil sebuah racun di saku celananya dan meminumnya dengan cepat.
Barra yang melihat hal tersebut lantas langsung melesat dengan cepat dan berhenti tepat di sebelah Dora. Membuat Dora yang mengetahui Barra sedang melesat ke arahnya lantas tertawa dengan kencang menatap ke arah Barra yang berada tepat di atasnya.
"Hahahahaha kau tidak akan bisa membunuh ku karena aku akan pergi terlebih dahulu sebelum kau melakukan hal itu padaku!" ucap Dora dengan tawa yang terdengar menggema.
Mendengar hal tersebut Barra lantas terdiam sejenak menatap ke arah Dora kemudian tersenyum sambil mengambil posisi berjongkok dan menatap ke arah Dora dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membuat Dora lantas hanya bisa menatap dengan tatapan yang bingung ke arah Barra saat ini.
"Jika kau memang memilih jalan ini lakukan saja! Biar aku yang akan menonton mu hingga ajal mu mendekat, bukankah hal ini juga kau lakukan ketika membuat vidio kematian orang lain?" ucap Barra dengan nada yang mengejek ke arah Dora.
Sedangkan Dora yang mendengar ucapan dari Barra barusan tentu saja terkejut. Apa yang dikatakan oleh Barra barusan bukanlah hanya sebuah bualan saja. Bayangan tentang bagaimana ia mengambil vidio para korbannya mendadak terlintas dibenaknya dan berputar dengan cepat membuatnya seperti langsung bisa melihat kilas balik kehidupannya. Hingga kemudian sebuah darah segar lantas terlihat keluar dari mulutnya, sepertinya racun itu tengah bereaksi padanya saat ini.
"Sialan kau!" ucap Dora sambil menahan gejolak rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung