
Setelah mendapat perintah dari Barra untuk mengajari Edrea kembali hingga mengerti, pada akhirnya Max kembali mengenalkan kepada Edrea satu persatu tata cara dan juga prosedur yang di gunakan di dunia pemberhentian bagi para arwah ini.
Edrea dan juga Max terlihat melangkahkan kakinya menyusuri setiap gerbong kereta yang menunggu pemberangkatan menuju ke alam akhirat.
Setelah Max menjelaskan kembali secara singkat segala hal tentang stasiun ini namun dalam konteks yang mendetail, Max kemudian lantas menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Edrea sambil bersendekap dada.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau ketahui tentang dunia ini." tanya Max sambil menatap ke arah Edrea.
Edrea yang mendengar pertanyaan tersebut lantas terdiam, seakan tengah berpikir pertanyaan apa yang akan ia tanyakan kepada Max kali ini.
"Em.. apa ya?" ucap Edrea dengan lirih sambil terus berpikir, sampai pada akhirnya sebuah pertanyaan lantas terlintas di benak Edrea secara tiba tiba, membuat Edrea lantas langsung tersenyum ketika memikirkannya.
"Apakah setiap warna pada gerbong memiliki makna tersendiri?" tanya Edrea pada akhirnya karena hanya hal itulah yang membuat Edrea penasaran semenjak kedatangannya pertama kali di tempat ini.
"Ya tentu saja... setiap gerbong mengandung makna dan juga jurusannya masing masing. Merah untuk para arwah yang semasa hidupnya di dunia melakukan percobaan bunuh diri, hijau untuk beberapa pahlawan yang melakukan kebaikan selama masa hidupnya, kuning untuk orang biasa atau kematian yang di sebabkan kerena takdir hidup mereka yang memang harus berakhir, biru untuk kematian masal baik yang di sebabkan oleh insiden tertentu maupun bencana alam, dan terakhir ada dark yaitu untuk kematian dengan kasus yang berat seperti pembunuhan, pencuri, narapidana atau gembong narkoba." ucap Max menjawab pertanyaan Edrea barusan dengan nada yang datar.
"Jadi... jangan bilang kasus kematian arwah Yoga kemarin termasuk ke dalam kasus berat?" tanya Edrea yang terkejut ketika mendengar penjelasan dari Max barusan.
"Jika kamu tanya secara garis besarnya sih iya karena kasus itu di tangani langsung oleh Mira, oh mungkin kau belum mengenalnya ya? tugas Mira di sini adalah penjemput arwah khusus gerbong dark." jawab Max lagi.
"Pantesan mukanya jutek banget tuh orang" batin Edrea dalam hati ketika mendengar ucapan dari Max barusan.
"Perhatikan isi hatimu karena aku mendengarnya." ucap Max memperingati.
"Baiklah maaf" jawab Edrea sambil memutar bola matanya jengah.
Keduanya kemudian lantas melanjutkan kembali perjalanan mereka, hingga langkah kaki Edrea terhenti ketika menangkap satu hal ganjil yang mengganggu dirinya.
__ADS_1
"Em Max boleh aku bertanya lagi?" tanya Edrea kemudian.
"Ya katakan" ucap Max kemudian.
"Dari yang aku lihat beberapa masinis di masing masing gerbong terlihat sangat ramah dan murah senyum, hanya saja mengapa masinis di gerbong dark berwajah masam dan tegang?" tanya Edrea dengan nada yang penasaran.
"Masinis di stasiun ini di pilih dengan mempertimbangkan amal perbuatan yang mereka lakukan semasa hidupnya sekaligus beberapa relawan yang ingin mengabdikan dirinya. Hanya saja khusus untuk masinis di gerbong dark mereka di pilih sebagai bentuk pengampunan untuk dosa dosa mereka atau garis besarnya seperti hukuman bagi mereka." jelas Max dengan singkat.
"Lalu apa yang membedakan? bukankah semua gerbong tujuannya pasti ke alam akhirat?" ucap Edrea yang masih tidak mengerti.
Max yang mendengar hal itu lantas tersenyum, membuat Edrea semakin di buat bingung akan maksud dari ucapannya.
"Khusus untuk gerbong dark tujuan mereka langsung ke neraka dan itu artinya sang masinis akan mengantar mereka melewati lautan api yang di dalamnya terdapat umat manusia yang melakukan perbuatan dosa semasa hidupnya. Hanya orang orang yang berhati bersih dan juga tulus yang akan selamat ketika melintasi neraka. Itulah sebabnya masinis gerbong dark lebih sering berganti karena beberapa dari mereka pasti tidak akan bisa pulang dan akan terjebak di sana." ucap Max lagi yang langsung membuat Edrea bergidik ngeri ketika mendengarnya.
"Wah ngeri ya..." ucap Edrea dengan tatapan yang terbengong seakan tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Max.
***
Wili yang mendengar ucapan Barra lantas menelan salivanya dengan kasar, ia kini bahkan sudah bisa merasakan bahwa sebentar lagi akan terjadi hal buruk padanya.
"Aku memindah tugaskan mu menjadi masinis di gerbong dark dengan waktu yang tidak terbatas!" ucap Barra kemudian yang langsung membuat Wili terkejut bukan main ketika mendengarnya.
"Apa tuan?" ucap Wili dengan terkejut ketika mendengar perintah tersebut.
"Apa kau tuli atau memang bodoh hingga tidak bisa mencerna perintah ku dengan benar?" ucap Barra dengan nada yang sinis.
"Bukan begitu tuan, hanya saja.. saya..." ucap Wili dengan gagap bingung harus bereaksi seperti apa.
__ADS_1
"Kenapa? apa kau takut akan semua hal yang kau lakukan akan membuat mu tidak bisa kembali?" tanya Barra dengan tersenyum sinis.
"Tidak tuan.. saya akan melakukan tugas saya dengan baik." ucap Wili pada akhirnya dengan tetap menunduk seakan tengah meratapi nasibnya.
"Bagus, kalau begitu sekarang kau boleh pergi dari sini." ucap Barra kemudian berbalik badan seakan enggan menatap kepergian Wili dari ruangannya.
Wili yang tidak bisa lagi mengelak tugasnya lantas hanya bisa keluar dengan perasaan yang tak karuan, niatnya untuk mengikuti perintah dari atasannya harus berakhir dengan hukuman yang mungkin saja akan membuatnya tidak bisa bereinkarnasi.
"Kita lihat saja, apa kau akan mengakui segalanya." ucap Barra setelah kepergian Wili dari sana.
***
Di stasiun
Terlihat Edrea dan juga Max tengah melakukan pengecekan sebelum akhirnya kereta di berangkatkan, Edrea yang mengikuti prosedurnya sedari awal mulai bisa mengimbangi karena memang cara kerja di stasiun pemberhentian arwah ini hampir mirip dengan cara kerja stasiun di dunia manusia.
"Sejauh ini hampir mirip lah.. ya meski agak berbeda sedikit dimana di sana manusia sedangkan di sini para arwah." batin Edrea dalam hati.
Ketika Edrea sedang asyik melakukan proses pengecekan tentang para arwah sebelum keberangkatannya, tak jauh dari posisinya berdiri terlihat Mira melangkahkan kakinya dengan bergegas ke arah di mana Edrea tengah berada saat ini.
Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Edrea tepat ketika Mira berdiri di hadapannya. Edrea yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tentu saja kebingungan dengan maksud dari tamparan Mira kali ini.
"Dasar manusia rendahan... karena ulah mu yang sok kesucian itu Wili pada akhirnya menjadi korban!" teriak Mira yang lantas membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Mira.
"Ap.. apa maksudnya?" tanya Edrea yang tak mengerti akan arah pembicaraan dari Mira barusan.
__ADS_1
Bersambung