Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kesalahan terbesar


__ADS_3

Di sebuah rumah yang sama dengan di mana Darma berada, terdengar suara ribut-ribut yang berasal dari area ruang tamu. Sila nampak mengerjap beberapa kali mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul karena baru bangun dari tidurnya. Sila bangkit dengan perlahan dari tempat tidurnya sambil sedikit merintih karena menahan sakit akibat pukulan yang kembali di lakukan oleh Darma pagi ini kepadanya.


Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan Sila mulai menuruni ranjangnya dan bersiap untuk pergi ke ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi di sana. Selangkah demi selangkah Sila ambil dengan langkah tertatih menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.


Hingga ketika langkah kakinya yang terhenti tak jauh dari posisi Darma berada, Sila yang melihat begitu ramai orang-orang di ruang tamu lantas langsung bergerak untuk bersembunyi agar keberadaannya tidak di ketahui. Sila menutup mulutnya dengan rapat berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun sambil terus mencuri dengar percakapan mereka. Ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Sila ketika melihat dua orang tiba-tiba menghilang dari ruangan tersebut. Sampai kemudian Sila mendengar suara perempuan yang mengatakan sesuatu hal dan lagi-lagi membuatnya terkejut ketika mendengar hal tersebut.


"Dasar sampah, aku bahkan mendukung mendiang istri mu yang hendak menghabisi mu saat ini juga. Namun sayangnya cara istri mu yang menghabisi mu lewat Edrea itu adalah sebuah kesalahan! Nikmati saja rasa sakit mu saat ini dan jemput kematian mu sendiri!" ucap Mira sambil mengambil posisi berjongkok dan menatap tajam ke arah di mana Darma sudah tergeletak dengan tidak berdaya di lantai.


Mira yang melihat Darma terkapar seperti itu lantas mulai mendekatkan jari tangannya ke arah kepala Darma. Mira ingin Darma merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh istri dan juga putrinya sebelum mendekati kematiannya.


Sedangkan Darma yang mendapat rasa sakit berkali-kali lipat dengan tiba-tiba, membuatnya terus merintih dan mulai mengelesot seakan meminta ampun kepada Mira dan berusaha meminta tolong agar membantunya. Namun sayangnya Sila yang melihat kejadian tersebut nampak sedikit terkejut dan tanpa sadar bergerak mundur hingga menabrak vas bunga ukuran besar yang terpajang di sudut ruang tamu.


Prank....


Suara vas bunga yang pecah terdengar begitu jelas di telinga Mira dan juga Darma, membuat Mira yang sedang bersenang-senang dengan Darma lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan berdecak kesal ketika melihat seseorang tamu tak di undang malah melihat segala kejadian yang ada di sana dan tentu saja tidak boleh di ketahui oleh manusia tentang pekerjaan ini.


"Ah sial!" ucap Mira dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah dimana Sila berada.

__ADS_1


Mira kemudian melirik sekilas ke arah Darma yang masih nampak merintih kesakitan kemudian menoleh kembali ke arah dimana Sila berada saat ini. Sambil menggerutu dengan kesal karena pekerjaannya bertambah, Mira terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Sila berada saat ini.


"Aku harap kamu bisa merahasiakan kejadian ini, lagi pula apa yang aku lakukan saat ini adalah demi kebaikan mu. Aku akan membuat dia bertanggung jawab atas segala hal yang telah ia perbuat di dunia ini." ucap Mira sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sila.


Sambil mulai menjentikkan tangannya dengan tujuan hendak menghipnotis Sila agar melupakan segalanya, Mira terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Sila berada. Hanya saja tanpa di duga-duga Mira yang mengira Sila akan bahagia ketika ia memberitahu hal tersebut, nyatanya Sila malah langsung bergerak dan melangkahkan kakinya ke arah Mira kemudian mengambil posisi memohon.


"Jangan lakukan itu, kasihanilah Ayah ku..." ucap Sila mulai memohon kepada Mira.


Mira yang mendengar permohonan dari Sila tentu saja terkejut, bagaimana mungkin Sila yang sudah benar-benar di siksa lahir dan batinnya serta mendapat perlakuan tak mengenakan dari Darma Ayahnya malah meminta agar Darma di ampuni, bukankah Sila sedikit terdengar gila?


Mira membeku terdiam di tempatnya seakan mencerna dan memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar dari mulut gadis itu. Hingga ketika suara Sila kembali terdengar dan lagi-lagi meminta untuk mengasihani Ayahnya, Mira kemudian nampak menghela napasnya dengan panjang.


Sila yang mendapat pertanyaan tersebut nampak terdiam sejenak seakan mencoba untuk berpikir, apakah keputusannya memohon ampun untuk Darma adalah benar atau tidak? Namun rupanya meski Sila memikirkannya berulang kali pun jawaban dari kata hatinya tetaplah sama yaitu menginginkan Darma di beri kesempatan sekali lagi. Mira yang mengetahui jawaban tersebut lewat sorot mata dari Sila, lantas pada akhirnya hanya bisa pasrah dan tidak lagi menanyakan hal yang dama kepada Sila.


"Baiklah, aku akan memberikannya kesempatan hanya saja apa yang akan terjadi selanjutnya tidak akan lagi sama seperti sedia kala. Aku mematikan semua sistem motorik pada tubuh Darma lumpuh dan tidak dapat berbicara. Keputusan ada di tangan mu saat ini." ucap Mira kemudian kembali memberikan pilihan kepada Sila.


"Aku...." ucap Sila dengan nada yang bimbang.

__ADS_1


***


Sementara itu di sebuah gedung yang terletak di pinggiran kota, terlihat Barra dan juga Edrea baru saja muncul setelah berteleportasi dari kediaman Darma. Barra yang sudah mulai muak dengan sosok Arwah pendendam yang saat ini menempati tubuh Edrea, lantas terlihat mencengkram leger Edrea dengan kuat.


Edrea nampak meringis kesakitan namun detik berikutnya tertawa, yang lantas membuat Barra bertanya-tanya akan maksud dari gelak tawa Edrea barusan.


"Apa yang aku lakukan sudah lebih dari cukup, aku yakin Darma tidak akan selamat dengan kondisi yang seperti itu. Jika kamu ingin menghabisi aku, lakukanlah aku siap...." ucap Edrea dengan senyuman menyeringai terlukis jelas pada bibirnya.


"Tentu saja akan aku lakukan, karena untuk arwah pendendam yang bertindak sesuka hati kalian sudah sepatutnya di musnahkan!" ucap Barra dengan nada yang mengejek.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut Barra langsung mengeratkan cengkeramannya pada leher Edrea, kemudian tanpa apa-apa langsung menembus tubuh Edrea begitu saja seakan tengah mencoba mengambil paksa sosok Arwah pendendam yang ada di dalam tubuh Edrea. Barra yang berhasil mendapatkan sosok Arwah pendendam tersebut lantas begitu saja menembus tubuh Edrea dan tersenyum dengan bahagia ketika berhasil mendapatkannya. Sedangkan tubuh Edrea yang di tembus secara paksa oleh Barra langsung limbung dan jatuh ke tanah begitu saja dan tidak terlihat bergerak sama sekali.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan kepada suami mu bukanlah sebuah kesalahan. Namun kesalahan terbesar mu adalah telah membuat tubuh Edrea menjadi pion untuk membalas perasaan dendam yang ada pada dirimu!" ucap Barra sambil terus mengeratkan cengkraman tangannya pada leher sosok tersebut.


"Apa... tunggu...."


Cras....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2