
"Kau itu tahu apa tentang ku!" teriak Edrea yang juga ikut kesal.
"Kau yang tidak tahu apa apa..." ucap Max sambil menunjuk ke arah Edrea dengan manik mata yang tajam.
Arya yang melihat pertengkaran keduanya, lantas bingung harus berbuat apa karena tingkah Max yang tadinya ingin mengatakan kepada Edrea secara baik baik malah berakhir dengan ricuh seperti ini, membuat Arya hanya bisa menatap dengan raut wajah yang bingung ke arah Max dan juga Edrea secara bergantian. Sedangkan Edrea yang mendadak menjadi kesal dan semakin bete karena tingkah Max yang tidak angin tidak ada hujan malah marah marah tidak jelas, semakin merusak mood Edrea menjadi semakin hancur dan turun.
"Apa maksud ucapan mu barusan?" tanya Edrea kemudian.
Mendengar pertanyaan dari Edrea barusan, membuat Arya langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea kemudian langsung memberikan Edrea sebuah iPad, membuat Edrea malah menatap dengan bingung ke arah Arya yang malah memberikannya iPad tanpa menjelaskan sedikitpun kepada Edrea ada apa sebenarnya.
Dengan gerakan yang masih kesal, Edrea kemudian mulai menggeser satu persatu data diri yang terdapat di layar iPad tersebut, entah mengapa Edrea merasa seperti tidak asing dengan sosok arwah yang akan Max dan juga Arya jemput, hingga kemudian tatapannya lantas terkunci pada sebuah foto tak asing yang memenuhi layar iPad yang kini berada di tangannya. Dengan perasan yang terkejut sekaligus tangan yang gemetaran, Edrea kembali menggeser layar iPad tersebut dan mulai mencari tahu kebenarannya.
prak...
Suara iPad yang jatuh dan membentur ke lantai terdengar jelas menggema memenuhi area kamarnya, iPad yang semula ia pegang dengan erat mendadak meluncur terjun begitu saja ke bawah tanpa bisa ia cegah. Sedangkan Arya dan juga Max yang melihat hal tersebut, hanya bisa terdiam sambil memejamkan matanya sebentar seakan tidak tega hendak mengatakan kebenarannya bahwa sosok arwah yang akan ia jemput saat ini adalah Sita.
__ADS_1
"Mengapa..." ucap Edrea dengan nada suara yang bergetar dengan hebat.
"Inilah yang ingin kami katakan kepadamu sedari awal... kamu yang tidak mengerti apapun, jika kamu mendengarkan kami terlebih dulu pasti saat itu kamu masih sempat bersama dengannya sebelum kepergiannya." ucap Max dengan nada yang lirih.
Mendengar ucapan dari Max barusan membuat mulut Edrea benar benar terdiam seribu bahasa, mulutnya terkunci tak lagi bisa berkata kata. Edrea bahkan baru saja bertemu dengan neneknya di bawah, bagaimana mungkin secara tiba tiba Max dan juga Arya datang dan mengatakan bahwa sosok arwah yang harus ia jemput adalah neneknya sendiri, bukankah ini sebuah hal gila?
Edrea menggelengkan kepalanya dengan kuat seakan tidak terima begitu saja tentang kenyataan yang tiba tiba menyapanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Edrea yang mulai kehilangan akalnya dengan spontan langsung melangkahkan kakinya berlari keluar dari kamarnya menuju kembali ke arah dapur dengan langkah kaki yang lebar. Tangis yang sudah pecah dan kembali membasahi pipinya mengiringi setiap langkah kaki Edrea, yang terlihat mulai menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur. Edrea menghentikan langkah kakinya ketika posisinya berada tidak jauh dari area dapur, ditatapnya ruangan dapur dengan pandangan yang kosong dan manik matanya terhenti pada sosok Sita yang kini sudah tergeletak di lantai beserta sayuran yang sudah berserakan memenuhi lantai dapur.
Edrea membeku di tempatnya sejenak, telinganya mendadak berdenging dengan kuat ketika melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya itu. Hingga kemudian selangkah demi selangkah Edrea mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lambat mendekat ke arah jasad Sita yang sudah tidak lagi berdaya itu dengan pandangan yang kosong.
Edrea terduduk seketika tepat di sebelah jasad Omanya itu, dengan perasaan yang hancur Edrea memeluk jasad Sita dengan erat menangis tanpa suara di keheningan ruangan mansion yang luas. Dunia Edrea yang memang sudah hancur ketika mengetahui Barra bukanlah melihatnya sebagai dirinya melainkan sebagai sosok gadis yang berwajah mirip dengannya, kini semakin di buat hancur berkeping keping dengan kematian Sita yang tiba tiba itu.
Suara Edrea benar benar tercekat tidak bisa keluar dan hanya sampai di tenggorokannya saja, air matanya kini bahkan sudah tidak bisa lagi turun namun perasaan sedih dalam dirinya terus terusan mendobrak hatinya dan membuatnya menangis tanpa suara. Edrea bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana di saat saat seperti ini, ia benar benar bingung harus bagaimana?
Hingga sebuah tangan yang terasa membelainya dengan lembut di area puncak kepalanya, membuat Edrea perlahan lahan mulai mendongakkan kepalanya menatap ke arah atas.
__ADS_1
Tepat ketika Edrea mendongakkan kepalanya, sosok arwah Sita nampak tersenyum ke arah Edrea saat ini, membuat Edrea terdiam seketika namun masih sambil memeluk tubuh Omanya dengan erat tanpa membiarkannya jauh sedikitpun dari dirinya.
"Oma" panggil Edrea dengan nada yang lirih, membuat Sita lantas tersenyum dengan seketika.
"Apa yang membuat cucu Oma begitu sedih seperti ini? bukankah kamu masih bisa mengantar kepergian Oma? anggap saja Oma sedang pergi jalan jalan ke negara yang jauh, tidak perlu menangis seperti ini Rea... jangan membuat Oma tidak tenang meninggalkan mu di dunia ini..." ucap Sita sambil berusaha mengelap air mata Edrea yang hanya sia sia saja karena tubuhnya seakan tembus dan melewati Edrea begitu saja tanpa bisa menyentuhnya.
"Itu adalah dua hal yang berbeda Oma, bagaimana bisa Edrea melakukannya? jangan seperti ini Oma.. Edrea akan berusaha membujuk Barra agar tidak memisahkan kita, Rea yakin Barra akan mengabulkannya..." ucap Edrea mencoba memutar otaknya mencari solusi yang tepat akan hal ini.
"Barra bukanlah Tuhan, kematian sudah di gariskan tepat setelah seorang bayi lahir ke muka bumi ini. Tidak ada yang bisa lolos dari kematian Rea.. ikhlaskan Oma ya..." ucap Sita lagi dengan tersenyum.
Edrea yang mendengar ucapan Sita barusan tentu saja hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata kata lagi, ucapan Sita adalah kebenarannya, namun bagi Edrea ia masih saja sulit untuk menerimanya dan membiarkan Sita pergi begitu saja. Edrea menahan tangisnya agar tidak pecah dan memberatkan Sita yang kini menyuruhnya untuk ikhlas melepaskannya pergi.
"Sudah saatnya aku membawa nenek mu pergi Rea... aku harap kamu tidak mempersulit prosesnya." ucap Max sambil melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah di mana Edrea berada saat ini, membuat Edrea langsung dengan spontan mendongak ke arah sumber suara.
"Biarkan aku ikut bersama mu ke Stasiun Pemberhentian, ku mohon...." pinta Edrea dengan nada suara yang serak seperti menahan tangisnya agar tidak sampai keluar dan terdengar oleh Sita.
__ADS_1
"Kau tidak perlu ikut!" ucap sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat Edrea, Max dan Arya menatap ke arah sumber suara.
Bersambung