
Di sebuah perkebunan Jati yang suasananya gelap gulita, terlihat Baron dan juga Pras melangkahkan kakinya dengan terburu buru, keduanya berhasil kabur setelah menghabisi nyawa suami istri pemilik rumah yang mereka rampok. Baron tertawa dengan puasnya sambil membawa tas berisi perhiasan dan juga uang tunai di dalamnya. Sedangkan Pras yang merasa ini tidaklah benar, lantas langsung menghentikan langkah kakinya membuat Baron yang semula tertawa dengan bahagia, lantas ikut menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Pras yang kini tengah berdiri sambil mematung.
Baron yang melihat tingkah Pras begitu aneh, perlahan lahan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Pras dengan tatapan yang kebingungan akan sikap Pras yang tiba tiba seperti ini.
"Ini salah... kau jelas jelas mengatakan tidak akan melenyapkan mereka, tapi tiba tiba kau layangkan golok mu dan menghabisi mereka... apa kau sudah gila?" ucap Pras pada akhirnya yang lantas membuat raut wajah Baron berubah seketika.
"Kau itu goblok atau bagaimana? jika aku tidak melayangkan golok ku maka orang orang akan menangkap kita, kau mau mendekam di penjara ha?" ucap Baron dengan nada yang meninggi.
Mendengar ucapan Baron barusan membuat Pras terdiam seketika, diusapnya rambut Pras dengan kasar ke belakang, apa yang di katakan oleh Baron memanglah benar namun membunuh dua nyawa sekaligus bukanlah sebuah kebenaran. Pras diam enggan menjawab ucapan Baron, seakan akan ia tetap tidak setuju dengan pendapat Baron namun tidak bisa lagi protes karena nasi sudah menjadi bubur, meski Pras sama sekali tidak membunuh pemilik rumah itu tapi perasaan bersalah dan menyesal kian membelenggu hatinya.
Ini adalah pertama kalinya Pras melihat Baron menebas nyawa seseorang ketika merampok padahal biasanya Baron tidak pernah melakukan hal itu meski mereka hampir tertangkap sekalipun.
"Apa kau sekarang sudah mengerti? jika kau sudah paham maka sebaiknya kita pergi sebelum ada orang yang melihat kita di sini!" ucap Baron lagi sambil menarik tangan Pras untuk melangkahkan kakinya dengan cepat pergi dari kawasan perkebunan Jati itu.
Pada akhirnya mau tidak mau Pras melangkahkan kakinya mengikuti arah tarikan Baron yang membawanya pergi menjauh dari perkebunan Jati tersebut. Langkah demi langkah mereka susuri perkebunan tersebut dengan raut wajah yang girang, namun cukup jauh keduanya berjalan, entah mengapa Baron dan juga Pras merasa hanya berputar putar saja tanpa bisa keluar dari perkebunan Jati tersebut, padahal Baron dan juga Pras sudah merasa bahwa langkah kaki mereka telah jauh menyusuri area perkebunan Jati ini, bukankah harusnya mereka sudah keluar dari perkebunan Jati sedari tadi?
Baron yang mulai kelelahan lantas menghentikan langkah kakinya sejenak dan mengambil nafas sambil melihat ke arah sekeliling mencoba mencari jalan keluar dari perkebunan Jati ini. Pras yang melihat Baron menghentikan langkah kakinya, lantas menatap dengan tatapan kebingungan ke arah Baron ketika melihat langkah kaki Baron terhenti di sana.
"Ada apa?" tanya Pras dengan tatapan yang bingung ke arah Baron.
__ADS_1
"Aku lelah, apa kita kesasar? mengapa sedari tadi kita hanya berputar putar saja?" ucap Baron dengan nafas yang ngos ngosan.
Pras yang mendengar perkataan dari Baron lantas dengan spontan menatap ke arah sekitar dan mencoba mengingat ingat jalan keluar dari perkebunan Jati ini, jika menuruti jalan kedatangan mereka waktu masuk ke perkebunan Jati ini harusnya mereka saat ini sudah sampai di jalan besar, namun mengapa malah berputar putar di sini? Pras yang juga baru menyadari bahwa mereka tersesat lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bukankah harusnya kita sudah sampai di jalan besar?" ucap Pras yang malah balik bertanya, membuat Baron yang mendengar pertanyaan kembali dari Pras menjadi kesal bukan main.
Di saat Baron dan juga Pras tengah kebingungan mencari jalan keluar, angin mendadak berhembus dengan kencang menggoncangkan dedaunan di sekitarnya hingga berjatuhan dan mengenai Baron dan juga Pras, angin kencang yang mendadak itu membuat raut wajah keduanya menjadi kebingungan dan dengan spontan mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling. Sebuah gumpalan asap hitam pekat nampak melesat dengan cepat ke arah keduanya, membuat Baron dan juga Pras hanya bisa terdiam melihat gumpalan asap tersebut tanpa bisa melakukan apa apa.
"Asap apa itu?" ucap Pras dengan raut wajah yang penasaran.
***
Tok tok tok
"Masuk"
Mendengar sebuah suara dari dalam, Barra lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Mira secara perlahan, Mira yang melihat si pengetuk itu adalah Barra, langsung mengerutkan keningnya dengan bingung karena tumben Barra mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, padahal biasanya Barra akan langsung menyelonong masuk tanpa tahu sopan santun sama sekali.
Barra menghentikan langkah kakinya tepat di depan meja Mira kemudian menyerahkan iPad ke arahnya, membuat Mira semakin bertanya tanya akan tingkah Barra yang tiba tiba ini.
__ADS_1
"Ini adalah kasus terbaru, apa kamu mau mengambilnya?" tanya Barra kemudian.
Mendengar ucapan Barra barusan membuat Mira langsung dnegan spontan menatap ke arah iPad tersebut dan mempelajarinya satu persatu, beberapa detik berikutnya Mira lantas tersenyum ketika mengetahui fakta bahwa salah satu arwah yang akan ia jemput sudah berubah menjadi arwah pendendam dan berhasil kabur dari lokasi tempat pembunuhan terjadi.
"Tidak bisakah kau memberi ku tugas yang lebih ringan? aku bahkan baru meluruskan punggung ku..." ucap Mira dengan raut wajah yang cemberut menatap ke arah Barra saat ini.
"Aku tahu, maka dari itu aku datang ke sini untuk bertanya kepadamu." ucap Barra dengan nada yang santai, membuat Mira langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar jawaban tersebut.
"Jika kau bertanya tentu saja jawaban ku tidak, pasti akan sangat melelahkan jika harus berurusan dengan arwah pendendam baru seperti dia." ucap Mira sambil menggeser iPad dari mejanya.
Sedangkan Barra yang mendengar jawaban dari Mira barusan lantas tersenyum, entah mengapa ketika Mira melihat senyuman dari Barra barusan seperti menyimpan sesuatu yang Mira sendiri tidak tahu apa arti dari senyuman di wajah Barra barusan. Barra kemudian lantas mengambil kembali iPad di meja Mira dan menghilangkannya dari sana, Barra kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Mira, membuat Mira lantas merasa keanehan dengan tingkah Barra barusan, yang hanya mengiyakan jawabannya begitu saja padahal biasanya Barra akan memaksakan kehendaknya tanpa henti, mengapa kali ini berbeda.
Barra yang sudah melangkahkan kakinya kemudian berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arah Mira yang saat ini tengah menatapnya dengan bingung.
"Jika kau tidak mau melakukannya tidak apa, padahal tadinya aku akan mengatakan kepadamu kalau kau bisa mengajak Edrea bersama mu, tapi karena kamu tidak mau ya sudah..." ucap Barra sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apa? Edrea? tunggu sebentar....." teriak Mira kemudian.
Bersambung
__ADS_1