
Setelah menyelesaikan kelas sekaligus menyelesaikan urusan perutnya bersama dengan Kiera, Edrea dan juga Kiera memutuskan untuk berpisah dan kembali ke rumah masing masing.
Edrea melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota, malam itu sekitar pukul sembilan malam karena sebelumnya Edrea harus mampir ke perpustakaan kota untuk mencari beberapa buku yang akan ia gunakan untuk tugasnya di kampus, hingga membuatnya baru bisa pulang setelah mendapatkan buku yang ia cari.
Edrea mengusap lehernya dengan perlahan ketika merasakan hawa aneh mendadak menjalar di area lehernya.
"Mengapa aku merasa haus sekali?" ucap Edrea pada diri sendiri sambil berusaha untuk tetap fokus dalam mengemudi walau perasaan haus yang teramat sangat mengganggu dirinya.
Edrea menghentikan laju mobilnya ketika melihat lampu merah mulai menyala, diusapnya kembali area lehernya sambil menatap ke arah samping kanan di mana di sebelahnya terdapat beberapa pengendara lainnya.
Bayangan yang aneh tiba tiba terlihat oleh Edrea tepat pada setiap masing masing pengendara yang berjajar di sebelahnya. Edrea bahkan sampai beberapa kali mengusap matanya karena mengira dirinya sedang berhalusinasi, karena melihat bayangan seperti aura yang berwarna berbeda pada setiap pengendara di sebelahnya. Hingga sebuah bunyi klakson yang berulang kali terdengar, membuat Edrea langsung tersadar dari lamunannya.
Tin tin tin
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" ucap Edrea pada diri sendiri sambil langsung menancap gasnya sebelum pengendara di belakang kembali membunyikan klaksonnya.
***
Stasiun pemberhentian
Di area pemberangkatan, terlihat Barra tengah mengawasi prosesi pemberangkatan para arwah untuk naik ke atas.
Barra terlihat diam termenung sambil bersendekap dada, entah mengapa pikirannya saat ini sedang tidak fokus dan seperti tengah berada di tempat lain, namun Barra sama sekali tidak mengetahui alasannya.
Barra menghela nafasnya berulang kali sambil menatap kosong ke arah depan, hingga sebuah suara kemudian lantas membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Tuan pemberangkatan gerbong kuning mungkin akan sedikit tertunda karena ada satu arwah yang melarikan diri ketika proses penjemputan mereka, jika menurut anda apa yang harus di lakukan? akankah kita memberangkatkan kereta tanpa arwah tersebut, atau mencari arwah yang kabur itu terlebih dahulu?" ucap Max memberikan laporan.
"Apa mungkin ini karena Edrea ya?" ucap Barra di sela sela lamunannya. Namun sayangnya Max yang tidak mengerti bahwa ucapan itu di tujukan bukan untuknya, lantas mengira bahwa dalang di balik kaburnya arwah tersebut adalah ulah dari Edrea.
"Apa anda yakin ini adalah ulah Edrea tuan?" tanya Max dengan nada yang terkejut ketika mendengar jawaban dari Barra barusan.
Barra yang mendengar ucapan Max, tentu saja langsung terkejut bukan main karena ucapan dari Max barusan langsung membuyarkan lamunannya.
"Apa yang sedang kau katakan?" tanya Barra kemudian dengan nada yang bingung namun Max malah ikutan menatapnya dengan bingung juga.
"Ha? bukankah barusan tuan mengatakan bahwa kaburnya arwah di gerbong kuning adalah ulah dari Edrea tuan?" ucap Max dengan raut wajah kebingungan.
"Jangan gila kamu, kapan saya mengatakannya?" ucap Barra dengan kesal yang malah semakin membuat Max bingung karenanya.
"Jangan aneh aneh kamu, Edrea bahkan tidak bertugas dalam penjemputan arwah tersebut... bagaimana kamu bisa menyalahkannya ketika Edrea sama sekali tidak tahu apa apa?" ucap Barra lagi memarahi Max, membuat Max langsung terkejut karena jatuhnya malah Max yang kena semprot padahal jelas jelas Max tadi mendengarnya langsung dari mulut Barra, namun Barra malah menyalahkannya.
"Tapi saya tidak mengatakan apa apa tuan, bukankah tuan tadi yang..." ucap Max namun keburu di potong oleh Barra yang sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasannya.
"Sudahlah, saya sedang tidak ingin berdebat saat ini." ucap Barra sambil mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Max, kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Max dengan tatapan yang masih penuh kebingungan sekaligus bertanya tanya apa kesalahannya sehingga Barra terlihat sangat marah padanya.
"Apa aku melakukan kesalahan? tapi apa?" ucap Max sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menatap kepergian Barra hingga menghilang dari pandangannya.
***
Sementara itu Edrea yang tidak lagi tahan akan rasa haus yang begitu menyiksanya, lantas langsung menghentikan laju mobilnya dengan seketika.
__ADS_1
Ditatapnya ke samping kanan dan kiri, mencoba mencari penjual minuman ataupun sejenisnya untuk meredakan rasa hausnya kali ini. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada seorang pedagang asongan yang sedang menjajakan jualannya tidak jauh dari tempatnya berada.
Edrea yang sudah merasa kehausan lantas langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju ke arah pedagang asongan tersebut.
"Mas tolong air mineralnya satu..." ucap Edrea sambil memberikan selembar pecahan seratus ribuan kepada pedagang tersebut, kemudian langsung membuka tutup botol itu dengan tidak sabaran dan meminumnya hingga tandas.
Pedagang asongan yang melihat Edrea minum dengan rakusnya malah menatap Edrea dengan tatapan yang nakal.
"Haus banget ya neng?" ucap pedagang tersebut yang lantas membuat Edrea langsung menatap ke arahnya.
Edrea yang kembali melihat ada aura aneh yang menutupi sekitaran tubuh pedagang tersebut, lantas mulai menjulurkan lidahnya seakan ingin untuk menghisap aura di sekitaran pedagang tersebut. Hingga tanpa sadar, karena dorongan rasa haus yang tidak kunjung terobati, Edrea malah seakan seperti tengah terhipnotis dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah pedagang asongan tersebut.
Pada akhirnya Edrea benar benar lepas kendali dan tidak lagi bisa mengontrol rasa haus yang tidak kunjung berkesudahan, membuat manik mata Edrea samar samar mulai berubah warna menjadi hijau layaknya mata ular sambil terus sesekali menjulurkan lidahnya.
"Ap... apa yang akan neng lakukan... neng..." ucap pedagang asongan tersebut dengan raut wajah yang ketakutan ketika melihat manik mata Edrea yang terus berganti ganti sedari tadi.
Edrea kemudian langsung melesat dan mencengkram area leher pedagang asongan tersebut dengan kuat dan berteleportasi ke sebuah gedung tua yang terletak di pinggiran ibu kota.
Edrea yang sudah tidak lagi bisa menahannya, lantas langsung menyerap energi pria tersebut dengan brutal, teriakan dan raungan yang berasal dari pria tersebut menggema memenuhi area gedung tua itu. Namun Edrea yang sudah di kuasi oleh efek dari sesuatu yang di tanam oleh Fano tepat di tubuhnya, sama sekali tidak mendengar teriakan serta rontaan yang berasal dari pria itu.
Hingga tiba tiba sebuah tangan yang cukup kuat langsung menepuk pundak Edrea dengan keras, membuat Edrea dan juga pria itu terpental cukup jauh dalam jarak yang berbeda.
"Beraninya kau mengganggu kesenangan ku!" pekik Edrea sambil bangkit berdiri seakan akan ia tidak merasakan sakit sama sekali, padahal tubuhnya sudah terhempas cukup jauh dan membentur area dinding gedung, namun Edrea sama sekali seperti tidak merasakan apa apa dan malah membuat mata Edrea kali ini berwarna hijau sepenuhnya, menandakan saat ini tubuh Edrea bukan lagi miliknya.
Bersambung
__ADS_1