
Stasiun pemberhentian
Mira yang baru saja sampai di Stasiun pemberhentian, lantas terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangannya dengan langkah kaki yang perlahan. Namun ketika Mira baru melintasi lorong menuju ke arah ruangannya, sebuah suara yang terdengar memanggilnya lantas menghentikan langkah kaki Mira yang sedari tadi bergerak secara perlahan. Mira yang mendengar sebuah suara memanggil namanya lantas langsung berbalik badan dan menoleh ke arah sumber suara. Dari arah yang tidak jauh dari posisinya berada, terlihat Max dan juga Arya tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira. Membuat Mira lantas bertanya-tanya apa yang membuat Max dan Arya mencari dirinya.
"Mir" panggil Max dari kejauhan.
"Ada apa?" tanya Mira kemudian ketika melihat langkah kaki keduanya semakin mendekat ke arahnya saat ini.
"Kamu ditunggu tuan di ruangannya saat ini juga." ucap Max kemudian menyampaikan perintah dari Barra tadi.
Mira yang mendengar perkataan dari Max barusan awalnya bingung dan bertanya-tanya akan mengapa Barra memanggilnya ke ruangannya. Hingga kemudian ketika ingatan Mira kembali kepada sosok Darma dan juga Sila yang baru saja ia urus, membuat Mira lantas mengerti alasan Barra memanggilnya. Mira yang mendengar perkataan dari Max barusan lantas mengangguk dengan mengerti kemudian melangkahkan kakinya berbalik arah dan menuju ke arah ruangan Barra meninggalkan Max dan juga Arya yang baru saja menyampaikan informasi kepadanya.
Dengan langkah kaki yang santai Mira mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra, sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Barra pikiran Mira melayang seketika memikirkan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Mira tidak yakin bahwa Barra akan setuju dengan keputusan yang telah ia buat, di mana Mira membiarkan Darma untuk tetap kembali hidup dan melanjutkan kehidupannya meski tidak sepenuhnya normal, tapi setidaknya Mira masih memberikan Darma kesempatan kedua termasuk dengan keinginan Sila yang mengatakan bahwa ia ingin merawat Darma dan membuktikan bahwa Sila bukanlah seorang putri yang dituduhkan Darma selama ini.
__ADS_1
Mira menghela napasnya dengan panjang bersiap akan menerima ceramah atau bahkan omelan dari Barra sebentar lagi. Hingga ketika langkah kakinya berhenti tepat di depan ruangan Barra, Mira nampak mengambil napasnya kembali dengan kasar kemudian memegang handle pintu Barra dan bersiap untuk membuka pintu ruangan tersebut.
"Apa kau tengah mencari ku Bar?" ucap Mira kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Barra.
Hanya saja Mira yang lupa untuk mengetuk pintu ruangan Barra terlebih dahulu sebelum masuk ke dalamnya, membuat langkah kaki Mira lantas terhenti di ambang pintu ketika melihat Edrea dan juga Barra tengah saling pandang antara satu sama lain. Seakan sedang menciptakan sebuah imajinasi yang Mira sendiri tidak tahu apa itu, Mira terdiam di tempatnya sejenak namun kemudian tersenyum lalu menghela napasnya kembali. Ditatapnya dua orang tersebut dengan tatapan yang menelisik sambil mengambil posisi bersendekap dada menunggu jawaban di antara keduanya yang terlihat begitu canggung seperti sedang tertangkap basah.
"Apa waktu kedatangan ku tidak tepat Lagi? Mengapa rasanya aku selalu memergoki kalian telah melakukan sesuatu?" ucap Mira dengan nada menyindir sambil menatap ke arah Edrea dan juga Barra secara bergantian.
Barra yang mendapat pertanyaan dari Mira barusan tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya bersikap setenang mungkin dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kursi kebesarannya. Melihat hal tersebut membuat Mira lantas tersenyum dengan kecil sekilas kemudian mencoba untuk menyembunyikannya agar Barra dan juga Edrea tidak mengetahui jika Mira sedang menertawainya saat ini. Sedangkan Edrea yang disindir seperti itu tentu saja raut wajahnya langsung memerah layaknya kepiting rebus, Edrea bahkan saat ini tidak berani untuk menatap ke arah Mira maupun melihat ke arah Barra. Membuat Mira semakin ingin tertawa dengan kencang ketika melihat tingkah dari Barra maupun Edrea saat ini.
Mira yang mendapat pertanyaan itu tentu saja langsung terdiam seketika, Mira sendiri bahkan bingung mau menjelaskannya seperti apa kepada Barra sekarang, membuat Barra yang melihat Mira langsung terdiam seperti itu lantas langsung curiga dan menatap ke arah Mira dengan penuh tanda tanya seakan sedang menunggu jawaban dari Mira.
Helaan napas lantas terdengar berhembus dari Mira, membuat rasa penasaran Barra semakin bertambah ketika melihat Mira yang tampak gusar seperti itu.
__ADS_1
"Aku memberi Darma kesempatan kedua." ucap Mira kemudian dengan nada yang lirih.
Baik Barra maupun Edrea yang mendengar perkataan dari Mira barusan tentang kesempatan kedua bagi Darma, membuat Bara dan juga Edrea lantas langsung saling pandang antara satu sama lain. Edrea yang semula menunduk dan tetap duduk di sofa, mendengar perkataan yang keluar dari mulut Mira tentu saja dengan spontan bangkit dari posisinya dan mendekat ke arah Mira seakan memastikan bahwa perkataan Mira barusan ia sama sekali tidak salah mendengarnya. Ditatapnya raut wajah Mira dengan tatapan yang bertanya-tanya sekaligus menelisik, seakan menunggu perkataan dari Mira selanjutnya tentang apa yang terjadi dengan Darma.
"Awalnya aku memang ingin melenyapkan Darma, hanya saja tanpa aku sadari putrinya Sila tiba-tiba mendengar segala percakapan dan perbuatan yang kita lakukan kepada Darma. Aku yang berpikir untuk menghipnotis putrinya agar tidak mengingat segala hal tentang kita malah mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dimana Sila malah memohon kepadaku agar tidak menyakiti Darma dan memberikannya kesempatan kedua. Aku juga sempat bimbang harus memilih jalan seperti apa, hingga pada akhirnya aku memberikannya kesempatan kedua namun dengan cobaan yang kau pasti tahu apa itu." ucap Mira kemudian menjelaskan.
"Kau mempraktekkannya secara langsung setelah mendengarkan penjelasanku tentang Dora tempo hari?" ucap Barra kemudian menebak apa yang dilakukan oleh Mira kepada Darma jika mendengar dari penjelasan Mira barusan.
Mira yang tahu Barra pasti sudah bisa menebaknya, lantas secara perlahan terlihat mengangguk tanda mengiyakan tebakan dari Barra barusan. Sedangkan Barra yang melihat jawaban tersebut tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang, Barra benar-benar tidak menyangka bahwa Mira akan melakukan hal itu kepada Darma. Meskipun hal tersebut tidak dibenarkan namun tidak ada salahnya juga untuk menghukum manusia agar lebih menghargai hidupnya dan tentu saja untuk menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini.
Edrea yang tidak tahu apa-apa tentang arah dari pembicaraan keduanya hanya bisa menatap ke arah Mira dan juga Barra secara bergantian dengan raut wajah yang penuh dengan kebingungan. Edrea bahkan tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi dengan Dora namun malah saat ini bertambah lagi dengan Darma, bukankah keduanya itu terlalu membingungkan untuk Edrea?
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" ucap Edrea kemudian dengan polosnya.
__ADS_1
Bersambung