Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah keputusan


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dari ku?" ucap Barra kemudian sambil menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Fano.


Fano yang mendengar pertanyaan dari Barra barusan, lantas dengan spontan langsung menyingkirkan tangan Barra dari bahunya, kemudian menatap ke arah Barra dengan tatapan yang menelisik. Walau Fano selalu melihat Putri yang sangat ia cintai dalam diri Barra, namun rasa kebencian dan juga perasaan dendam sama sekali tidak menyurutkan keinginannya untuk membunuh Barra ketika kembali mengingat penghianatan yang di lakukan oleh Putri kepadanya.


Barra yang melihat manik mata teduh milik Fano berubah menjadi tajam dan penuh amarah, lantas langsung di buat kebingungan akan hal itu. Fano kini bahkan terlihat tersenyum dengan menyeringai dan langsung melesat sambil mencengkram kerah baju Barra membawanya mundur beberapa langkah ke arah pohon besar tersebut, membuat Barra yang tidak bersiap akan serangan tersebut hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana arah Fano membawanya melesat.


"Kau tidak perlu tahu apa alasan ku, yang jelas kau harus mati di tangan ku tepat ketika bulan purnama ke tujuh nanti!" ucap Fano sambil mencengkram kerah baju Barra dengan erat.


Baru setelah mengatakan hal tersebut, sosok Fano perlahan lahan berubah menjadi segumpalan asap hitam pekat kemudian menghilang dari sana yang kini hanya menyisakan Barra dengan segudang tanda tanya yang menumpuk di kepalanya. Tidak ada satu pun pertanyaan yang terjawab, membuat Barra menjadi kesal. Yang Fano lakukan sedari tadi bukannya menjawab pertanyaannya, malah menambah kepingan demi kepingan puzzle baru untuk Barra yang sulit sekali untuk ia pecahkan.


"Sial!" ucap Barra dengan kesal ketika melihat kepergian Fano tanpa menjawab satupun pertanyaan darinya sebelum kepergian Fano dari sana.


**


Sementara itu di mansion Ibu


Terlihat Ibu tengah merangkai satu persatu tangkai bunga di halaman belakang, tangannya yang begitu mahir mulai memotong satu persatu tangkai bunga dan merapikannya sebelum pada akhirnya di rangkai menjadi satu dan di letakkan di dalam vas bunga favoritnya itu.


Di saat Ibu memotong tangkai bunga yang ada di tangannya menjadi lebih pendek lagi, gerakannya tiba tiba terhenti karena sesuatu hal selama sepersekian detik, baru beberapa detik kemudian Ibu lantas tersenyum kembali dan melanjutkan pekerjaannya dalam merangkai bunga menjadi satu.


"Akan ada sebuah penyesalan di setiap tindakan yang di dasari oleh perasaan amarah tanpa berpikir dengan jernih terlebih dahulu." ucap Ibu dengan nada yang lembut sambil terus merangkai bunga yang ada di sekitarnya satu persatu menjadi sesuatu yang cantik.


***

__ADS_1


Sementara itu di ruangan Max


Terlihat Max dan juga Arya tengah berada dalam posisi terdiam tidak tahu harus melakukan apa di saat saat seperti ini, jika Max memutuskannya sepihak tanpa persetujuan dari Barra, Max hanya takut Barra akan mengamuk nantinya. Tapi jika Max tidak membuat keputusan sekarang, maka orang lain yang akan melakukan penjemputan pada arwah tersebut, jika sudah seperti ini, maka keputusan mana yang akan Max ambil?


Max menghela nafasnya panjang kemudian menghembuskannya kembali, membuat Arya yang melihat Max hanya menghela nafasnya panjang tanpa melakukan apapun menjadi kesal dengan Max.


"Bisa kah kau berhenti melakukan hal itu? helaan nafas mu itu sangat berisik tahu!" ucap Arya dengan nada yang kesal membuat Max langsung dengan spontan menatap ke arah Arya dengan tatapan yang tajam.


"Jika kau tidak memberikan solusi maka diam saja dan jangan berisik, kau mengganggu konsentrasi ku..." gerutu Max dengan nada yang kesal membuat Arya langsung memutar bola matanya dengan jengah.


Ketika keheningan kembali terjadi di antara keduanya, sebuah suara alarm yang berasal dari iPad yang sedari tadi di bawa oleh Arya terdengar mulai berbunyi dan menggema di seluruh ruangan Max, membuat Arya dan juga Max yang sedari tadi tengah berpikir mencari solusi dalam hal ini, menjadi terkejut akan bunyi alarm tersebut yang menandakan bahwa saat ini waktunya bagi mereka untuk berangkat dan melakukan penjemputan arwah tersebut.


Tit tit tit tit...


Mendengar suara alarm tersebut baik Max maupun Arya langsung saling pandang satu sama lain. Dengan gerakan yang cepat, Max kemudian mengusap layar iPad tersebut untuk mematikan bunyi alarm barusan sambil memijit pelipisnya dengan pelan.


Max yang mendengar pertanyaan dari Arya barusan langsung terdiam seketika, Max nampak kembali berpikir harus mengambil keputusan apa di saat saat seperti ini, hingga beberapa menit kemudian Max terlihat bangkit dari posisinya dan mulai melangkahkan kakinya, membuat Arya langsung menatapnya dengan bingung dan ikut bangkit menyusul kepergian Max.


"Tunggu aku...." ucap Arya sambil bangkit dari posisinya dan mengejar langkah kaki Max.


***


Mansion milik Sita

__ADS_1


Edrea yang sudah lelah menangis lantas mulai bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya ke arah cermin rias miliknya, di tatapnya bagian bawah matanya yang terlihat mulai sembap itu. Edrea nampak mendengus dengan kesal ketika melihat matanya langsung membengkak padahal ia hanya menangis selama beberapa menit saja ah sepertinya tidak, kerena Edrea bahkan tidak tahu kapan terakhir kali ia masuk ke dalam kamar dan mulai menangis.


Edrea menghela nafasnya dengan panjang sambil menatap dirinya di cermin, melihat ke arah wajahnya yang saat ini terlihat sangat mengerikan baginya.


"Ah sepertinya wajah ku cukup buruk saat ini..." ucap Edrea dengan mendengus kesal.


Edrea melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Sita di dapur, dengan langkah yang perlahan Edrea mulai menuruni tangga dan bergerak menuju ke arah dapur. Dari tempatnya berdiri, Edrea melihat Sita tengah sibuk memasak namun dengan posisi yang terdiam membuat Edrea langsung dengan spontan berlarian ke arah Sita dan langsung memeluknya dari belakang.


"Oma..." panggil Edrea dengan manja.


Mendapat pelukan yang tiba tiba membuat Sita terkejut dan langsung memegangi area dadanya yang sedari tadi pagi sudah merasa nyeri. Tak ingin membuat Edrea khawatir, Sita lantas perlahan lahan mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala Edrea dengan lembut.


"Jangan mengganggu Oma... bagaimana kalau rasa masakannya jadi tidak enak? sebaiknya kamu naik saja ke atas nanti Oma akan memanggil mu." ucap Sita dengan nada yang lirih.


"Tapi Oma.."


"Sudah naik saja..." ucap Sita lagi yang pada akhirnya mau tidak mau memaksa Edrea untuk pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.


**


Kamar Edrea


Edrea yang baru saja membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, lantas di buat terkejut dengan kehadiran dua orang yang sangat ia kenali di kamarnya kini tengah menatap dengan serius ke arah Edrea.

__ADS_1


"Kalian?"


Bersambung


__ADS_2