
Edrea yang baru saja keluar setelah interogasi dadakan, lantas langsung menuju ke arah tangga darurat yang letaknya tidak jauh dari ruangan Dekan. Edrea melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat.
"Hu... untung saja manjur..." ucap Edrea yang langsung terduduk di lantai karena saking lemasnya kakinya setelah berhasil melewati interogasi secara mendadak barusan.
"Wah wah wah aku tidak sangka kau akan menggunakan kekuatan ku untuk mengelabui mereka..." ucap sebuah suara yang langsung mengejutkan Edrea karena suara yang tiba tiba saja terdengar di tangga darurat.
"Astaga! kau mengejutkan ku Bar... bisakah kau jangan muncul secara tiba tiba?" ucap Edrea dengan nada yang kesal sambil mengelus dadanya dengan perlahan karena terkejut.
Bara yang mendengar gerutuan dari Edrea barusan, lantas tersenyum sejenak kemudian melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di sebelah Edrea.
"Apa kau tahu? tipuan yang kau gunakan tadi tidak akan bisa bertahan dengan lama dan cepat atau lambat akan kembali ke klip rekaman semula." ucap Barra yang langsung membuat Edrea dengan spontan menoleh dengan tatapan terkejut ke arah Barra.
"Yang benar saja Bar? aku bisa menjadi tersangka jika hal itu benar benar terjadi!" ucap Edrea dengan nada yang seperti tengah bingung saat ini.
"Itu resiko mu karena kau telah menggunakannya untuk sesuatu yang melenceng." ucap Barra dengan acuh tak acuh.
"Bar jangan bicara seperti itu kau membuat ku takut! lakukan sesuatu ku mohon.." pinta Edrea namun Barra sama sekali tidak menjawab dan hanya terdiam sedari tadi seakan enggan untuk menanggapi rengekan Edrea.
"Bukankah kalau aku di penjara maka kau akan kehilangan pelayan setia mu? jadi ku pikir... bisakah kau untuk membantu ku?" ucap Edrea lagi kali ini dengan nada yang memaksa.
"Apa hubungannya dengan ku? lagi pula sebagai seorang pelayan kau sangat menyusahkan dan selalu saja membuat masalah, jadi jika kau pada akhirnya akan di penjara... bukankah hal itu lebih baik?" ucap Barra dengan nada yang santai sambil bangkit berdiri.
Edrea yang melihat Barra bangkit berdiri, lantas langsung memegang kaki Barra dengan erat seakan sedang membujuk laki laki itu agar mau membantunya.
"Tolong aku ku mohon.. apa kamu tidak kasihan padaku tuan?" ucap Edrea dengan nada yang memelas sambil terus memegang kaki Barra dengan eratnya.
Barra yang melihat tingkah Edrea yang berlebihan, lantas langsung menghela nafasnya panjang sambil memijit pelipisnya dengan pelan.
__ADS_1
"Baiklah aku akan membantu mu" ucap Barra pada akhirnya karena tidak tega melihat Edrea yang terus terusan memohon.
"Sungguh?" tanya Edrea yang langsung di balas Barra dengan anggukan kepala, Edrea yang melihat Barra mengiyakan ucapannya lantas langsung bangkit berdiri dengan manik mata yang berbinar kemudian memeluk Barra dengan penuh semangat.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Edrea kemudian sambil menghentikan gerakannya yang memeluk Barra saking senangnya.
"Kita akan kembali ke masa lalu dan menghapus barang buktinya." ucap Barra kemudian yang langsung mendapat tatapan bingung dari Edrea.
"Aku tidak mengerti..." ucap Edrea dengan manik mata yang bingung.
"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang ayo kita pergi..." ucap Barra sambil membuka telapak tangan bagian kirinya dan dengan perlahan muncul sebuah kunci di sana, membuat Edrea yang menatap hal tersebut lantas langsung terkagum kagum.
Setelah kunci tersebut muncul di tangannya, Barra lantas langsung memasukkan kunci tersebut pada pintu masuk ke arah tangga darurat, secercah cahaya keputihan terlihat memancar dari celah celah pintu tersebut, beberapa detik setelah pintu tersebut mengeluarkan cahaya barulah Barra kemudian perlahan mulai membukanya.
"Aku mensetel waktu 20 menit sebelum kejadian tersebut terjadi, sebelum waktunya tiba kita harus segera membuat CCTV yang mengarah ke gudang tidak dapat berfungsi, sehingga pihak kepolisian tidak akan bisa menjadikannya sebagai barang bukti." ucap Barra menjelaskan sambil melangkahkan kakinya keluar dari arah tangga darurat menyusuri lorong lorong kampus.
"Ingat lagi satu hal, jangan sampai kamu di temukan oleh dirimu di masa ini atau akan terjadi tabrakan waktu antara dirimu di masa lalu dengan dirimu di masa depan. Apa kau mengerti?" tanya Barra sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang belakang.
"Oh ya hampir saja aku lupa, jangan sekali kali merubah apapun yang ada di masa lalu karena itu akan merusak tatanan yang seharusnya terjadi di masa depan!" imbuh Barra lagi yang lantas membuat Edrea mencebikkan mulutnya dengan kesal karena Barra terlalu banyak bicara.
"Iya iya aku mengerti" jawab Edrea lagi sambil memutar bola matanya dengan jengah.
**
Gudang belakang
Edrea dan juga Barra yang baru saja sampai di sana, lantas langsung bersembunyi di sudut tempat tersebut. Terdapat tiga kamera pengawas yang terlihat terpasang di sana, satu tepat di pintu masuk dari arah lorong, kedua ada di area bagian depan gudang dan yang ketiga di sudut pojok gudang.
__ADS_1
Jika melihat dari posisinya, kamera pengawas tersebut tidak akan dapat menangkap dengan jelas tepat di mana kejadian tewasnya Saga karena memang posisi kejadian tersebut berada pada titik buta kamera. Meski itu tidak akan menjadi bukti kuat, namun rekaman kamera pengawas tersebut masih bisa merekam siapa saja orang orang yang berlalu lalang di gudang belakang.
"Aku akan mengurus bagian situ dan situ, sedangkan kamu yang sebelah sana... mengerti?" ucap Barra memberikan perintah.
"Tunggu dulu... bagaimana aku melakukannya?" tanya Edrea kemudian.
"Kacaukan saja alatnya, gunakan kemampuan yang ku berikan padamu untuk membuat konsleting listrik atau apalah sejenisnya, jika kamu tidak bisa potong saja kabelnya..." ucap Barra dengan nada yang kesal karena Edrea terus saja bertanya tanpa henti sedari tadi.
"Oh Ok..." ucap Edrea sambil manggut manggut.
"Usahakan untuk tidak terlihat di rekaman kamera pengawas atau semua yang kita lakukan akan sia sia saja." ucap Barra kembali mengingatkan.
"Iya iya aku sudah mengerti." ucap Edrea dengan nada yang malas.
***
Edrea dan Barra kemudian berpisah dan langsung membagi tugas, Edrea yang sudah hapal di luar kepala tugasnya lantas langsung berkonsentrasi dan fokus untuk membuat konsleting listrik pada kamera pengawas si area tengah. Di saat Edrea sudah berhasil memutus kabel kamera pengawas tersebut, dari arah dalam terlihat Fano melangkahkan kakinya keluar dari area sana.
"Fano! ternyata yang menabrak ku benar benar Fano..." ucap Edrea ketika melihat reka adegan dirinya yang hampir jatuh karena menabrak orang beberapa hari yang lalu ketika hendak ke gudang belakang.
Edrea yang melihat Fano pergi begitu saja ketika menabrak dirinya di masa lalu, lantas langsung berlalu pergi berusaha untuk mengejar Fano sebelum semakin jauh.
"Fano" pekik Edrea sambil menarik bahu Fano, membuatnya langsung berbalik badan dan menatapnya.
Edrea yang tanpa sengaja melihat ke arah manik mata Fano lantas langsung terdiam seketika dengan tatapan yang terkejut sekaligus perasaan sakit yang tiba tiba saja menyeruak memenuhi hatinya.
"Penglihatan apa itu?" ucap Edrea dengan manik mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
Bersambung