Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tatanan rahasia dunia


__ADS_3

Di sebuah kamar yang terletak di mansion Ibu, terlihat Ibu tengah menempelkan tumbukan daun obat-obatan pada area dada Edrea yang terlihat seperti menghitam itu. Ibu menghela nafasnya dengan panjang sambil terus mengobati luka Edrea.


Hingga sebuah suara berat yang berasal tepat di belakangnya, lantas membuat Ibu menghentikan gerakannya dan dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Mengapa Ibu tidak mengatakannya dari awal? Apakah Ibu senang bermain-main dengan ku? Jangan bilang Ibu sudah tahu akhir dari kisah ini, tapi Ibu berpura-pura tidak mengetahuinya dan membuat ku terus seperti orang bodoh kesana kemari menghindari sosok Siluman ular hitam itu!" ucap Barra dengan nada suara yang serak seakan mencoba untuk menahannya sedari tadi.


Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Barra, membuat Ibu lantas bangkit dari posisinya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra.


"Sebaiknya kita bicarakan saja di luar, biarkan Edrea beristirahat." ucap Ibu sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Bukankah berbicara di luar dengan di sini sama saja?" ucap Barra dengan nada yang kekeh.


Ibu yang mendengar perkataan Barra kembali bukannya berhenti malah tetap meneruskan langkah kakinya keluar dari sana dan sama sekali tidak menghiraukan Barra, membuat Barra semakin terlihat frustasi ketika melihat respon dari Ibu akan perkataannya.


Barra yang melihat Ibu keluar begitu saja dari kamar ini, pada akhirnya mau tidak mau lantas ikut melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan di mana Edrea terlihat tengah memejamkan matanya dan menyusul langkah kaki Ibu yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


**


Barra menyusul langkah kaki Ibu hingga sampai ke meja makan. Barra benar-benar tidak lagi bisa menahannya karena Ibu selalu saja memberinya teka-teki yang padahal Ibu sendiri sudah tahu jawabannya, lalu mengapa Ibu tidak mengatakannya langsung kepada Barra?


Barra melangkahkan kakinya mendekat ke arah minibar dimana ibu terlihat dengan santainya tengah menyeduh teh di dalam teko seakan seperti tidak terjadi apa-apa, membuat Barra kian emosi ketika melihat tingkah Ibu yang seperti itu.

__ADS_1


"Kau tahu mengapa aku tidak pernah memberitahumu meski mengetahui segalanya?" tanya Ibu sambil melirik sekilas ke arah dimana Barra berada.


"Jawabannya adalah karena sebuah rahasia ada untuk disimpan dan tidak diumbar. Jika aku memberitahu semua yang aku ketahui di dalam dunia ini, maka tatanan dunia akan berubah. Tidak akan ada yang namanya perjuangan, penantian maupun perpisahan. Coba kau pikirkan, jika aku memberitahu mu bahwa sebentar lagi kau akan jatuh ketika bermain sepeda, lalu apa yang kau lakukan? Sudah pasti kamu akan menghindari sepeda sebisa mungkin. Kemudian apakah dengan begitu kamu tidak akan jatuh? Tentu saja jawabannya tidak, karena apapun yang sudah ditakdirkan terjadi pasti tetap akan terjadi walau dengan cara yang berbeda." ucap Ibu mencoba untuk menjelaskan segalanya kepada Barra.


Barra yang mendengar penjelas dari Ibu lantas terlihat terdiam, ingin sekali rasanya Barra menolak opsi tersebut namun apa yang dikatakan oleh Ibu bukanlah sebuah hal yang sepele, semua itu mempunyai pertanggung jawaban masing-masing yang berarti ketika sebuah rahasia kehidupan dibuka maka harus ada yang menerima konsekuensinya karena kita sendiri juga tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kepada kita selanjutnya.


Barra yang tidak tahu lagi harus mengatakan apa, lantas mengusap rambutnya dengan kasar kemudian menggenggam dengan erat kursi minibar seakan seperti tengah meluapkan amarahnya.


"Apa ucapan ku tadi sudah menjawab pertanyaan mu Bar?" ucap Ibu sambil mendorong secangkir teh buatannya ke arah Barra.


"Setidaknya beri aku sebuah pertanda, bukankah ini terlalu tidak adil bagiku? Dimana seseorang yang mengejar dan juga ingin membunuh ku adalah orang tua ku sendiri, bukankah itu terdengar sangat gila?" ucap Barra dengan nada yang frustasi namun Ibu malah kembali tersenyum.


"Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur Bar, kita sebagai ciptaan-Nya hanya tinggal menjalankan apa yang sudah menjadi kehendak-Nya." ucap Ibu kembali.


***


Stasiun Pemberhentian


Terlihat Mira sedang melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra. Pagi ini Mira mendapatkan pesan dari sistem bahwa arwah Stefen sudah resmi tiada, entah apa yang menyebabkan sosok arwah ini lenyap seketika dari sinyal arwah yang hilang, namun yang jelas Mira yakin Barra tentu tahu jawabannya.


Mira yang sudah penasaran akan jawaban dari pertanyaannya, lantas mulai membuka pintu ruangan Barra namun yang terlihat di sana hanyalah seorang Max dan sama sekali tidak ada Barra di manapun.

__ADS_1


"Di mana Barra?" tanya Mira sambil menatap ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan Barra di ruangannya.


"Tuan sedang tidak ada, jika ada sesuatu kamu bisa menyampaikannya kepadaku." ucap Max dengan nada yang datar sambil masih fokus menatap ke arah beberapa dokumen yang menumpuk dia tas meja kerja milik Barra.


"Dia belum pulang juga?" tanya Mira kemudian.


Sedangkan Max yang kembali mendengar pertanyaan dari Mira lantas menghela nafasnya dengan panjang, kemudian meletakkan dokumen yang sedari tadi ia baca dan menatap ke arah Mira dengan tatapan yang kesal.


"Jika tuan sudah pulang, aku tentu tidak perlu susah payah mengerjakan segalanya, kau tahu sendiri perbedaan waktu di dunia manusia dengan di sini berbeda jauh, jadi jika tidak ada sesuatu yang penting... jangan mengganggu ku!" ucap Max dengan nada yang ketus kemudian kembali menatap ke arah beberapa dokumen yang masih menggunung di meja Barra.


Sedangkan Mira yang mendengar tanggapan ketus dari Max, pada akhirnya hanya bisa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra dengan wajah yang di tekuk karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Benar-benar menyebalkan!" ucap Mira dengan nada yang kesal sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra.


***


Sementara itu di daerah pinggiran kota terlihat sosok ular kobra hitam tengah mematuk area ubun-ubun seseorang. Lewat area ubun-ubun orang tersebut, sosok ular kobra hitam kecil jelmaan dari Siluman ular hitam mulai menyerap semua energi yang ada pada tubuh orang tersebut hingga tidak tersisa sama sekali. Baru setelah semua sudah terserap hingga habis, sosok ular kobra tersebut pergi dan meninggalkan tubuh mangsanya yang kini hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.


Dengan gerakan yang pelan sosok ular kobra hitam itu nampak masuk ke dalam semak-semak dan berhenti tepat di mana ia bisa melihat bulan purnama penuh dari balik semak-semak tersebut.


"Lihat saja Barra.. aku akan segera datang dan mengakhiri segalanya!" ucap sosok ular kobra hitam tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2