Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Apa kau juga seorang arwah?


__ADS_3

Arya yang pasrah, pada akhirnya menghela nafasnya panjang dan menjentikkan jarinya untuk membawa Edrea ke Stasiun Pemberhentian.


"Ingat satu hal, jangan muncul di hadapan tuan Barra dan segera selesaikan urusan mu itu, panggil aku jika kau sudah selesai." ucap Arya memperingati Edrea agar lebih berhati hati.


"Baik, kau tenanglah aku akan bergerak dengan cepat." ucap Edrea kemudian.


"Datanglah ke Apartment dengan nomor unit 119 kau akan menemukan arwah Saga di sana." ucap Arya memberikan informasi.


"Terima kasih banyak Ar... terima kasih..." ucap Edrea sambil berlalu pergi menuju ke arah Apartment sesuai instruksi dari Arya barusan.


"Semoga saja tuan tidak tahu.." ucap Arya dengan nada yang lirih.


"Apa yang tidak tuan ketahui?" ucap sebuah suara yang lantas mendadak terdengar di area belakangnya.


Arya yang mendengar suara tersebut, langsung dengan spontan berbalik badan untuk melihat suara siapa barusan.


"Max..." ucapnya dengan wajah yang kaku, membuat Max yang melihat wajah kaku Arya mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Arya berada dan mulai menatapnya dengan tatapan yang menelisik.


"Kau benar benar mencurigakan Ar... apa yang sudah kau perbuat di belakang tuan Barra?" ucap Max dengan tatapan yang menelisik ke arah Arya.


Arya menelan salivanya dengan kasar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, hingga sebuah ide muncul di benaknya secara tiba tiba, setidaknya bisa untuk sedikit mengulur waktu.


"Bagaimana kalau kita ngopi di Cafe dunia manusia? bukankah kau sangat menyukai kopi di sana?" ajak Arya dengan nada yang cengar cengir.


"Apa kau kini tengah menyogok ku?" ucap Max dengan tatapan yang tajam ke arah Arya.


"Ah mana ada? jangan berpikir terlalu berlebihan... jika kamu tidak suka tak apa, aku akan berangkat sendiri ke sana." ucap Arya mencoba berlalu dengan langkah yang santai padahal ia sudah benar benar berkeringat dingin saat ini.


Max yang melihat Arya berlalu pergi begitu saja lantas mulai berdecak kesal sambil menyusul langkah kaki Arya.


"Baiklah aku akan ikut... tapi kau yang harus mentraktir ku" ucap Max kemudian yang lantas membuat Arya bisa bernafas dengan lega.

__ADS_1


"Setuju, ayo kita berangkat." ucap Arya yang di balas Max dengan anggukan kepala.


***


Apartment unit nomor 119


Edrea terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartment tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Di dalam ruangan Apartment tersebut terlihat Saga tengah duduk termenung menatap ke arah dinding bercat putih dengan tatapan yang kosong ke arah depan.


"Saga..." panggil Edrea kemudian dengan nada yang lirih.


Saga yang mendengar suara famileiar tersebut lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Bukankah kau Edrea? bagaimana mungkin kau bisa ada di sini? apa kau juga sama seperti ku?" tanya Saga dengan tatapan yang bingung karena melihat Edrea di tempat ini.


"Tidak aku masih hidup dan sehat wal afiat, sudahlah tidak perlu di pikirkan terlalu dalam lagi... tujuan ku kesini adalah ada sesuatu yang ingin aku ketahui dari mu." ucap Edrea kemudian sambil mendudukkan dirinya di hadapan Saga.


"Tentang apa?" tanya Saga dengan raut wajah yang penasaran karena walau keduanya sama sama menuntut ilmu di kampus yang sama, tapi baik Saga maupun Edrea terhitung sangat jarang berkomunikasi dan hanya sekedar saling mengenal saja.


Saga yang mendengar pertanyaan dari Edrea barusan, lantas terdiam sejenak seakan mengingat ingat apa yang terjadi kepadanya tepat sebelum ajalnya menjemput.


"Aku tidak tahu pastinya siapa dan karena apa, waktu itu selesai kelas aku langsung menuju ke arah gudang belakang berniat untuk merokok sebentar di sana sambil mencari ketenangan, hanya saja tak lama kemudian Fano nampak berdiri tepat di hadapan ku dengan tatapan yang aneh, manik matanya berubah menjadi seperti mata ular. Tadinya aku fikir itu hanyalah soflent atau sejenisnya, namun ketika aku hendak bertanya Fano malah mencengkram leherku dengan erat dan mulai menjulurkan lidahnya berulang kali. Perlahan lahan tubuh ku mulai lemas dan menyusut sampai pada akhirnya semua gelap dan sudah ada dua orang yang mendatangi ku dan berkata waktu ku di dunia sudah berakhir." ucap Saga dengan nada yang sendu di setiap ucapannya.


"Apa kau yakin dia Fano? bisa saja kan kamu salah mengenali orang?" tanya Edrea kemudian yang seakan tidak percaya akan penjelasan dari Saga.


"Entahlah aku juga tidak tahu karena Fano yang ku kenal tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu." ucap Saga dengan nada yang seakan juga tidak percaya akan ucapannya sendiri.


"Aku minta maaf jika membuat mu bersedih, percayalah bahwa setelah ini takdir mu akan menjadi lebih baik lagi. Aku berdoa supaya kamu dapat bereinkarnasi dalam wujud yang lebih baik lagi." ucap Edrea kemudian sambil menepuk pundak Saga secara pelan berusaha untuk menenangkan sosok arwah tersebut.


***

__ADS_1


Setelah beberapa menit mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Edrea kemudian lantas melangkahkan kakinya secara mengendap endap keluar dari unit Apartment tersebut.


"Apa mungkin ingatan arwah dapat di percaya? mungkinkah meraka hanya berhalusinasi saja?" ucap Edrea bertanya tanya akan jawaban yang ia terima barusan dari arwah Saga.


"Sebenarnya itu tergantung dengan bagaimana kamu menyikapinya, kamu bisa percaya atau juga bisa tidak, bukankah tidak ada yang mempengaruhi mu untuk percaya akan ucapan mereka?" ucap sebuah suara tepat di belakang Edrea yang lantas membuat langkah kaki Edrea terhenti seketika karena terkejut.


"Barra!" pekik Edrea yang terkejut ketika melihat Barra sudah berdiri tepat di belakangnya.


Barra yang melihat wajah terkejut milik Edrea, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Edrea sambil bersendekap dada.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini bahkan ketika aku tidak memanggilmu untuk datang?" ucap Barra dengan nada yang datar sambil menatap tajam ke arah Edrea.


"Ada beberapa hal yang mengganjal di hati ku jadi aku memutuskan untuk datang kemari?" ucap Edrea sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap ke arah Barra.


"Oh jadi kau mulai memanfaatkan kekuatan yang aku berikan kepadamu rupanya, apa kau mau aku mengambilnya kembali? agar kau tidak bisa seenaknya keluar masuk dunia ini." ucap Barra kemudian dengan nada yang dingin membuat Edrea lantas terkejut bukan main.


"Tidak! jangan lakukukan hal itu... ku mohon... aku bahkan mulai terbiasa akan kekuatan ini." ucap Edrea dengan nada yang gelagapan dan perlahan lahan mulai mundur takut akan Barra yang benar benar akan mengambil kembali kekuatannya.


"Aku tidak perduli akan hal itu." ucap Barra sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.


"Tu... tunggu dulu..." ucap Edrea sambil terus melangkah mundur mencoba untuk menghindar dari Barra.


***


Keesokan harinya di kampus


Terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya melewati lorong lorong kampus menuju ke arah kelasnya. Hanya saja dari arah tak jauh dari tempatnya berdiri sebuah suara terdengar memanggilnya, membuat Edrea lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mengetahui siapa orang yang kini tengah memanggilnya itu.


"Ada apa?" Tanya Edrea kemudian.


"Hhhhh kau di panggil ke ruang Dekan sekarang!" ucap Kiera sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Aku? untuk apa?"


Bersambung


__ADS_2