
"Fano" ucap Edrea dengan spontan yang lantas membuat Kiera yang masih ada di sana kembali menatap ke arah bayangan yang masih samar tersebut.
"Apa kau yakin Rea?" tanya Kiera yang masih tidak percaya.
Perlahan tapi pasti bayang pria itu terlihat semakin mendekat dan semakin mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa meter saja barulah semua bisa bernafas dengan lega karena sosok dari bayangan tersebut benar benar adalah Fano.
"Syukurlah kamu sudah kembali, apakah kau baik baik saja?" tanya Aldo kepada Fano tepat ketika Fano menghentikan langkah kakinya di antara mereka.
Fano yang mendengar pertanyaan dari Aldo barusan, lantas langsung mengangguk dengan pelan kemudian tersenyum.
"Baiklah sekarang lebih baik semua bubar dan kembali ke tenda masing masing." teriak Aldo kemudian memberikan instruksi kepada beberapa mahasiswa untuk segera pergi tidur.
Mendengar anjuran dari Aldo barusan beberapa mahasiswa terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah tenda mereka masing masing, kini di luar hanya tersisa Edrea, Aldo, Arhan, Kiera dan juga Fano.
"Untuk kalian istirahatlah juga, sedangkan untuk kamu Edrea dan juga Fano besok pagi datanglah ke tenda ku ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." ucap Aldo yang lantas di balas anggukan kepala oleh Edrea dan juga Fano, baru setelah itu Aldo dan juga Arhan berlalu pergi meninggalkan ketiganya.
Hari ini benar benar hari yang melelahkan sekaligus menguras energi, Edrea yang sudah sangat lelah lantas melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana tanpa berpamitan dengan Fano maupun Kiera yang juga masih berada di sana.
"Rea!" panggil Kiera sambil mengejar langkah kaki Edrea dan mengikuti langkahnya hingga masuk ke dalam tenda.
Sedangkan Fano yang masih berdiri di sana, lantas menatap kepergian Edrea dan juga Kiera dengan senyuman yang tidak bisa di artikan. Suara desisan mendadak keluar dari mulut Fano secara perlahan dan juga halus yang hanya bisa di dengar oleh Fano sendiri.
"Sudah di mulai... dan akan ku pastikan kau pangeran terbuang akan berakhir lebih buruk dari pada di masa lalu." ucap Fano dengan tersenyum licik.
****
Ruangan Barra
Di dalam ruangannya terlihat Barra tengah terduduk sambil termenung, memikirkan segala sesuatunya yang terjadi padanya dan juga Edrea hari ini.
Sebuah bayangan tentang Fano mendadak kembali terlintas di benaknya. Pertanyaan demi pertanyaan satu persatu mulai bergulir di benaknya ketika sederet perubahan terlihat terjadi kepada Fano tepat setelah Fano kembali tadi.
__ADS_1
Barra yang memang sedari awal rombongan para mahasiswa itu sampai selalu saja memantau Edrea, hingga membuat Barra sangat yakin bahwa ada perubahan besar yang mendadak di tunjukkan oleh Fano, walau Barra tidak terlalu mengenal Fano hanya saja entah mengapa rasanya Barra sangat familiar akan energi yang keluar dari dalam tubuh Fano ketika itu.
"Aku yakin ada yang berbeda, namun mengapa aku tidak tahu apa itu?" ucap Barra sambil berusaha mengetuk ketukan jarinya pada meja.
Hingga kemudian sebuah ketukan pintu yang terdengar secara berulang kali lantas membuyarkan lamunannya, Barra yang mendengar ketukan pintu tersebut lantas langsung membenarkan posisi duduknya, sampai kemudian terlihat Max dari arah pintu masuk mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Tuan..." panggil Max ketika ia menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Barra.
"Ada apa?" tanya Barra kemudian.
"Ada surat yang datang dan mengabarkan bahwa esok atau lusa gerbong putih akan di gunakan setelah beberapa waktu tidak beroperasi." ucap Max menjelaskan.
"Berapa banyak penumpang kali ini" tanya Barra dengan nada yang datar.
"Jika melihat dari isi surat ini sepertinya banyak hanya saja terbagi dengan beberapa sesi. Saya rasa dia tidak langsung melakukannya dalam sekali kesempatan." ucap Max dengan nada yang yakin.
"Persiapkan saja segalanya." ucap Barra kemudian.
Sekedar info, gerbong putih atau yang biasa di sebut kereta ekspress umumnya di gunakan untuk orang orang yang tidak bersalah dan meninggal karena di jadikan tumbal akan keserakahan umat manusia. Jika kalian bertanya bagaimana nasib pendosa yang terkena tumbal dan juga manusia berhati baik yang juga terkena tumbal, jawabannya adalah mereka akan tetap menaiki kereta dengan kode gerbong putih.
Mengapa gerbong ini di juluki ekspress karena memang tepat di pintu masuk ke alam akhirat penumpang dalam gerbong putih ini akan langsung di pilah sesuai dengan amal perbuatan mereka semasa di dunia tanpa harus melewati proses yang panjang.
"Sudah lama aku tidak mendengar gerbong putih di jalankan, apakah kali ini akan membawa penumpang dengan jumlah yang banyak?" ucap Barra setelah melihat kepergian Max dari ruangannya.
***
Keesokan paginya di camp
Terlihat Fano dan juga Edrea tengah duduk bersama dengan Aldo di tendanya.
"Sebenarnya kalian berdua kemana semalam? kalian tahu gara gara kalian berdua event kita kali ini harus di percepat karena pihak kampus takut akan terjadi hal yang sama kembali. Kita bahkan belum melakukan kegiatan apapun di sini kecuali jurit malam kemarin, bukankah semua akan sia sia saja jika kita langsung berkemas dan pulang?" ucap Aldo dengan kesal ke arah keduanya.
__ADS_1
"Kami minta maaf atas kejadian ini." ucap Edrea sambil terus menunduk dan tidak berani menatap ke arah Aldo yang terlihat sangat marah akan kelakuannya dan juga Fano semalam.
"Kenapa kau tersenyum?" ucap Aldo kemudian ketika melihat senyuman sinis yang di tunjukkan oleh Fano kepadanya.
Edrea yang mendengar ucapan dari Aldo barusan, lantas dengan spontan menoleh ke arah Fano dan langsung melotot ke arahnya seakan memberikan kode kepada Fano untuk bertindak lebih sopan lagi.
"Maaf" hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Fano, membuat Aldo lantas langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika mendengarnya.
"Sudahlah lebih baik kalian pergi dan bersiap untuk acara selanjutnya dan ingat satu hal lagi jangan lakukan hal yang macam macam dan menimbulkan keributan seperti semalam." ucap Aldo memperingati keduanya.
"Baik kami permisi dulu." ucap Edrea sambil menarik tangan Fano untuk keluar dari tenda Aldo.
**
Di luar tenda
Edrea menarik tangan Fano sedikit melipir ke arah kiri agar tidak terlihat oleh beberapa mahasiswa, setelah di rasa aman barulah Edrea menghempaskan tangan Fano begitu saja dengan raut wajah yang kesal.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran mu itu? harusnya kau tadi cukup berakting menyesal saja, apakah itu tidak bisa?" ucap Edrea dengan kesal.
"Aku bahkan tidak melakukan hal apapun, mengapa aku harus menyesal?" ucap Fano dengan nada santainya.
"Kau benar benar kelewatan ya?" ucap Edrea dengan kesal kemudian berbalik badan memunggungi Fano sambil bersendekap dada mengatur nafasnya.
Fano yang melihat Edrea berbalik badan, lantas sedikit mendekatkan tubuhnya karena mencium energi yang familiar di tubuh Edrea saat ini, beberapa kali Fano terlihat menjulurkan lidahnya sambil terus mengendus ke arah Edrea. Fano yang tadinya mengendus sambil memejamkan mata lantas tiba tiba membuka kelopak matanya dan menampilkan manik mata ular tepat ketika ia membuka matanya.
"Ssss heh dia bahkan membagi energinya kepada gadis ini...ssss" ucap Fano dengan lirih sambil mendesis.
"Apa yang kau lakukan?"
Bersambung
__ADS_1