Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Belum saatnya


__ADS_3

"Ayo kita ke sana dan sambut dia, aku yakin dia sedang kebingungan saat ini..." ucap Barra yang lantas langsung membuat Edrea dan juga Max saling pandang satu sama lain dengan raut wajah kebingungan tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Barra barusan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Barra kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya menuju ke arah pintu masuk Stasiun pemberhentian. Sedangkan untuk Edrea dan juga Max yang penasaran akan "dia" yang di maksud oleh Barra, lantas ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Barra menuju ke arah pintu masuk Stasiun Pemberhentian.


Rupanya tidak hanya Barra, Max dan juga Edrea yang menuju ke arah pintu masuk, ketika mereka sudah dekat dengan pintu masuk, mereka bertiga melihat Mira dan juga Wili yang sudah menunggu di sana, jika di lihat dari ekspresi wajah keduanya sepertinya baik Mira maupun Wili mempunyai tujuan yang sama yaitu menunggu kedatangan dia.


"Kau sudah menerima sinyal itu Bar?" tanya Mira ketika melihat Barra mendekat ke arahnya.


"Iya, mungkin sekitar lima menit lagi dia akan masuk." ucap Barra dengan nada yang santai sambil melirik sekilas ke arah arloji yang melingkar di tangannya.


Baru saja Barra mengatakan hal tersebut, secercah cahaya keputihan perlahan lahan mulai terlihat membesar selama beberapa detik kemudian perlahan lahan meredup dan langsung menampilkan sesosok gadis sekitaran usia 17 sampai 19 tahunan tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan raut wajah yang bingung, ketika melihat beberapa orang nampak berkumpul dan menatap ke arahnya.


Barra melihat ke arah gadis itu sejenak, kemudian memberikan kode kepada Edrea agar mendekat ke arahnya.


"Antarkan dia kembali ke dunia dan jelaskan padanya bahwa saat ini belum waktunya ia berada di sini, bantu dia mencari tubuhnya." ucap Barra yang tiba tiba memberikan perintah kepada Edrea membuat Edrea langsung melongo seketika karena terkejut ketika mendengar perintah itu.


"Mengapa harus aku? lagi pula ke mana aku harus mencari tubuhnya?" ucap Edrea dengan tatapan yang bingung sekaligus kesal kepada Barra karena memberinya tugas secara tiba tiba.


"Gunakan akal mu? bukankah kau itu cerdas?" ucap Barra sambil tersenyum mengejek kemudian berlalu pergi dari sana di ikuti dengan Max yang juga ikut beranjak bersama dengan Barra.

__ADS_1


Edrea yang mendengar kata ejekan itu keluar dari mulut Barra tentu saja kesal bukan main, hingga kemudian Mira yang masih berada di sana lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan menepuk bahu Edrea pelan, membuat Edrea yang semula mengira Mira akan mengejeknya juga lantas langsung melengos ke arah Mira.


"Apa" ucap Edrea dengan nada yang ketus ketika Mira menyentuh pundak Edrea barusan.


"Jika Barra mengatakan belum saatnya itu artinya gadis ini masih hidup, carilah dia di Rumah sakit terdekat, aku yakin tubuh gadis ini berada tidak jauh dari tempatnya mengalami kecelakaan." ucap Mira memberikan saran.


Edrea yang sudah berburuk sangka dengan Mira, tentu saja langsung di buat terkejut karena tiba tiba Mira berubah 90 derajat dari biasanya, tidak hanya dalam perilaku namun juga dalam tutur kata Mira benar benar telah berubah, membuat Edrea hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang tidak percaya akan perubahan sikap Mira yang tiba tiba tersebut.


"Ah satu hal lagi... jangan gunakan kemampuan mu dalam misi ini karena apabila ada percikan energi milik mu dan juga gadis itu bercampur, maka gadis itu tidak akan bisa kembali ke tubuhnya." ucap Mira kembali memperingati Edrea agar tidak gegabah dan bertindak lebih hati hati.


"Lalu bagaimana aku mencarinya?" ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang memelas, membuat Mira lantas langsung tersenyum ke arahnya ketika mendengar rengekan Edrea.


Wili yang melihat kepergian Mira, lantas langsung melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Mira yang mulai meninggalkan pintu masuk Stasiun pemberhentian dengan pikiran yang benar benar bingung dan merasa aneh dengan perilaku Mira yang tiba tiba saja berubah kepada Edrea.


"Mengapa Madam aneh sekali hari ini? bukankah biasannya Madam sangat membenci Edrea ya? apa itu hanya perasaan ku saja?" ucap Wili dalam hati bertanya tanya sambil terus mengikuti langkah kaki Mira yang menuju kembali ke ruangannya.


***


Stasiun Kereta

__ADS_1


Edrea nampak menatap ke arah sekeliling mencoba mencari awal mula kecelakaan itu terjadi, jika menurut cerita dari gadis itu semua bermula ketika gadis itu terpeleset dan langsung masuk dan terjepit ke dalam eskalator. Edrea yang tidak ingin membuang buang waktu, lantas mulai melangkahkan kakinya memutari area Stasiun dan mencari setiap tempat yang memiliki eskalator.


Edrea berkeliling dan terus berkeliling mencari di setiap area yang memiliki eskalator, namun walau hampir semua Edrea datangi dan bertanya ke sana ke mari, tidak ada satupun kecelakaan yang terjadi kepada penumpang di Stasiun mereka.


Edrea yang mulai lelah terus berputar putar tanpa kejelasan dan hasil apapun, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dan langsung menatap ke arah sosok roh gadis tersebut.


"Apa kau yakin kau mengalami kecelakaan di sebuah eskalator?" tanya Edrea sambil berkacak pinggang karena mulai kesal tidak mendapatkan informasi apapun sedari tadi.


Sosok roh gadis itu yang mendapat pertanyaan dari Edrea, lantas dengan spontan langsung mengangguk seakan mengiyakan pertanyaan dari Edrea barusan. Namun Edrea yang melihat jawaban dari sosok roh gadis itu hanya mendengus dengan kesal karena ia merasa seperti telah di bohongi oleh gadis itu.


"Jika kau kecelakaan di eskalator, harusnya salah satu spot area yang terdapat di Stadiun ini pastinya adalah tempat terjadinya kecelakaan bukan? lalu mengapa tidak ada satupun orang yang mengetahui tentang kecelakaan tersebut?" ucap Edrea dengan kesal dan nada suara yang tinggi, hingga membuat beberapa orang lantas langsung menatap ke arahnya karena mengira Edrea bukanlah orang yang waras karena berbicara sendiri dengan nada yang marah marah sedari tadi.


Edrea yang sadar mulai menjadi pusat perhatian, lantas mulai memijat pelipisnya dengan perlahan. Ketimbang rasa malu karena di anggap orang gila Edrea lebih merasa kesal dan juga capek karena sedari tadi hanya berputar putar tanpa keberhasilan sedikitpun.


Sebenarnya aku tidak mengalami kecelakaan di Stasiun ini, aku sampai di sini karena aku ikut menaiki kereta menuju ke daerah ini, aku... aku benar benar tidak sadar bahwa aku mengalami sebuah kecelakaan... huhuhu


Ucap hantu tersebut dengan tangis yang tersedu sambil menundukkan kepalanya, namun membuat Edrea terkejut bukan main ketika mendengarnya.


"Apa kau bilang?" pekik Edrea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2