Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Dimana aku?


__ADS_3

Hahahaha


Suara tawa yang menggema di ruangan tersebut lantas membuat Barra menatap ke arah sumber suara. Terlihat Dani tengah bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah di mana Barra berada saat ini.


"Siapa kau sebenarnya?" ucap Barra dengan manik mata yang menatap tajam.


Mendengar pertanyaan tersebut Dani lantas tersenyum ke arah Barra, membuat Barra semakin bingung karena ia tidak mengenali Dani sama sekali. Lagipula yang dicari Barra sedari tadi bukanlah Dani melainkan sosok arwah Steven, jadi bukankah dengan berdiri di sini dan meladeni Dani akan membuang-buang waktunya?


Barra yang tidak kunjung mendengar jawaban apapun dari Dani, lantas berbalik badan dan bersiap untuk pergi dari sana.


"Barra Rafeyfa Zayan, sosok setengah manusia yang telah hidup selama beratus-ratus tahun lamanya, apakah setelah hidup lama... kau sama sekali tidak bisa merasakan apapun? Ckckck dasar payah!" ucap Dani dengan tawa yang menggema, membuat Barra langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Barra yang tadinya hendak pergi keluar, mendengar ucapan aneh dari Dani tentu saja langsung berbalik badan dan melesat ke arah Dani. Di cengkeramnya dengan erat kerah baju Dani sambil menatapnya dengan tatapan yang tajam. Namun Dani sama sekali tidak gentar malah tersenyum meski Barra mencengkeramnya dengan erat.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Berhenti bermain-main dengan ku!" ucap Barra dengan nada yang penuh penekanan.


"Kau kira kau seorang penguasa ha? tuan ku lebih sakti daripada dirimu!" ucap Dani dengan tersenyum.


Barra yang mendengar ucapan Dani tentu saja semakin terpancing kemudian mengangkat tubuh Dani perlahan-lahan semakin tinggi, hingga kaki Dani tidak lagi menyentuh tanah. Dilemparnya dengan kuat tubuh Dani hingga membentur ke dinding dan membuat dinding tersebut retak karena menerima benturan yang kuat itu.


Uhuk uhuk...


Dani terbatuk sambil mengeluarkan darah segar dari mulutnya, namun lagi-lagi bukannya takut Dani malah tersenyum dan mencoba bangkit dari posisinya kemudian menatap ke arah Barra dengan tatapan yang meremehkan.

__ADS_1


"Kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi namun dengan mudahnya terkecoh oleh ku!" ucap Dani seakan kembali memancing Barra agar meluapkan kemarahannya dan melupakan sesuatu.


Barra yang mendengar hinaan tersebut tentu saja terpancing dan kembali melesat ke arah Dani dan langsung menekan bagian dada Dani hingga membuatnya tersudut ke tembok.


"Sudah ku bilang jangan bermain-main dengan ku, kau bahkan hanya manusia biasa tapi berani- beraninya mengganggu ku!" ucap Barra dengan nada yang berbisik sambil terus menekan area dada Dani dan membuatnya kembali memuntahkan darah segar melalui mulutnya.


"Kau.. itu bodoh! Di saat kau berada di.. sini dan terpancing oleh ku, tuan pasti sudah berhasil membawa pelayan mu... uhuk uhuk.." ucap Dani dengan nada yang tersendat karena tekanan yang di berikan Barra di area dadanya semakin terasa kuat.


Barra yang mendengar ucapan dari Dani lantas terdiam sejenak, pikirannya kini bahkan beralih kepada Edrea di mana Barra tadi sempat merasakan aura gelap dari area lantai bawah.


"Sialan!" ucap Barra dengan kesal.


Barra yang marah karena ia telah ditipu lantas semakin memberikan tekanan yang besar kepada Dani, membuat beberapa aura berwarna merah gelap berkumpul di sekitarnya.


Tidak perlu menunggu waktu lama tubuh Dani hancur berkeping-keping dan langsung berhamburan selayaknya kertas yang terbakar oleh api dan terbang. Tidak ada yang tersisa dari tubuh Dani, Barra yang mengerti Dani mempelajari tentang cakra hitam lantas sama sekali tidak memberinya ampun, lagi pula orang yang mempelajari ilmu hitam dan menyesatkan manusia, bukankah mereka tidak pantas hidup?


Setelah Barra berhasil membinasakan Dani, Barra langsung berteleportasi ke lantai bawah dan mencari keberadaan Edrea di sana.


**


Lantai bawah


Tepat setelah Barra berhasil berteleportasi ke bawah, Barra yang melihat pintu terbuka dan suara benda yang terjatuh lantas langsung melesat ke arah sumber suara.

__ADS_1


Barra melihat sebuah cutter jatuh dengan sendirinya tepat di bawah lukisan yang sudah sobek sebagian, Barra yang penasaran akan lukisan itu lantas langsung membuka lukisan tersebut sekaligus mencari tahu apa yang tengah terjadi kepada Edrea.


Sebuah penglihatan yang baru saja terjadi mulai berdatangan memenuhi kepala Barra tepat ketika ia memegang lukisan tersebut. Semua terekam jelas setiap detailnya pada lukisan itu. Hingga ketika penglihatan tersebut sampai di mana Edrea yang di dorong masuk oleh Siluman ular hitam, membuat tangan Barra yang memegang lukisan tersebut langsung mencengkram dengan erat dan detik itu juga melemparkannya ke sembarang arah karena marah ia telah kecolongan, padahal jika tadi Barra memutuskan untuk turun ke bawah dan melihat keadaan Edrea, Barra yakin ia masih sempat menyelamatkan Edrea.


"Siluman ular hitam sialan! lihat saja jika kau sampai melukai Edrea!" ucap Barra dengan tatapan yang penuh dengan kilatan amarah, baru setelah itu melangkahkan kakinya pergi dari sana sambil berteleportasi ke suatu tempat.


***


Sementara itu Edrea yang merasakan dorongan kuat di area belakangnya lantas terjatuh dalam posisi terduduk yang otomatis langsung membuat matanya terbuka dengan lebar. Sambil mengebaskan tangannya yang kotor dan juga perih karena terjatuh tadi, Edrea mulai bangkit dari posisinya dan menatap ke sekitaran yang begitu terasa asing baginya.


Tepat ketika membuka mata, Edrea disuguhkan dengan dirinya yang mendadak berada di hutan lebat yang masih asri dan seperti belum terjamah, hal itu terlihat dari tingginya semak belukar dan juga beberapa tumbuhan liar yang sama sekali tidak pernah ia jumpai walau Edrea sudah pernah naik gunung sekalipun.


Edrea mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencoba mencari tahu di mana ia berada saat ini. Dengan menatap ke arah sekeliling Edrea mulai berteriak dan memanggil nama Barra di sekitaran sana, berharap Barra akan muncul dan menjelaskan segalanya kepada Edrea saat ini, namun sayangnya meski Edrea berteriak ke sana kemari memanggil nama Barra, Barra sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya membuat Edrea mulai merasa frustasi sekaligus bingung, bagaimana bisa dirinya mendadak berada disini? Padahal jelas-jelas Edrea tadi sedang berada di sebuah rumah tingkat mencari sosok arwah Steven Fernando.


Edrea yang mulai lelah terus berteriak dan mencari keberadaan Barra, lantas menghentikan langkah kakinya sambil mengusap rambutnya dengan kasar.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Dimana ini?" ucap Edrea sambil menatap ke sekeliling namun yang ia lihat hanyalah pepohonan dan juga semak belukar yang rimbun sejauh mata memandang.


Ketika Edrea sedang bingung akan apa yang terjadi, sebuah suara yang terdengar dari balik semak-semak lantas mengejutkannya.


Kresek... kresek...


"Siapa di sana?" ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran sekaligus takut akan suara gesekan yang berasal dari semak belukar tak jauh dari tempatnya berdiri barusan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2