Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Aku tidak akan membiarkannya


__ADS_3

"Aku rasa waktunya semakin dekat... Barra .. Barra... bersiaplah akan pengulangan yang akan segera terjadi dalam waktu yang dekat!" ucap Fano dengan tersenyum menyeringai.


"Tidak akan ada yang bisa mengulang masa lalu tetap menjadi sama, walau itu kau sekalipun!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Fano langsung menoleh seketika ke arah sumber suara.


Fano yang terkejut dengan suara tersebut, lantas langsung tersenyum ketika melihat Barra tiba tiba sudah berada di belakangnya dan menatap tajam ke arah Fano seakan tidak menyukai kehadiran Fano di sini. Barra terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fano kemudian berhenti tepat di hadapan Fano dengan tatapan yang masih sama semenjak kedatangannya tadi.


"Jangan berani beraninya kamu menyentuh barang seujung kuku pun Edrea, pengulangan yang selalu kau katakan itu aku tidak akan pernah mengijinkannya terjadi walau kehadiran mu menjadi pertanda sekalipun!" ucap Barra sambil menunjuk bahu Fano cukup keras.


Fano yang mendengar ancaman dari Barra lantas tersenyum dengan sinisnya sambil membuang mukanya ke samping, seakan akan tengah meremehkan Barra saat ini. Sedangkan Barra yang melihat senyuman itu tentu saja semakin di buat marah, Barra bahkan mengepalkan tangannya di bawah dengan erat sambil menatap tajam ke arah Fano saat ini.


"Semua yang sudah di gariskan tetap akan terjadi walau kau mencoba mengacaukannya sekalipun! jangan terus membual dan bermulut besar Bar!" ucap Fano dengan nada yang santai.


Barra yang mendengar ucapan dari Fano tentu saja langsung di buat kesal kemudian mengangkat tangannya dan hendak melayangkan pukulannya kepada Fano, namun sebuah suara dari arah belakangnya lantas langsung menghentikan gerakan Barra dan dengan spontan membawa Fano berteleportasi bersamanya ke sebuah tempat, yang tentu saja sunyi dan sepi di mana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu keduanya.


Seorang satpam yang kebetulan tengah berkeliling melihat seseorang akan bertengkar di lingkungan kampus, lantas langsung berlarian sambil berteriak hendak melerai keduanya, namun ketika satpam tersebut sampai di balik dinding yang berbentuk sudut, dua orang yang di lihatnya tadi sama sekali tidak ada di sana seakan hilang lenyap di telan bumi, membuat satpam tersebut lantas menjadi kebingungan celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan dua orang tadi, tapi nyatanya dua orang yang ia lihat benar benar menghilang dari sana.


"Kemana dua orang tadi? aku tadi jelas jelas melihatnya di sini.." ucap satpam itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


**


Di sebuah bangunan tua


Barra membawa Fano berteleportasi ke sebuah bangunan tua yang tidak berpenghuni, dengan perasaan kesal yang sudah ia tahan sedari tadi Barra lantas langsung menghempaskan tubuh Fano begitu saja, hingga Fano mundur beberapa langkah dari posisinya dan hampir terjatuh jika Fano tidak sigap menyeimbangkan tubuhnya. Fano memperbaiki posisinya dengan gerakan santai sambil mengebaskan bajunya seakan akan tangan Barra yang baru saja menyentuhnya membawa kotoran, membuat Barra semakin tersinggung akan aksi dari Fano barusan.


Barra yang sudah tersulut emosi, lantas langsung melesat ke arah Fano dan mencengkram lehernya dengan erat, membuat Fano yang mendapatkan serangan secara mendadak hanya bisa terdiam tanpa melakukan perlawanan.


"Sebelum kau berhasil melakukannya akan aku pastikan kau yang akan ku binasakan terlebih dahulu!" ucap Barra dengan nada yang penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Fano.


"Oh ya? coba saja kalau kau bisa..." ucap Fano dengan senyum yang mengejek.


Barra memutari bangunan tua itu mencari keberadaan Fano dengan kesal, namun ia sama sekali tidak menemukannya di manapun dan hanya berakhir dengan mendengar tawa Fano yang menggema memenuhi area bangunan tua tersebut yang kosong dan juga sunyi itu.


Hahahaha


"Dasar siluman ular sialan!" teriak Barra dengan kesal ketika ia tidak bisa menemukan keberadaan Fano di manapun.

__ADS_1


***


Ruang kesehatan


Di dalam ruang kesehatan, terlihat Edrea yang tengah menatap kosong ke arah depan memikirkan satu persatu kejadian janggal yang ada dalam dirinya. Kiera yang melihat Edrea hanya diam termenung lantas menjadi bingung harus melakukan apa agar Edrea tidak terus terusan melamun seperti itu. Kiera menghela nafasnya panjang ketika melihat kondisi Edrea yang sedari tadi hanya melamun menatap kosong ke arah depan. Sampai pada akhirnya Kiera yang sudah tidak lagi tahan sekaligus penasaran akan alasan Edrea yang menjadi seperti itu, lantas mendekat ke arah Edrea dan mulai memegang pundak Edrea, hanya saja sebuah reaksi mengejutkan dari Edrea lantas membuat Kiera ikut terkejut ketika mendengar teriakan histeris dari Edrea tepat ketika tangannya menyentuh pundak Edrea.


"Jangan mendekat atau kau akan mati!" pekik Edrea yang lantas membuat Kiera terkejut bukan main ketika mendengarnya.


Edrea yang sadar akan ucapannya barusan, lantas langsung merasa bersalah akan teriakannya yang sudah di pastikan mengejutkan sahabatnya itu. Kiera terdiam sejenak ketika mendengar teriakan Edrea barusan karena ini adalah pertama kalinya Edrea berteriak seperti itu padanya, meski dulu keduanya bertengkar karena Fano yang menyatakan cinta padanya, namun Edrea tidak pernah sekalipun berteriak seperti ini yang lantas langsung membuat Kiera mematung seketika apalagi setelah mendengar kata kata kematian keluar dari mulut Edrea barusan.


"Em.. aku.. aku minta maaf Ki... aku sedang ada masalah akhir akhir ini... aku harap kamu bisa mengerti dan memberi ku waktu untuk menyelesaikannya..." ucap Edrea pada akhirnya yang merasa bersalah karena telah membentak Kiera barusan, Edrea benar benar tidak sadar dan dengan spontan malah berteriak ketika Kiera memegang pundaknya tadi.


Pikiran Edrea yang kacau serta banyaknya kejadian aneh yang menimpanya, membuat otak Edrea terasa penuh dan hampir meledak hingga tanpa sengaja malah berteriak ke arah Kiera yang tidak ada sangkut pautnya dengan rentetan kejadian yang ia alami beberapa waktu ini.


"Tapi kamu kan bisa menceritakannya kepadaku Rea, tidak perlu sampai meluap seperti itu..." ucap Kiera yang seakan merasa tidak di anggap ada oleh Edrea sehingga Edrea lebih memilih untuk memendamnya dari pada berbagi cerita bersamanya.


"Aku.." ucap Edrea namun terpotong ketika suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik ruang kesehatan tersebut terdengar menggema dan menghentikan ucapan keduanya.

__ADS_1


"Maaf menyela, hanya saja Rea kamu harus ikut dengan ku sekarang!" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Edrea dan juga Kiera menoleh ke arah sumber suara.


Bersambung


__ADS_2