
Rumah kontrakan Indri
Indri yang masih ketakutan lantas langsung bergegas menutup pintu rumahnya dan mengambil nafas dalam dalam. Dengan penuh keringat Indri mulai mengedarkan pandangannya ke dalam rumah kontrakannya itu yang terlihat masih gelap karena ia belum menyalakan saklar lampunya.
Dielapnya peluh keringat yang membasahi wajahnya perlahan sambil terus mengambil nafasnya mencoba untuk menenangkan dirinya yang masih ketakutan. Dengan langkah yang perlahan, Indri kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah saklar lampu hendak menyalakannya. Di tekannya sekali saklar lampu itu dan langsung menerangi seluruh ruangan di rumah kontrakannya. Hanya saja baru saja hendak berbalik badan, sebuah angin kencang mendadak berhembus di dalam rumah kontrakannya yang lantas membuat Indri langsung meremang seketika.
"Apa di luar sedang angin kencang? mengapa bisa sampai ke mari anginnya?" ucap Indri pada diri sendiri bertanya tanya.
Tak ingin memikirkan yang tidak tidak, Indri kemudian lantas berlalu dan masuk ke dalam kamarnya hendak mandi kemudian pergi tidur, tubuhnya benar benar sedang tidak enak badan saat ini.
Setelah kepergian Indri dari ruangan tersebut, sebuah gumpalan asap berwarna hitam pekat terlihat membumbung tinggi membentuk sebuah sosok bermata merah menyala. Sosok itu nampak tersenyum sambil menatap ke arah kepergian Indri dengan senyum yang menyeringai. Sosok itu baru menampakkan wujudnya karena Edrea yang sedari tadi terus mengikuti langkah kaki Indri, membuat sosok roh itu memilih untuk bersembunyi agar tidak tercium kehadirannya oleh Edrea.
Aku harus segera menyelesaikannya malam ini juga, sebelum Barra dan juga pengawalnya kembali mengacaukan rencana yang sudah aku susun selama beratus tahun lamanya.
Hari ini adalah malam bulan purnama sekaligus malam berakhirnya penantian panjang sosok roh tersebut dalam menanti reinkarnasi pasangannya itu. Butuh waktu yang sangat panjang hingga pada akhirnya sosok itu bisa menemukan keberadaan seorang manusia reinkarnasi dari kekasihnya dulu.
Sosok itu tersenyum ketika bayangannya tentang masa lampau kembali terkenang di ingatannya, setelah penantian yang cukup lama sosok itu tidak mau lagi membuang waktunya dan semakin menyianyiakan kesempatan yang datang padanya saat ini.
Apapun yang terjadi kau akan tetap ikut dengan ku!
***
__ADS_1
Ruangan Barra
Max yang baru saja keluar dari ruangan Barra setelah membahas tentang roh kayu penunggu pohon. Suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar yang lantas membuat Barra langsung mengernyit ketika mendengar suara ketukan pintu tersebut.
"Bukankah Max baru saja keluar?" ucap Barra dalam hati bertanya tanya.
Tidak ingin hanya bertanya tanya saja, Barra kemudian mempersilahkan seseorang yang berada di luar ruangannya untuk masuk ke dalam. Perlahan lahan pintu ruangannya mulai terbuka dan menampilkan sosok Arya, yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah kursi kebesarannya sambil membawa iPad di tangannya dengan langkah kaki yang bergegas.
"Tuan" sapa Arya ketika ia menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Barra.
Barra yang mendengar sapaan tersebut hanya mengangguk sebentar dan mengiyakan sapaan Arya barusan, Arya kemudian lantas memberikan iPad yang ia bawa sedari tadi kepada Barra dan mulai mengatakan tujuannya datang ke ruangan Barra.
"Saya ingin meminta ijin anda untuk melakukan penjemputan." ucap Arya memberikan penjelasan singkat kepada Barra.
"Bukankah dia gadis itu?" ucap Barra dalam hati ketika melihat sesuatu yang tidak biasa akan sosok arwah yang kemungkinan akan di jemput oleh Arya.
Barra yang yakin akan firasatnya kemudian langsung bangkit dengan tiba tiba, yang tentu saja membuat Arya kebingungan ketika melihat Barra yang tiba tiba saja bangkit setelah membaca informasi yang tertera pada iPad tersebut. Barra melangkahkan kakinya keluar dari kursi kebesarannya dan berhenti tepat di sebelah Arya.
"Kau tak perlu pergi, berikan saja kasus ini kepada Max dan katakan padanya untuk menyusul ku segera di dunia manusia." ucap Barra sambil melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan Arya dnegan raut wajah yang kebingungan.
"Tapi tuan..." ucap Arya namun terpotong ketika melihat tangan Barra yang mengangkat ke atas seakan mengisyaratkan Arya untuk diam.
__ADS_1
"Lakukan saja sesuai perintah ku." ucap Barra sambil berlalu pergi tanpa menoleh kembali ke arah Arya, sedangkan Arya yang mendengar ucapan Barra barusan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Sudahlah... bukan urusan ku juga." ucap Arya sambil menghela nafasnya panjang kemudian ikut berlalu pergi dari ruangan Barra menuju ke ruangan Max seperti perintah dari Barra barusan.
**
Rumah kontrakan Indri
Indri yang baru saja selesai mandi, lantas terlihat sedang memasak mie instan untuk mengganjal perutnya, walau hari ini Indri sedang tidak enak badan tapi setidaknya ia juga butuh asupan untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan itu.
Setelah berkutat dengan mie instant buatannya, perlahan lahan Indri mulai melangkahkan kakinya sambil membawa mis instan di mangkok menuju ke arah ruang tengah dan mengambil duduk di sana. Di seruputnya kuah mie instant favoritnya itu sambil memakan sesuap demi sesuap mie instan dan mulai mengunyahnya secara perlahan.
"Entah mengapa sesakit apapun aku jika makan mie instant rasanya tubuh ku langsung kembali fit..." ucap Indri sambil tersenyum ceria.
Hanya saja di saat Indri tengah menikmati mie instan buatannya, tiba tiba lampu di ruang tengah berkedip kedip dengan cepat membuat Indri langsung bangkit dadi posisinya dan menatap ke arah sekitar. Sebuah hawa dingin kembali terasa menyapa tengkuk Indri ketika ia berusaha mencari penyebab lampunya berkedip kedip hingga pada akhirnya mati total.
Indri berdecak dengan kesal karena mengira ini hanyalah pemadaman listrik pada umumnya dan dengan santainya mulai meraba ponsel yang ada di atas meja kemudian mencari tombol senter di sana, yang bisa ia gunakan untuk penerangan di dalam suasana yang gelap kali ini. Setelah Indri berhasil menyalakan senter di ponselnya, Indri yang hendak melanjutkan makannya lantas di kejutkan dengan mangkok mie instan yang tiba tiba berpindah tempat dan tidak lagi berada di meja ruang tengah.
Indri yang mengetahui hal tersebut tentu saja langsung terdiam sambil mengingat ingat posisi mangkuk mie sebelum lampu padam. Tak ingin memperburuk suasana, Indri kemudian mencoba untuk berpikir positif dan mulai mengarahkan ponselnya untuk mencari keberadaan mangkuk mie miliknya. Hingga ketika sorot cahaya dari senter di ponselnya menangkap sebuah sosok tamu yang tak di undang, Indri yang terkejut dengan spontan menjatuhkan ponsel miliknya dan berteriak karena terkejut.
Aaaaaa
__ADS_1
Bersambung