
Plak...
Sebuah tamparan yang tanpa di duga duga mendadak mendarat di pipi Edrea tepat ketika Mira berdiri di hadapannya. Edrea yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, tentu saja kebingungan dengan maksud dari tamparan Mira kali ini.
"Dasar manusia rendahan... karena ulah mu yang sok kesucian itu Wili pada akhirnya menjadi korban!" teriak Mira yang lantas membuat semua yang ada di sana menatap ke arah Mira.
"Ap.. apa maksudnya?" tanya Edrea yang tak mengerti akan arah pembicaraan dari Mira barusan.
Max yang juga terkejut akan tingkah Mira yang tiba tiba menampar Edrea lantas sedikit membawa mundur tubuh Mira agar menjauh dari Edrea.
"Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?" tanya Max dengan nada yang penuh penekanan.
"Kau diam lah dan tak perlu ikut campur!" ucap Mira sambil mendorong tubuh Max agar menjauh dari dirinya.
Mira yang terlihat sangat marah lantas langsung kembali mendekat ke arah Edrea setelah mendorong tubuh Max sebelumnya.
"Jika kau memang tidak bisa berdiri sendiri di kaki mu.. jangan pernah libatkan anak buah ku dalam ketidakberdayaan mu itu." ucap Mira dengan nada yang sinis sambil mendorong bahu Edrea cukup keras.
Edrea yang benar benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi hanya bisa menatap kebingungan atas segala perlakuan Mira padanya.
"Ada apa ini sebenarnya? aku benar benar tidak mengerti tuduhan yang kau ucapkan padaku." jawab Edrea dengan wajah yang bingung.
Max yang merasa suasananya sudah mulai panas lantas langsung menjentikkan jarinya dan membawa Edrea dan juga Mira berteleportasi ke sebuah ruangan di apartment yang lebih sepi dari tempat sebelumnya.
"Kau tahu? karena wajah sok polos mu itu, Barra memberi hukuman pada Wili untuk menjadi masinis di gerbong dark! hanya karena Barra mengira bahwa apa yang terjadi padamu adalah tanggung jawab Wili, bukankah itu sangat tidak adil?" ucap Mira dengan nada yang setengah berteriak.
Max yang merasa ini sudah keterlaluan, lantas menarik tangan Mira untuk mundur kemudian membawanya berteleportasi dan pergi dari Edrea.
Sedangkan Edrea yang baru saja mendengar ucapan dari Mira barusan, lantas terkejut bukan main padahal ia baru saja mengetahui makna di balik wajah masam masinis kereta gerbong dark dan saat ini tiba tiba Wili malah di hukum dengan mengemban tugas itu karena dirinya.
"Bagaimana bisa Barra melakukan hal itu?" ucap Edrea dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Edrea yang tidak bisa tinggal diam begitu saja ketika melihat hal tersebut, lantas langsung bergegas pergi dari Apartment menuju ke arah ruangan kerja Barra.
**
Ruangan Barra
Edrea yang sudah tidak tahan lagi lantas langsung membuka pintu ruangan Barra begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Barra yang tengah duduk di kursi kebesarannya lantas tersenyum sinis ketika melihat kedatangan Edrea dengan wajah yang seperti itu.
"Apakah kau tidak punya sopan santun sama sekali?" ucap Barra dengan nada yang datar sambil terus membalikkan dokumen yang sedang ia baca saat ini.
"Oke maaf kalau aku lancang, hanya saja kedatangan ku ke sini untuk..." ucap Edrea namun terpotong karena Barra yang tiba tiba berbicara.
"Untuk protes akan tugas yang aku berikan kepada Wili bukan?" ucap Barra dengan santainya namun lantas membuat Edrea melongo ketika mendengarnya.
"Kau sudah tahu?" tanya Edrea dengan tatapan yang tidak percaya.
Mendengar pertanyaan tersebut Barra lantas bangkit dan menaruh dokumen tersebut di meja miliknya.
"Apa yang tidak aku ketahui?" ucap Barra dengan senyum yang mengembang.
Barra yang merasa bahwa Edrea terus memukulnya, lantas langsung menghentikan tangan Edrea agar tidak bergerak dengan posisi sedikit menunduk mencoba menyamai tinggi badan Edrea.
"Dasar gadis bodoh, aku melakukan ini untuk mu. Apakah kau mengira lepasnya arwah Yoga hanyalah sebuah kebetulan? semua orang di sini sudah terlatih dan mereka mempunyai kemampuan masing masing, bukankah itu sangat aneh jika arwah bisa kabur begitu saja padahal di jaga oleh dua penjemput arwah yang profesional sekaligus?" ucap Barra yang lantas membuat Edrea terdiam seribu bahasa.
Barra yang melihat Edrea terdiam lantas melepaskan cengkeramannya pada tangan Edrea kemudian membenarkan posisinya.
"Berarti kejadian kemarin di sengaja?" tanya Edrea pada akhirnya.
"Menurutmu?" tanya Barra balik.
"Pantas saja aku merasa ada yang aneh pada Wili waktu itu." ucap Edrea sambil mengingat ingat gelagat yang di tunjukkan oleh Wili.
__ADS_1
"Aku rasa semua yang terjadi kemarin sudah di setting oleh seseorang, dia ingin mengetes secara tidak langsung kemampuan mu dan aku yakin kau tahu persis siapa orang yang ku maksud." ucap Barra dengan santainya.
"Maksud mu Mira?" tanya Edrea yang lantas di balas Barra dengan anggukan kepala.
"Jika kau sudah mengetahuinya, lalu... apakah kau akan tetap protes akan tugas yang ku berikan kepada Wili?" tanya Barra mencoba memancing Edrea. Barra benar benar penasaran mana yang akan di pilih oleh Edrea kali ini.
***
Kembali pada Mira dan juga Max yang berteleportasi menjauh dari Edrea.
Mira yang mengetahui Max membawanya berteleportasi lantas langsung memukul tubuh Max dengan energinya, membuat Max lantas terpental cukup jauh dari posisinya.
"Kau sudah gila ya!" sentak Max yang terkejut dengan serangan yang tiba tiba.
"Kau yang sudah gila! aku jelas jelas hendak memberi pelajaran pada manusia itu, tapi kau malah membawa ku berteleportasi hingga ke tempat ini!" teriak Mira dengan nada yang kesal pada Max.
Max yang mendengar teriakan Mira lantas melesat dan berhenti tepat di hadapan Mira.
"Kau jangan bodoh Mir, semakin kau bersikap agresif pada sesuatu milik tuan Barra, ia akan semakin membuat mu menderita. Kau bahkan sudah merasakannya berkali kali bukan? apakah kau tidak belajar dari yang sudah sudah?" ucap Max mencoba memberikan pengertian kepada Mira.
"Aaaaaaaaa benar benar menyebalkan!" teriak Mira dengan nada yang kesal.
"Lagi pula apa yang ingin kau ketahui dari pelayan itu sehingga kau terus terusan bersikap seperti ini ha?" ucap Max dengan raut wajah yang penasaran.
"Itu bukanlah urusan mu!" ucap Mira kemudian menghilang dari pandangan Max, membuat Max yang melihat Mira berteleportasi hanya bisa menghela nafasnya panjang.
**
Ruangan Barra
"Jadi katakan padaku, apa keputusan yang akan kau ambil kali ini?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran meski sebenarnya tanpa di tanya pun Barra sudah dapat menebak keputusan apa yang akan di ambil oleh Edrea kali ini.
__ADS_1
"Aku... aku..." ucap Edrea dengan nada yang bingung.
Bersambung