
"Ternyata dia lumayan juga." ucap Wili yang melihat mode garang Edrea ketika menghadapi sosok arwah Sumi.
Sedangkan Mira yang melihat Edrea begitu garang hanya tersenyum simpul kemudian detik berikutnya kembali ke mode dingin. Mira berdehem sejenak yang lantas membuat Edrea dan juga Wili dengan spontan menatap ke arah Mira, dengan memasang posisi bersendekap dada Mira kemudian mengambil alih berbicara dengan sosok arwah tersebut.
"Ampuni saya... ampuni saya... saya berjanji akan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, jika kalian bersedia memberiku kesempatan yang kedua kalinya." ucap sosok arwah Sumi sambil menangis dengan tersedu sedu.
"Tugas kami di sini hanya untuk menjemput mu... jika kamu ingin memohon pengampunan, mintalah kepada sang pencipta hidup bukan kepada kami makhluk ciptaan Nya." ucap Mira dengan nada yang ketus membuat Edrea lantas manggut manggut ketika mendengar ucapan dari Mira barusan.
Mendengar ucapan Mira barusan membuat sosok arwah Sumi semakin di buat ketar ketir dan juga ketakutan, Sumi nampak menunduk sambil menatap ke arah sekitar seakan mencoba untuk mencari cara agar bisa kabur dan tidak perlu bertanggung jawab akan semua kesalahan yang telah ia perbuat selama masa hidupnya. Sumi yang mulai memikirkan jalan keluar, lantas berniat melarikan diri dengan cara melipir dan langsung berlari kabur dari Mira dan juga Edrea. Hanya saja sayangnya, Mira yang sudah hapal dengan sifat sifat para arwah yang selalu saja begitu, kemudian dengan spontan langsung melesat dan berhenti tepat di hadapan Sumi, membuat Sumi terkejut seketika di saat melihat Mira mendadak muncul di hadapannya.
Sumi yang terkejut ketika melihat Mira dihadapanya, membuat Mira langsung melipir ke samping hendak kembali kabur namun Edrea datang tepat waktu dan menghentikan langkah kaki Sumi yang hendak kabur dari sana. Wili kemudian melangkahkan kakinya secara perlahan ke arah ketiganya yang kini sedang terlihat saling tatap satu sama lainnya.
"Silahkan ikut dengan saya menuju ke Stasiun pemberhentian, jangan coba coba kabur karena itu hanya akan berakhir dengan sia sia." ucap Wili kemudian.
Pada akhirnya walau Sumi berniat untuk kabur sekalipun, tetap saja baik Mira maupun Edrea pasti bisa menangkap sosok arwah Sumi kemanapun ia pergi.
"Saya permisi dulu madam" ucap Wili kemudian sambil menuntun sosok arwah Sumi untuk menuju ke arah Stasiun pemberhentian.
Setelah Wili berpamitan dan menghilang dari sana, kini hanya tersisa Edrea dan juga Mira di sana dengan keadaan rumah yang sunyi sepi di sertai dengan bau anyir darah yang menyeruak memenuhi indra penciuman. Ditatapnya Mira dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan, membuat Mira lantas langsung mengangkat kedua alisnya seakan bertanya kepada Edrea akan arti dari tatapannya barusan.
__ADS_1
"Apa kita akan mengejar arwah pendendam itu?" tanya Edrea kemudian.
"Tentu saja, kau sudah pernah mempelajarinya bukan? jadi aku rasa kali ini akan terasa lebih mudah untuk mu..." ucap Mira dengan nada yang santai.
"Em.. sudah sih tapi aku tidak terlalu yakin." ucap Edrea dengan ragu ragu.
Mendengar ucapan Edrea barusan, Mira hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan Edrea dengan erat membawanya pergi dari rumah tersebut.
"Tidak usah terlalu di pikirkan, cukup jalani saja dan coba... aku rasa hanya itu kuncinya." ucap Mira dengan nada yang santai sambil terus membawa Edrea pergi meninggalkan rumah tersebut.
***
Di Hutan Jati
Sedangkan Baron yang juga ikut melihat perwujudan dari sosok itu hanya terdiam di tempatnya, jujur saja sebenarnya tangannya kini bahkan sudah bergetar dengan hebat ketika melihat sosok tersebut, namun sebisa mungkin Baron mencoba untuk tidak menunjukkannya agar Pras tidak ikut ketakutan.
Sosok tersebut melayang dan melayang semakin mendekat ke arah Baron dan juga Pras, membuat kedua pria itu lantas langsung menelan salivanya dengan kasar karena kedua kaki mereka mendadak lemas namun juga terasa kaku seakan tidak bisa di gerakkan sama sekali. Tidak ada pilihan lain selain hanya diam dan menatap ke arah sosok itu dengan raut wajah yang pucat. Sosok tersebut nampak tertawa ketika melihat Baron dan Pras seperti mati kutu melihat dirinya.
Apa kalian sudah puas bisa membawa kabur uang ku? apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja dan membawa segala jerih payah ku... Jangan pernah bermimpi!
__ADS_1
Teriak sosok itu yang lantas membuat Baron terdiam seketika, mencerna setiap ucapan yang keluar dari muluk sosok itu. Hingga ketika sebuah adegan yang baru saja terjadi mendadak terlintas di pikiran Baron, membuat Baron lantas semakin terdiam seketika.
Melihat Baron terdiam seperti tengah mengingat sesuatu, membuat sosok tersebut lantas semakin terbang mendekat ke arah Barron dan berhenti tepat di telinga sebelah kiri Baron seakan ingin membisikkannya sesuatu.
Apa kau sudah mengingatnya? akulah juragan Karna yang kau lenyapkan menggunakan sebilah golok mu itu hahahaha
Mendengar bisikan tersebut seakan langsung mengiyakan segala praduga yang sedari tadi berputar di kepala Baron namun bingung hendak bertanya kepada siapa, sedangkan Pras yang mendengar suara tawa menggelegar barusan, hanya bisa terdiam di tempatnya sambil merasakan sesuatu yang hangat mengalir secara perlahan di celananya tanpa bisa ia tahan ataupun cegah.
Baron yang mencium ada bau bau tidak asing di sekitarnya, lantas menoleh ke arah Pras dengan tatapan yang tajam karena ia yakin bau tidak enak ini berasal dari Pras.
"Kau kencing ya?" pekik Baron yang langsung membuat Pras tersenyum dengan garing di sela sela ketakutan yang datang kepadanya.
Baron yang melihat senyuman Pras yang seakan membenarkan pertanyaannya, membuat Baron lantas berdecak kesal. Sedangkan sosok makhluk yang melihat tingkah laku keduanya itu, semakin di buat kesal karena baik Baron ataupun Pras sama sekali tidak menyadari kesalahannya dan malah ribut masalah kencing di celana.
Kau benar benar manusia tidak punya hati! Arggg.......
Pekik sosok makhluk tersebut dengan keras, membuat Baron dan juga Pras langsung dengan spontan menatap ke arah sosok makhluk itu yang kini terlihatlah sangat marah menatap ke arah mereka berdua. Baron dan Pras yang melihat sosok itu marah tentu saja langsung berusaha kabur demi untuk menghindari amukan sosok gumpalan asap itu.
Sebelum keduanya berhasil kabur dari posisinya makhluk itu sudah lebih dulu mencengkram kedua leher perampok itu dengan erat, hingga membuat kaki keduanya tidak lagi menapak dengan tanah.
__ADS_1
"Hentikan!"
Bersambung