Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Belajar suatu hal penting


__ADS_3

"Memang benar tuan, hanya saja perasaan euforia yang terlalu berlebihan membuat kerja jantung nek Darsih bekerja lebih cepat sehingga mempercepat waktu kematiannya." ucap Max menjelaskan, membuat Barra langsung terdiam seketika di saat mendengarkan penjelasan tersebut.


"Tunda sebentar lagi." ucap Barra kemudian memberikan perintah.


"Tapi tuan..." ucap Max hendak menyela namun langsung di potong oleh Barra.


"Lakukan saja sesuai agenda awal yang tertulis di sana, jangan membantah dan juga jangan mengeluh, lakukan saja semua sesuai perintah ku!" ucap Barra sambil menatap lurus ke arah dalam, di mana nek Darsih, Edrea dan juga Kiera terlihat tengah melayani pelanggan dengan raut wajah yang bahagia.


"Biarkan nek Darsih merasakan kebahagian sekali saja sebelum ajalnya tiba." ucap Barra lagi yang lantas membuat Max dan juga Arya terdiam dan tidak bisa lagi mengelak akan perintah dari Barra.


****


Malam harinya


Satu persatu pelanggan sudah mulai meninggalkan kedai teh tersebut, termasuk Kiera yang kini tengah berpamitan dengan Edrea di depan kedai nek Darsih.


"Terima kasih banyak atas hari ini Ki... aku sangat senang kamu mau membantu ku." ucap Edrea sebelum kepergian Kiera.


"Ini hanyalah sebuah hal kecil tidak perlu di besar besarkan seperti itu, aku pulang dulu ya... jika butuh sesuatu kabari saja aku." ucap Kiera lagi yang lantas di balas Edrea dengan anggukan kepala.


Setelah kepergian Kiera dari sana Barra terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada saat ini.


"Hari ini kamu sudah melakukan yang terbaik." ucap Barra yang langsung membuat Edrea menoleh seketika ke arah sumber suara.


"Benarkah?" tanya Edrea dengan nada yang menggoda sambil tersenyum lebar ke arah Barra.


"Ya... apakah kamu puas?" ucap Barra kemudian sambil memutar bola matanya dengan jengah, sedangkan Edrea yang melihat reaksi dari Barra malah tertawa dengan keras karena ekspresi Barra benar benar lucu menurut Edrea.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Edrea sambil memasang raut wajah yang serius, membuat Barra langsung menghela nafasnya dengan panjang.

__ADS_1


"Sudah saatnya..." ucap Barra kemudian dengan nada yang lirih membuat Edrea lantas tersentak seketika.


"Apa..." ucap Edrea namun terpotong karena mendengar suara benda jatuh yang cukup keras dari arah dalam kedai.


Prang....


"Nenek!" pekik Edrea yang begitu terkejut ketika mendengar suara benda jatuh tersebut.


Edrea kemudian lantas berlarian ke arah dalam dan meninggalkan Barra begitu saja di luar tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Barra yang melihat kepergian Edrea hanya bisa mengikuti langkah kaki gadis itu masuk ke dalam.


***


Di dalam kedai


"Nenek" pekik Edrea ketika melihat nek Darsih sudah kejang kejang di lantai dengan posisi yang terlentang.


Edrea yang melihat kondisi nek Darsih, lantas langsung berlarian menghampirinya dan mendekap tubuh tua renta itu. Sedangkan Barra yang sudah mengetahui ini akan terjadi hanya melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusul ke arah di mana Edrea berada.


Barra yang mendengar rengekan dari Edrea, lantas hanya diam sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, seakan mengatakan kepada Edrea bahwa semua yang ia lakukan akan sia sia.


"Tidak bisa gitu dong Bar... Bar... hiks... hiks..." panggil Edrea dengan nada setengah berteriak hingga kemudian tubuh nek Darsih yang semula kejang dan manik matanya menatap ke atas, perlahan lahan mulai lemas dan pada akhirnya tidak lagi bergerak sama sekali, membuat tangis Edrea langsung pecah seketika di saat mengetahui Fakta bahwa nek Darsih telah meninggal dunia.


"Bangunlah Rea dan lakukan tugas mu!" perintah Barra kemudian sambil bangkit dari posisinya.


"Tapi... aku..." ucap Edrea tersendat sendat karena menangis.


"Kamu adalah seorang manusia yang di beri tugas istimewa untuk menjemput para arwah menuju ke Stasiun Pemberhentian, jika kamu lemah seperti ini maka kamu tidak akan sanggup untuk melihat berjuta juta kematian yang terjadi setiap detiknya di seluruh penjuru dunia. Bangun dan laksanakan tugas mu karena sebentar lagi arwah nek Darsih akan keluar dari tubuhnya." ucap Barra dengan nada yang datar, membuat Edrea langsung mengelap ingusnya yang terus turun sedari tadi.


Diusapnya air mata yang keluar dari matanya dengan kasar, hingga kemudian sebuah iPad mendadak muncul di tangannya, membuat Edrea langsung menatap ke arah layar iPad tersebut sambil menghela nafasnya dengan panjang.

__ADS_1


"Nek Darsih Laksmani, waktu mu di dunia telah berakhir... kamu... kamu sudah melakukan segala hal yang terbaik selama masa hidup mu, ijinkan saya Edrea mengantarkan anda menuju Stasiun Pemberhentian sebelum pada akhirnya naik ke atas." ucap Edrea dengan bibir yang bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Kalian berdua..." ucap arwah nek Darsih dengan bingung menatap ke arah Edrea dan juga Barra secara bergantian.


"Saya dan juga Barra akan mengantar kepergian anda, mari..." ucap Edrea lagi sambil menunjukkan jalannya kepada nek Darsih.


Nek Darsih yang melihat Edrea lantas langsung tersenyum, nek Darsih benar benar tidak menyangka bahwa Edrea dan juga Barra adalah seseorang yang akan menjemputnya ketika ia telah tiada.


Pada akhirnya Edrea menuntun arwah nek Darsih menuju ke Stasiun Pemberhentian, sedangkan Barra hanya melihat segala prosesinya tanpa berkomentar sama sekali.


Seulas senyum terbit dari wajah Barra ketika Edrea menuntun nek Darsih masih dengan sesekali mengelap ingusnya yang turun tanpa alasan.


"Aku harap dia belajar hal yang penting dari penjemputan arwah kali ini." ucap Barra dengan nada yang lirih sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Edrea dan juga nek Darsih.


****


Kampus


Dari arah lorong, terlihat Arhan tengah melangkahkan kakinya dengan langkah yang terburu buru menuju ke arah gudang, setelah mendapat pesan singkat dari seseorang, Arhan yang tengah menahan emosinya ketika melihat isi dari pesan singkat tersebut langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang.


"Di mana kamu? jangan bermain main dengan ku kau! kau kira kau siapa ha? keluar" teriak Arhan begitu ia sampai di dalam gudang dengan kondisi gudang yang gelap gulita tanpa penerangan sama sekali kecuali sinar mentari yang masuk melewati celah celah kaca jendela dan kusen pintu.


Sebuah mata berwarna hijau layaknya seekor ular nampak terlihat menyala di antara gelapnya ruangan tersebut, suara desisan ular mendadak terdengar membuat Arhan yang tadinya kesal bukan main lantas langsung celingukan mencari ke arah sumber suara.


Wusshh...


Sebuah bayangan di tengah gelapnya ruangan gudang terlihat melesat dengan cepat ke arah Arhan, membuat Arhan menjadi terkejut akan kehadiran sosok tersebut yang datang dengan tiba tiba.


"Kau!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2