
"Katakan padaku dengan sejujurnya, apa yang terjadi dengan ku, kamu dan juga Siluman ular tersebut di masa lalu?" ucap Edrea dengan tiba tiba yang lantas membuat Barra terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.
"Ada apa ini? mengapa kau tiba tiba menanyakan hal tersebut?" tanya Barra dengan tatapan yang bingung karena Edrea tiba tiba menanyakan hal tersebut langsung pada intinya tanpa berbasa basi sama sekali.
"Katakan saja padaku Bar! apa susahnya sih?" pekik Edrea dengan kesal karena Barra hanya diam saja dan terus berputar putar tanpa menjawab pertanyaan dari Edrea sama sekali.
Barra yang di tanya seperti itu oleh Edrea lantas bingung harus menjawab apa, masalahnya masa lalu ketiganya bukanlah masa lalu yang bahagia ataupun menyenangkan, masa lalu mereka sangat kelam dan tidak pantas untuk kembali di kenang maupun di bicarakan seperti ini.
Pikiran Barra melayang jauh memutar kembali memori masa lalu yang mungkin kini sudah terkubur dalam dalam karena Barra tidak ingin mengingatnya sama sekali. Barra memalingkan mukanya seakan enggan untuk menatap Edrea saat ini, membuat Edrea menyadari satu hal bahwa apa yang ia tanyakan mungkin menjadi luka terdalam untuk seseorang, bukankah Edrea terlalu egois jika hanya mementingkan dirinya sendiri saja?
Edrea yang tidak mendapat jawaban apapun dari Barra, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sofa dan langsung duduk di sana dengan tenang dan tanpa bersuara lagi, membuat Barra langsung menoleh ke arah Edrea karena tumben Edrea tidak terus memaksanya untuk menjawab dan langsung diam seperti itu. Namun entah mengapa bagi Barra malah terasa aneh jika melihat kediaman Edrea yang seperti itu, jika harus memilih mungkin Barra akan lebih menyukai suara berisik dan merepet dari Edrea daripada sikap diam Edrea yang seperti ini.
***
Sementara itu di sebuah Stasiun Kereta, terlihat seorang wanita muda tengah melangkahkan kakinya dengan terburu buru menuju ke arah eskalator sambil membawa beberapa barang bawaannya itu, sepertinya gadis tersebut sedang terburu buru karena mengejar waktu keberangkatan kereta.
"Ah mengapa aku bisa bangun kesiangan sih? semoga saja masih sempat." ucap gadis itu sambil terus berlari menuju ke arah eskalator terakhir yang harus ia turuni untuk menuju ke gerbong kereta.
Gadis itu terus berlari dan berlari mengejar waktu, hingga tanpa sadar bahwa pijakan kakinya yang hendak menuruni eskalator tidaklah stabil dan alhasil membuatnya terjatuh dan langsung terjepit eskalator.
Teriakan beberapa orang yang melihat kejadian tersebut, lantas menggema memenuhi area Stasiun tersebut. Beberapa petugas keamanan nampak berlarian untuk menghentikan laju eskalotor tersebut agar tidak semakin menghimpit bagian kaki gadis itu.
__ADS_1
***
Ruangan Mira
Sementara itu di ruangannya Mira nampak terdiam sambil termenung memikirkan kembali ingatan masa lalu yang ia dapat secara tiba tiba setelah memakan apel tersebut. Sebuah kejadian aneh lantas terjadi ketika Mira sudah memakan apel pemberian Barra tersebut, di mana sebagian apel yang masih ada di kresek mendadak layu atau bahkan busuk tepat setelah Mira memakan satu apel, rasanya seperti apel apel tersebut memang menunggu hingga Mira memakannya barulah mereka busuk.
Mira tidak tahu dengan jelas apakah semua ini adalah ulah Barra atau bukan, yang jelas lewat gigitan apel tersebut Mira jadi mengetahui jika ia dan juga Edrea memiliki hubungan di masa lalu yang membuat keduanya lantas terhubung di masa sekarang, walau dengan cara yang berbeda.
Mira yang mengingat kenangan masa lalu tersebut, mendadak lantas langsung berdecak dengan kesal seakan tidak terlalu menyukai dengan kenyataan yang baru saja ia terima dari masa lalu.
"Ah mengapa harus berhubungan sih?" ucap Mira sambil berdecak kesal ketika bayangan Edrea dan juga dirinya kembali terlintas di benaknya, hingga sebuah suara ketukan pintu lantas terdengar menggema dan membuyarkan lamunannya.
"Masuk" ucap Mira kemudian kepada si pengetuk pintu di luar.
"Maaf mengganggu Madam, saya menemukan sinyal aneh di sekitaran Stasiun melalui system, hanya saja setelah saya mencoba untuk mencari tahu tentang hal itu, saya tidak menemukan apapun walau saya sudah memutari area Stasiun." ucap Wili memberikan laporan kepada Mira.
"Apakah Barra sudah mengetahui akan sinyal ini?" ucap Mira bertanya tanya.
"Sepertinya sudah, karena saya juga melihat Max berkeliling Stasiun seperti tengah mencari sumber sinyal tersebut, saya yakin sebentar lagi mungkin tuan Barra akan segera bertindak." ucap Wili kembali menjelaskan.
"Lalu di mana sumber sinyal tersebut berasal?" tanya Mira kembali.
__ADS_1
"Sinyal tersebut berasal dari gerbang utama, sepertinya akan ada yang berusaha masuk ke Stasiun Pemberhentian ini." ucap Wili lagi
Mendengar perkataan Wili barusan, membuat Mira lantas langsung menutup semua berkas dokumen di mejanya kemudian bangkit berdiri bersiap untuk mengecek tentang sinyal aneh yang di tangkap oleh sistem. Wili yang melihat Mira mulai bergerak lantas ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Mira keluar dari ruangannya.
***
Sementara itu Max yang juga mendapatkan sinyal yang sama seperti Wili, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke ruangan Barra. Max yang sudah terburu buru untuk memberikan informasi kepada Barra, sampai lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung menyelonong masuk begitu saja.
Bruk
Suara pintu yang terbuka dengan lebar, lantas mengejutkan Barra dan juga Edrea yang sedari tadi sedang dalam posisi keheningan tanpa pembicaraan. Sedangkan Max yang baru saja masuk dan melihat wajah datar Barra dan juga Edrea, lantas merasa tidak enak dan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak bisakah kalian masuk ke ruangan orang dengan permisi? tidak kau dan kau... semuanya sama dan tidak punya sopan santun!" ucap Barra dengan nada yang ketus namun malah membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar ucapan sindiran dari Barra barusan.
"Maaf tuan... karena ini penting saya jadi terburu buru dan lupa untuk mengetuk pintunya." ucap Max merasa bersalah.
Dengan perasaan yang kikuk Max kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra dan juga Edrea berada, hendak melaporkan sesuatu kepada tuannya.
"Maaf tuan, saya menerima sinyal aneh dari sistem tepat di pintu masuk Stasiun Pemberhentian." ucap Max melaporkan.
Sedangkan Barra yang mendengar laporan tersebut hanya tersenyum seakan menanggapinya dengan santai tanpa raut wajah kebingungan sama sekali di wajahnya.
__ADS_1
"Ayo kita ke sana dan sambut dia, aku yakin dia sedang kebingungan saat ini..." ucap Barra yang lantas langsung membuat Edrea dan juga Max saling pandang satu sama lain dengan raut wajah kebingungan.
Bersambung