
Seekor ular dengan ukuran yang besar dan sangat panjang terlihat merayap mendekat ke arah gadis yang berwajah mirip Edrea, Barra yang melihat ular tersebut semakin mendekat lantas langsung berlarian berusaha untuk menyelamatkan gadis tersebut dari ular besar itu.
"Awas!" teriak Barra ketika melihat ular tersebut membuka mulutnya dengan sangat lebar.
Ketika jarak keduanya semakin dekat, ular tersebut terlihat langsung memasuki raga gadis itu dengan cara memasukkan tubuh gadis itu ke dalam mulutnya yang besar. Tepat setelah ular tersebut melahap gadis tersebut, sosok ular itu langsung lenyap seakan masuk ke dalam tubuh gadis itu dan langsung mendekat ke arah Barra yang hendak melangkah mendekat ke gadis tersebut.
"Takdir akan segera terjadi... akan segera terjadi!" ucapnya dengan mendesis tepat di telinga Barra membuat Barra langsung terdiam seketika.
**
Hhhhhhh
Barra terbangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah membasahi baju yang ia kenakan.
Diusapnya dengan kasar wajahnya sambil mulai mengatur nafasnya perlahan yang masih terasa ngos ngosan.
"Apa... apakah ini sudah di mulai?" ucap Barra pada diri sendiri sambil mengarahkan rambutnya ke belakang dengan kasar.
****
Pagi itu di kampus
Edrea terlihat melangkahkan kakinya dengan cemberut, mendekat ke arah Kiera yang sudah menatapnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya ketika melihat kedatangan Edrea di sana.
Hari ini adalah hari keberangkatan untuk event penanaman kembali sekaligus pengenalan kepada mahasiswa tentang beberapa tumbuhan langka yang hanya hidup dan berkembang biak di hutan.
"Apa semua perlengkapan mu sudah oke? kamu membawa semua yang aku suruh kan?" tanya Kiera ketika melihat wajah di tekuk Edrea.
"Sudah nyonya..." ucap Edrea dengan kesal.
"Bagus, ayo kita naik ke Bus sekarang mereka pasti sudah menunggu di dalam." ajak Kiera sambil menarik tangan Edrea untuk mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam Bus.
Ketika Edrea dan juga Kiera masuk suasana Bus sudah ramai dengan beberapa mahasiswa yang ikut dalam event ini, Edrea yang tadinya masuk dengan ogah ogahan mendadak langsung merubah raut wajahnya, ketika melihat Fano ternyata juga ikut dalam event ini.
Kiera yang juga melihat perubahan ekspresi wajah Edrea, lantas langsung menyikut sahabatnya itu kemudian tersenyum ke arahnya.
"Gimana?" ucap Kiera dengan senyum yang mengembang.
"Gila, kamu tahu apa yang aku inginkan rupanya..." ucap Edrea sambil membalas senyuman Kiera barusan.
"Yuk duduk..." ajak Kiera kemudian melangkahkan kakinya ke arah kursi yang berjumlah dua orang dan mengambil duduk di sana, dengan posisi Kiera di sebelah kaca sedangkan Edrea di sebelahnya tepat bersebelahan dengan Fano.
"Hai..." sapa Edrea kepada Fano yang menatap ke arah keduanya sedari tadi.
"Hai juga, have fun ya..." ucap Fano ketika mendengar sapaan dari Edrea barusan, membuat Edrea semakin kesemsem dan senyum senyum tidak jelas.
__ADS_1
"Bae baek kamu nanti yang ada malah kesurupan senyam senyum sendiri." bisik Kiera dengan nada yang menggoda kepada Edrea.
"Diem jangan berisik!" ucap Edrea dengan nada yang memperingati.
Tidak beberapa lama Bus mulai berjalan meninggalkan kampus menuju ke sebuah tempat yang terletak di salah satu hutan di Indonesia yang masih sangat asri dan jarang di jamah oleh manusia.
***
Sementara itu setelah Barra bermimpi tentang ular tersebut, Barra lantas langsung bangkit dan bersiap untuk menemui Edrea sekaligus memantau keadaan Edrea.
"Tuan anda hendak kemana?" tanya Max ketika melihat Barra terburu buru berjalan meninggalkan ruangannya.
"Aku akan ke dunia manusia sebentar." jawab Barra ketika berpapasan dengan Max di pintu ruangannya.
"Apakah ada misi khusus tuan?" tanya Max dengan nada yang penasaran.
"Tidak, aku tidak akan lama" jawab Barra dengan nada yang singkat kemudian menjentikkan jarinya dan berteleportasi meninggalkan Stasiun pemberhentian.
**
Barra sampai tepat di dalam kamar Edrea, namun ketika ia sampai di sana kamarnya terlihat kosong dan sudah rapi yang menandakan bahwa Edrea tidak sedang berada di kamarnya.
"Kemana gadis itu?" ucap Barra dalam hati bertanya tanya.
Namun walau seluruh bangunan kampus ia jelajahi tetap saja tidak menemukan Edrea di manapun, membuat Barra lantas mengusap wajahnya dengan kasar karena kesal.
Barra menghentikan gerakannya sejenak dan mencoba berpikir di mana Edrea sebenarnya.
"Aku menemukannya..." ucap Barra kemudian setelah beberapa menit memfokuskan dirinya dan mencari keberadaan Edrea.
**
Di dalam Bus
Suasana di dalam Bus terlihat sangat ceria, seluruh mahasiswa bahkan nampak bersorak gembira ketika salah satu dari mereka maju dan membawakan sebuah lagu lama milik boyband smash namun masih enak di dengar hingga saat ini.
Kau buatku
gerah-rah-rah-rah
Ini lebih dari sekedar rasa
Atau ilusi
semata-ta-ta-ta
__ADS_1
Kau buatku
bergairah-rah-rah-rah
Kau buatku saja
Kau buatku saja
Kau buatku saja
Lantunan lagu tersebut terdengar memenuhi Bus, hingga mahasiswa yang bernyanyi melemparkan musiknya barulah semua ikut bernyanyi dan berdendang bersama mengikuti alunan lagu.
Edrea benar benar tersenyum puas menikmati nuansa yang begitu ceria ini, hingga kemudian ia di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang tak di duganya muncul tepat di tengah tengah jarak antara kursinya dan juga kursi Fano.
"Barra!" pekik Edrea yang langsung membuat seluruh penumpang menghentikan aksinya dan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung.
"Apa ada sesuatu yang salah?" tanya mahasiswa yang kini sedang memegang mic di tangannya.
"Hahaha tidak... aku hanya tidak sengaja menginjak sesuatu barusan... hahaha" ucap Edrea sambil tertawa garing dan kemudian musik kembali di mainkan.
Edrea melotot dengan kesal ke arah sebelah karena Barra membuatnya terkejut akan kehadirannya yang tiba tiba.
"Enak sekali ya ternyata kau malah bersenang senang di sini!" ucap Barra dengan kesal sambil bersendekap dada.
"Kau..." ucap Edrea hendak menggerutu namun urung karena ia tahu ia tengah jadi pusat perhatian saat ini karena telah membuat kehebohan.
"Apa ada sesuatu Rea?" tanya Fano dan juga Kiera secara bersamaan membuat Edrea langsung menoleh ke arah kanan dan kirinya dengan spontan.
"Tidak ada santai saja..." ucap Edrea sambil tersenyum ke arah Fano dan juga Kiera secara bergantian.
"Ah... benar benar memalukan..!" ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kupluk hoodie yang ia kenakan dan langsung pura pura tidur, membuat Kiera dan juga Fano saling pandang satu sama lain akan sikap dari Edrea barusan.
**
Malam harinya
Fano yang tersasar dan terlalu masuk ke dalam hutan, menatap dengan bingung ke arah sekitaran mencari jalan untuk keluar.
"Sial, mengapa aku bisa sampai ke sini sih?" ucapnya dengan kesal.
Hingga sebuah suara desisan tiba tiba menuntun Fano untuk mendekat ke arahnya, entah mengapa Fano seperti terhipnotis akan suara tersebut yang seharusnya Fano akan lari ketika mendengarnya malah bergerak mendekat ke arah sumber suara.
"Kemarilah... ssssssss" ucap suara tersebut yang menggema di telinga Fano dan terus menuntunnya untuk mendekat.
Bersambung
__ADS_1