
Stasiun pemberhentian
Setelah kepulangan Edrea dari Rumah sakit Barra meminta Edrea untuk tinggal sementara waktu di Stasiun Pemberhentian. Barra kini benar-benar berubah menjadi lebih protektif kepada Edrea akan segala tingkah laku maupun gerak-gerik yang Edrea lakukan, entah mengapa ada perasaan khawatir yang berlebihan dari Barra ketika melihat Edrea melakukan sesuatu. Barra takut apa yang terjadi kemarin dan juga sebelum-sebelumnya akan kembali terjadi kepada Edrea jika Barra tak mengawasinya sedikit saja.
Edrea yang tiba-tiba saja mendapat perlakuan yang super protektif dari Barra tentu saja sedikit merasa aneh dan juga sebenarnya agak risih. Seorang Edrea yang begitu petakilan dan juga bertindak semaunya, ketika segala tingkah laku dan keputusannya di atur oleh Barra membuat Edrea menjadi sedikit kesal.
Seperti halnya saat ini Edrea yang hanya ingin melihat proses keberangkatan para arwah menuju ke alam atas, lantas harus menjadi kesal karena Barra tidak mengijinkan Edrea pergi seorang diri kesana. Alasan Barra menahannya hanya karena takut rasa simpati dalam diri Edrea yang begitu besar bisa menuntun Edrea menuju ke arah yang tidak diinginkan Barra. Hal itulah yang benar-benar membuat Edrea kesal karena Barra malah membatasi segala gerak-geriknya untuk bergerak dan membuatnya tidak lagi bebas melakukan apapun juga.
Edrea terlihat mencebikkan mulutnya karena kesal akan Barra yang terus saja menempelinya kemana ia berada. Sambil melangkahkan kakinya dengan sedikit kesal Edrea terlihat terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pusat pemberangkatan para arwah. Edrea yang melihat Mira tak jauh dari posisinya lantas nampak menghentikan langkah kakinya, membuat Barra yang sedari tadi mengikuti kemana langkah kaki Edrea pergi kemudian mulai menatap Edrea dengan raut wajah yang kebingungan.
"Apa ada sesuatu?" tanya Barra dengan penasaran menatap ke arah Edrea saat ini.
"Apa kamu tidak melihat Mira di sana? Pergilah Bar, jika kamu terus mengikuti ku seperti ini Mira pasti akan kembali menggoda kita. Jadi pergilah sekarang juga Bar..." ucap Edrea dengan nada yang berbisik membuat Barra lantas mengernyit seketika disaat mendengar Edrea saat ini tengah mengusirnya agar pergi dari sini.
__ADS_1
Barra yang mendengar perkataan Edrea barusan lantas langsung memasang posisi bersendekap dada dan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Seulas senyum mendadak terbit dari Barra ketika sebuah ide muncul untuk menggoda Edrea saat ini. Barra yakin jika ia melakukan ini Edrea tidak akan mungkin untuk menyuruhnya pergi. Lagi pula ini hanyalah Mira, tidak akan ada yang terjadi jika Mira menggoda keduanya sekalipun. Edrea yang melihat senyuman penuh arti yang berasal dari Barra barusan tentu saja langsung bertanya-tanya akan maksud dari senyuman tersebut. Hingga ketika Edrea terlihat bingung mencerna maksud dari senyuman Bara barusan, Bara malah membisikkannya sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka oleh Edrea sebelumnya.
"Jika kau ingin aku pergi dari sini, kecup lah aku sekali dan aku akan langsung pergi sesuai dengan permintaan mu." bisik Barra sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Edrea.
Mendengar perkataan gila yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Barra, tentu saja membuat Edrea terkejut seketika. Edrea bahkan benar-benar tidak menyangka bahwa Barra akan meminta hal tersebut darinya. Edrea terdiam seketika memikirkan langkah apa yang akan ia ambil. Haruskah Edrea menuruti permintaan aneh dari Barra? Ataukah Edrea hanya diam saja dan langsung pergi dari sana? Edrea melirik sekilas ke arah Mira yang saat ini tengah sibuk dalam proses pemberangkatan arwah sambil terus memikirkan tentang permintaan Barra barusan. Sedangkan Barra yang melihat wajah aneh dan juga bimbang dari Edrea lantas terlihat begitu senang. Barra tidak menyangka bahwa sebuah kata kecupan dapat membuat Edrea hingga seperti ini.
"Bagaimana? Apakah kamu mau melakukannya? Jika kamu tidak ingin melakukannya, jangan pernah berharap aku akan pergi dari sisimu!" ucap Barra dengan tersenyum nakal ke arah Edrea, membuat Edrea lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari Barra barusan.
"Siapa bilang aku tidak berani? Ayo lakukan." ucap Edrea kemudian dengan nada spontanitas membuat Barra langsung mengulum senyumnya dengan lebar.
Mendapat tantangan yang seperti itu pada akhirnya tentu saja langsung kesal dan juga garam. Dengan langkah kaki dan juga gerakan yang cepat, Edrea lantas menarik baju milik Barra kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Barra dan langsung memberikan kecupan kepada Barra. Sayangnya kecupan yang dikatakan oleh Barra nyatanya bukan sebuah kecupan yang dibayangkan oleh Edrea saat ini, hingga ketika bibir Edrea menyentuh dengan tepat ke arah bibir Barra, membuat Barra langsung terdiam mematung di tempatnya seakan merasakan keterkejutan yang teramat ketika Edrea mendadak mencium bibirnya walau hanya sekilas.
Edrea yang awalnya kesal akan tingkah dari Barra yang tiba-tiba meminta sebuah kecupan, begitu melihat wajah terkejut yang berasal dari Barra. Membuat Edrea lantas langsung mengernyit dengan seketika, ditatapnya Barra dengan raut wajah yang bertanya-tanya akan ekspresi yang diberikan oleh Barra setelah menerima kecupan di bibir tersebut.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu Bar? Bukankah kau meminta sebuah kecupan?" ucap Edrea dengan nada yang polos.
Barra yang mendengarkan perkataan Edrea barusan, lantas langsung membuyarkan lamunannya. Barra benar-benar merasa seakan seperti terkejut ketika mendapat kecupan yang tiba-tiba itu, padahal tadinya kecupan yang dimaksud Barra bukanlah kecupan di bibir melainkan kecupan di pipi atau keningnya saja. Itupun hanya untuk menggoda Edrea, Barra bahkan tidak benar-benar mengharapkannya saat itu. Hanya saja Edrea yang tidak terlalu paham akan maksud dari perkataan Barra dan langsung terburu-buru mengambil keputusan, membuat Edrea malah menuruti perkataan dari Barra tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak meminta kecupan yang ini." ucap Barra dengan nada yang kebingungan ketika mendapat pertanyaan dari Edrea barusan.
Edrea yang mendengar perkataan dari Barra barusan tentu saja terkejut bukan main, Edrea bahkan sampai merutuki kebodohannya yang tidak pernah berpikir dua kali terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.
"Lalu kecupan apa yang kamu maksud?" ucap Edrea kemudian dengan nada yang ragu-ragu karena ia takut jika Barra memang sebenarnya tidak meminta kecupan di bibir.
"Bukan maksud ku seperti..." ucap Barra namun terpotong ketika mendengar sebuah suara yang terdengar semakin dekat ke arahnya saat ini.
"Syukurlah kamu ada di sini Bar, ada sesuatu yang harus aku bicarakan kepadamu. Eh tunggu... Ada apa dengan ekspresi kalian berdua?" ucap sebuah suara yang berasal dari Mira, membuat Barra dan juga Edrea lantas langsung gelagapan seketika disaat mendengar pertanyaan dari Mira barusan.
__ADS_1
Bersambung.