Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sosok pria yang tak asing


__ADS_3

"Apakah sesuatu sedang terjadi belakangan ini Bar?" tanya Mira kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Barra lantas langsung mendongak dengan seketika disaat mendengar pertanyaan dari Mira barusan.


"Tidak ada yang terjadi, oh ya ada perlu apa kau kemari?" tanya Barra kemudian mencoba untuk mengalihkan perhatian Mira agar tidak terlalu fokus kepadanya.


"Tidak ada, aku hanya memberikan laporan tentang penjemputan arwah dengan kasus yang sama seperti beberapa hari yang lalu." ucap Mira kemudian sambil memberikan iPad di tangannya, membuat Barra langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung sekaligus penasaran akan kasus yang dimaksud oleh Mira barusan.


"Kasus seperti apa?" tanya Barra kemudian sambil mengambil iPad pemberian dari Mira untuk melihat hal yang dimaksud oleh Mira.


Barra yang baru saja menanyakan perihal kasus yang dimaksud oleh Mira, ketika jari tangannya menggeser satu-persatu informasi pada layar iPad pandangan mata Barra terhenti pada foto kematian mayat yang di jemput oleh Mira. Dengan melihatnya saja Barra jelas tahu apa yang terjadi dengan mayat tersebut, sehingga membuat Barra langsung terdiam seketika di tempatnya. Mira yang melihat Barra hanya terdiam saja tanpa menanggapinya lebih lanjut lantas kembali menatap dengan bingung ke arah Barra, apalagi ketika Barra kembali terdiam sambil menatapi ke arah layar iPad.


"Bar apakah ada sesuatu? Mengapa kau melamun saja dari tadi?" tanya Mira kemudian yang sudah gatal karena Barra hanya diam saja tanpa menanggapi perkataannya.


Mendengar perkataan dari Mira barusan lantas membuyarkan segala Lamunan Barra. Barra membenarkan posisinya kemudian menghembuskan napasnya secara kasar sambil menatap ke arah Mira, membuat Mira yang melihat hal tersebut lantas semakin bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Barra saat ini.


"Aku sudah menandatangani dan menyetujui akan proses penjemputan arwah ini, lakukan tugasmu seperti biasanya." ucap Barra kemudian sambil memberikan iPad tersebut membuat Mira menjadi kebingungan karena Barra bukannya menjawab pertanyaannya malah menjawabnya dengan hal yang lainnya, membuat Mira lantas mendengus dengan kesal karena Barra tidak mengatakan apa-apa selain hanya masalah pekerjaan saja.


***


Kampus


Di area kantin sekolah terlihat Edrea tengah duduk sambil menatap kosong ke arah depan. Pikirannya melayang membayangkan sesuatu hal yang terjadi kemarin. Edrea benar-benar penasaran akan siapa dalang di balik beberapa kematian yang terjadi di kota belakangan ini. Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Edrea karena Edrea sama sekali tidak menemukan jawaban akan pertanyaannya barusan.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua halnya membuat ku begitu kebingungan dan sama sekali tidak ku mengerti. Arggg..." ucap Edrea sambil mengacak-acak rambutnya karena kesal akan sesuatu hal yang terasa abu-abu bagi Edrea.


Sementara itu dari arah lorong kampus terlihat Kiera tengah melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang kesal karena Edrea pergi ke kantin tanpa mengajaknya sama sekali. Kiera yang melihat Edrea asyik melamun sambil mengaduk-aduk makanannya lantas langsung menggebrak meja namun dengan gerakan yang pelan sehingga langsung membuyarkan lamunan Edrea dengan seketika.


"Apa sih Ki? ngagetin tahu gak?" ucap Edrea dengan nada yang kesal sambil mengelus dadanya beberapa kali karena terkejut akan ulah Kiera baru saja.


"Kamu benar-benar menyebalkan, pergi ke kantin bukannya ajak-ajak malah berangkat sendiri lagi." ucap Kiera dengan raut wajah yang masam membuat Edrea lantas menghela napasnya dengan panjang.


Kiera yang melihat Edrea hanya menghela napasnya dengan panjang tanpa menanggapi perkataannya, lantas merasa sedikit aneh. Tidak biasanya Edrea hanya menghela napasnya saja ketika berbicara dengannya seperti ini, membuat Kiera menjadi merasa bersalah ketika melihat Edrea yang seperti itu.


"Apa aku punya salah kepada mu Re?" tanya Kiera dengan raut wajah yang penasaran, membuat Edrea lantas mendongak menatap ke arah Kiera saat ini.


"Bukan... Beberapa hari ini aku hanya sedang dalam masalah saja, bukan karena kamu.. Tak perlu merasa bersalah seperti itu Ki..." ucap Edrea dengan nada yang lebih rendah ketika melihat wajah bersalah Kiera karenanya.


"Tidak apa Ki aku hanya..." ucap Edrea hendak mencoba menenangkan Kiera agar tidak terlalu khawatir.


Hanya saja ketika Edrea belum sempat melanjutkan perkataannya, sebuah bayangan seseorang yang menyita perhatiannya lantas langsung membuat Edrea terdiam seketika. Edrea yang tak asing akan sosok yang baru saja melintas melewati lorong kampus lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung sambil bertanya-tanya akan siapa sebenarnya sosok tersebut.


"Ki... ada sesuatu yang harus aku urus sekarang, aku pergi dulu..." ucap Edrea sambil bangkit dari tempat duduknya, membuat Kiera yang melihat Edrea pergi dengan terburu-buru lantas ikut bangkit dari posisinya.


"Tapi Re... Ada apa?" tanya Kiera namun tidak mendapat jawaban apapun dari Edrea karena langkah kakinya yang sudah jauh.

__ADS_1


Pada akhirnya tak ada yang bisa Kiera lakukan selain hanya menatap kepergian Edrea yang kian menjauh dari dirinya. Kiera yang sudah tidak lagi melihat punggung Edrea terlihat, lantas kembali mendudukkan pantatnya sambil memasang wajah yang cemberut.


"Pada akhirnya selalu saja begini...." ucap Kiera pada diri sendiri.


***


Sementara itu, Edrea yang menangkap seorang sosok pria yang tak asing baginya lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya mencari jejak sosok pria yang baru saja terlihat dari ekor matanya. Edrea yang kehilangan jejaknya lantas terlihat berhenti dengan sejenak kemudian mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling seakan mencoba mencari jejak pria tersebut.


"Aneh, aku tadi jelas-jelas melihatnya pergi ke arah sini tapi mengapa tidak ada siapapun disini?" ucap Edrea bertanya-tanya pada diri sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Edrea menghela napasnya sejenak sambil menatap ke arah sekitar mencoba mencari kembali jejak pria misterius itu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada area lorong menuju ke arah gudang belakang, dimana sosok pria itu nampak melangkahkan kakinya melintasi area tersebut. Membuat Edrea yang melihat hal tersebut kemudian lantas kembali melangkahkan kakinya untuk mengikuti kemana perginya sosok pria yang tak asing di ingatannya itu.


Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Edrea terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki pria misterius tersebut. Sampai kemudian ketika langkah kaki pria tersebut membawanya hingga ke gudang belakang, membuat Edrea lantas menghentikan langkah kakinya begitu melihat Pria itu masuk ke dalam gudang belakang.


"Apa yang dia lakukan di sana?" ucap Edrea dalam hati bertanya-tanya.


Hingga pada akhirnya Edrea yang tidak ingin hanya sekedar bertanya-tanya dan tenggelam ke dalam rasa penasaran, membuatnya kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam gudang belakang dan bertemu dengan Pria tersebut.


Cklek...


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2