Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sesuatu rasa yang aneh


__ADS_3

Edrea yang begitu penasaran akan sosok pria yang baru saja masuk ke dalam gudang, lantas memutuskan untuk menyusul langkah kaki pria tersebut yang masuk ke dalam gudang belakang kampusnya. Sambil mengambil napasnya secara perlahan Edrea kemudian mulai memutar handel pintu dan masuk secara pelan ke dalam gudang belakang kampusnya. Hanya saja ketika langkah kaki Edrea yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang belakang langsung terhenti seketika disaat Edrea melihat ada sesuatu yang janggal disana. Dimana suasana di balik pintu yang harusnya berisi sebuah ruangan pengap dan juga gelap, malah menjadi sebuah hutan luas sejauh mata Edrea memandang, membuat Edrea langsung terdiam seketika di tempatnya sambil menatap ke area sekeliling.


"Aku seperti tidak asing dengan tempat ini, jangan bilang..." ucap Edrea kemudian ketika mengingat suatu peristiwa yang membuatnya sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terulang kembali.


Edra yang yakin bahwa ia saat ini tengah berada di hutan yang sama dengan penglihatan yang pernah ia lihat sekaligus kejadian yang ia alami beberapa waktu yang lalu lantas terlihat mulai panik. Edrea sungguh dapat menebak apa yang terjadi kepadanya sebentar lagi, membuat Edrea mulai melangkahkan kakinya bergegas dari sana seakan mencoba mencari jalan keluar dari hutan tersebut sebelum segalanya kembali terulang dan membuat Edrea menyesali kebodohannya saat ini yang kembali terjebak dalam permainan siluman ular hitam.


"Aku harus segera keluar dari tempat ini bagaimanapun caranya!" ucap Edrea sambil melangkahkan kakinya secepat mungkin mencari jalan keluar.


Selangkah demi selangkah Edrea ambil sambil memandangi area sekitar mencoba untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Hanya saja setiap langkah kaki yang ia ambil membuat suasana hutan tersebut semakin menggelap disertai angin yang berhembus begitu kencang. Suara tawa yang menggelegar perlahan-lahan mulai terdengar di telinga Edrea dan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.


Edrea yang mendengar dengan jelas suara tawa tersebut lantas langsung menatap ke arah sekitar seakan mencoba untuk mencari sumber suara, Edrea bahkan benar-benar merasa seperti dipermainkan saat ini oleh sosok siluman ular hitam tersebut. Suasana disekitaran Edrea semakin terasa tidak kondusif apalagi angin yang kian berhembus dengan kencang menambah perasaan yang tidak enak dalam diri Edrea.


"Apa yang kau mau sebenarnya?" teriak Edrea kemudian mencoba untuk memberanikan dirinya. "Keluar ku bilang!" teriak Edrea kemudian.


Tepat setelah perkataan Edrea keluar dari mulutnya angin berhenti bertiup dengan seketika, membuat Edrea lantas langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Hingga kemudian pandangan mata Edrea terhenti ketika ia melihat dari arah yang tak jauh dari tempatnya berada, terlihat sosok seorang pria yang sedari tadi ia kejar nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dengan senyuman yang sama sekali tidak bisa Edrea artikan. Edrea terdiam di tempatnya ketika ia tak menjumpai sosok siluman ular besar melainkan malah sosok seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam layaknya orang-orang jaman dahulu.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?" ucap Edrea kemudian ketika melihat sosok pria tersebut telah berhenti tepat di hadapannya.


Mendapat pertanyaan tersebut membuat sosok pria itu lantas tertawa dengan lebar. Pria itu kemudian melesat tepat di area belakang Edrea dan membisikkannya sesuatu, membuat Edrea yang terkejut lantas langsung berbalik badan namun pria itu sudah tidak ada di sana.


"Aku adalah malaikat maut yang akan menjemput Barra!" bisik nya tepat di telinga Edrea, membuat manik mata Edrea langsung membulat dengan seketika.


"Jangan main-main kau, keluar sekarang juga!" ucap Edrea dengan nada yang kesal ketika tak lagi melihat sosok pria misterius tersebut.


Edrea yang tak kunjung melihat sosok pria itu lagi, lantas langsung kembali mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Namun sosok pria itu malah terlihat muncul dari sudut arah utaranya kemudian ketika Edrea menatap ke arah utara, sosok itu kembali menghilang dan muncul lagi di area sebelah barat. Membuat kepala Edrea menjadi pening dan juga bingung karena sosok tersebut yang terlihat muncul dan menghilang kemudian muncul lagi dan menghilang lagi.


Sosok itu yang semula hanya menghilang kemudian muncul kembali, mendadak malah melesat ke arah Edrea tanpa aba-aba langsung menembus tubuh Edrea begitu saja dan masuk ke dalam tubuh Edrea secara paksa, membuat tubuh Edrea terasa seperti tersengat aliran listrik yang begitu kuat. Sampai ketika pada puncak rasa sakit yang dialami oleh Edrea, perlahan-lahan pada akhirnya manik mata Edrea yang semula berwarna kecoklatan mulai berubah menjadi seperti manik mata seekor ular.


"Aaaaaaaaa" teriak Edrea yang begitu kencang diiringi dengan angin yang berhembus kencang di area hutan tersebut.


***

__ADS_1


Sementara itu di stasiun pemberhentian, Barra yang terlihat tengah mengkomando beberapa pemberangkatan arwah di berbagai gerbong yang akan melaju sebentar lagi, lantas menjadi heran ketika ada sebuah perasaan aneh yang mendadak menyerang dirinya. Sebuah rasa yang begitu tak asing namun Barra tidak terlalu yakin akan rasa itu.


"Apa yang terjadi?" ucap Barra bertanya-tanya pada diri sendiri.


Dari arah lorong Stasiun, Max yang membawa sebuah iPad di tangannya lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah yang bergegas mendekat ke arah di mana Barra berada saat ini. Max yang mendapat sebuah pemberitahuan dari sistem lantas terlihat mempercepat langkah kakinya menghampiri Barra untuk memberitahunya sesuatu yang baru saja ia terima secara tiba-tiba. Namun ketika Max baru saja sampai di samping Barra, Max yang melihat wajah Barra seperti menahan sesuatu membuat Max lantas menjadi begitu khawatir akan keadaan tuannya saat ini.


"Apakah anda baik-baik saja tuan?" tanya Max kemudian sambil mencoba untuk memegangi tubuh Barra yang terlihat sedikit oleng tersebut.


Barra yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung mengangkat tangannya, seakan memberi isyarat kepada Max bahwa tidak perlu membantunya. Membuat Max yang melihat kode tersebut kemudian mulai melepas pegangannya secara perlahan kepada Barra.


"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Barra kemudian ketika melihat sebuah iPad yang sedari tadi dipegang oleh Max.


Mendengar perkataan dari Barra barusan tentu saja langsung membuat Max terkejut seketika, Max yang semula ingin memberitahukan sebuah berita yang baru saja ia dapat lantas menjadi lupa ketika melihat keadaan Barra yang seperti itu. Max yang baru saja mengingat apa yang akan ia sampaikan kepada Barra lantas langsung memberikan iPad di tangannya kepada Barra agar Barra bisa segera melihat informasi yang baru saja ia dapat. Membuat Barra yang menerima iPad tersebut lantas langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arah Max hingga kemudian ia mulai melihat ke arah layar iPad tersebut.


"Apa-apaan ini?" ucap Barra yang terkejut akan informasi yang tertera dengan jelas pada layar iPadnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2