
"Apa kamu bidadari yang dikirim dari langit untuk ku yang kesepian?" ucap Darma dengan nada yang melantur.
"Tutup mulut mu Darma!" bentak Edrea.
Mendengar teriakan tersebut membuat langkah kaki Darma lantas terhenti seketika. Darma yang mendengar namanya disebut tentu saja langsung mengernyit dengan bingung. Dengan mengucek matanya beberapa kali Darma mencoba untuk membuat dirinya sadar, namun ketika Darma membuka matanya yang berada di hadapannya saat ini malah istrinya yang sudah meninggal. Melihat hal tersebut membuat Darma lantas terkejut bukan main, Darma bahkan sampai mengucek matanya kembali selama beberapa kali karena merasa bahwa ia tengah mabuk berat saat ini.
"Apa yang membuat mu begitu terkejut ha? Bukankah kau harusnya senang aku datang kembali untuk membalas segala perbuatan mu?" ucap Edrea dengan senyum yang mengejek ke arah Darma.
Darma yang mendengar hal tersebut lantas mulai memundurkan langkah kakinya karena tak percaya akan apa yang baru saja ia lihat dan juga ia dengar. Sampai kemudian ketika Darma terus mengambil langkah kaki yang mundur, kaki Darma perlahan-lahan malah naik ke atas dan tak menyentuh tanah. Membuat Darma menjadi terkejut dan tentu saja ketakutan ketika mendapati tubuhnya perlahan-lahan naik ke atas dan tidak lagi menyentuh lantai rumahnya.
"Si... Siapa kau sebenarnya?" ucap Darma sambil mulai menganggap bahwa apa yang ada di hadapannya sudah tidak lagi beres.
"Bukankah sudah kukatakan padamu jika aku akan menuntut balas kepadamu?" ucap Edrea dengan tawa yang menggelegar memenuhi ruangan tersebut, membuat Darma semakin ketakutan ketika mendengar suara itu.
Darma benar-benar mengenal suara ini, walau terasa begitu berbeda karena terdengar lebih berat dan juga serak, tapi Darma masih hapal dengan betul jika suara itu adalah milik mendiang istrinya yang meninggal beberapa hari yang lalu karena ulahnya. Dalam keadaan yang melayang semakin tinggi di udara Darma menatap dengan pandangan yang menelisik ke arah Edrea, entah mengapa Darma masih belum percaya jika yang dihadapannya saat ini adalah istrinya.
Sedangkan Edrea yang memang sudah menyimpan dendam kepada Darma, tanpa menunggu aba-aba lagi Edrea langsung menghempaskan tubuh Darma begitu saja setelah membawanya naik cukup tinggi di atas tanah. Tubuh Darma terlempar begitu saja dan berakhir membentur meja ruang tamu, saking kerasnya Darma jatuh bahkan sampai membuat meja tersebut hancur karena berbenturan dengan tubuh Darma.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk"
Tubuh Darma benar-benar terasa remuk redam akibat benturan tersebut, membuat Edrea yang melihat hal tersebut lantas senang bukan main ketika melihat Darma yang seperti itu. Edrea kemudian lantas melesat ke arah dimana Darma berada. Sambil mengambil posisi jongkok Edrea mulai menatap tubuh Darma yang lemah dan beberapa daerah tubuhnya yang mengeluarkan darah akibat dari benturan tersebut.
"Bukankah kau dulu melakukan yang lebih parah dari ini? Ada apa dengan wajah mu itu Dar? Apa kau terkejut?" tanya Edrea dengan senyum menyeringai menatap ke arah Darma membuat Darma lantas semakin dibuat ketakutan akan hal tersebut.
Edrea yang mulai tidak sabar akan Darma, lantas langsung mencengkram lehernya dengan erat kemudian membawanya bangkit dari sana dan langsung melesat menyudutkannya ke tembok. Disaat Darma berada tepat di genggamannya sebuah bayangan penglihatan tentang keduanya lantas kembali berputar di kepalanya sehingga membuat Edrea semakin geram dan mengencangkan cengkeramannya saat ini. Darma meringis ketika tangan mungil Edrea mencengkeramnya dengan begitu erat.
"Le...paskan aku! Lepaskan" ucap Darma sambil berusaha memberontak sekaligus meminta untuk di lepaskan.
"Melepaskan mu? Jangan pernah mengharapkan hal yang tidak pasti seperti itu!" ucap Edrea lagi dengan nada yang setengah berteriak.
Hingga kemudian ketika Darma sudah berada di ujung tanduk dan kesulitan mengambil napas, Darma yang berpikir dia akan mati saat ini juga. Mendadak terdengar sebuah suara yang lantas membuat Edrea langsung menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh dari keduanya berada terlihat Barra dan Mira tengah melangkahkan kakinya me dekat ke arah di man Darma dan juga Edrea.
"Lepaskan dia!" teriak Barra dengan nada suara meninggi memenuhi ruangan tersebut.
"Kalian berdua jangan ikut campur, kau tidak tahu apa-apa!" ucap Edrea dengan nada yang dingin sambil menatap tajam ke arah Barra dan juga Mira.
__ADS_1
"Ku bilang lepaskan ya lepaskan sekarang juga!" ucap Bara lagi dengan nada yang semakin kesal menatap ke arah Edrea.
Mendengar hal tersebut Edrea nampak marah karena Barra terkesan ikut campur akan urusannya, padahal sebentar lagi dendamnya kepada Darma akan segera terbalaskan. Namun dua orang pengacau datang dan menghancurkan segalanya.
Barra yang tahu sosok arwah pendendam itu tidak akan melepaskan raga Edrea begitu saja sebelum dendamnya terbalaskan, lantas mulai menatap ke arah Mira dengan tatapan yang menelisik. Sedangkan Mira yang seakan tahu arti dari tatapan Barra tersebut, lantas dengan spontan langsung mengangguk tanda mengerti akan perintah yang tanpa Barra ucapkan barusan.
Setelah memberikan perintah tersebut kepada Mira tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Barra lantas langsung melesat dan mendekat tepat dihadapan Edrea dan juga Darman. Ketika jarak diantara keduanya hanya tersisa beberapa cm saja, Barra lantas langsung memegang pundak Edrea dan membawanya berteleportasi ke suatu tempat.
Di saat Barra membawa Edrea berteleportasi ke suatu tempat yang Mira sendiri tidak tahu di mana itu, Mira langsung dengan cekatan ikut melesat dan menarik tubuh Darma agar tidak ikut berteleportasi dengan Bara dan juga Edrea. Ditatapnya raut wajah Darma yang sudah tidak lagi berbentuk kerena saking banyaknya noda darah dan juga goresan di sekitaran area wajah dan juga tubuhnya. Mira yang melihat hal tersebut lantas berdecak dengan kesal seakan jijik dan juga malas berurusan dengan manusia biadab seperti Darma.
"Dasar sampah, aku bahkan mendukung mendiang istri mu yang hendak menghabisi mu saat ini juga. Namun sayangnya cara istri mu yang menghabisi mu lewat Edrea itu adalah sebuah kesalahan! Nikmati saja rasa sakit mu saat ini dan jemput kematian mu sendiri!" ucap Mira sambil mengambil posisi berjongkok dan menatap tajam ke arah di mana Darma sudah tergeletak dengan tidak berdaya di lantai.
Darma yang mendengar kata kematian, tentu saja langsung panik, Darma kemudian berusaha untuk memegang kaki Mira seakan meminta pertolongan agar membantunya. Namun Mira malah bangkit berdiri dan menghindari tangan Darma yang hendak menyentuh kakinya, hingga sebuah suara yang tidak disangka-sangka Mira lantas terdengar dari balik sofa ruang tamu tersebut.
Prank
Bersambung
__ADS_1