Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Dia lumayan juga


__ADS_3

Mira yang mendengar ia boleh meminta Edrea untuk ikut dalam tugas ini, tentu saja langsung semangat dan mengiyakan tugas itu tanpa kembali memikirkan tentang arwah pendendam tersebut. Yang ada di pikiran Mira hanya ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Edrea untuk menjalankan tugas baru setelah itu bersenang senang, shoping misalnya atau sekedar minum teh juga boleh, setidaknya bersenang senang ala para gadis gadis di jaman modern ini.


Mira kemudian lantas berteleportasi ke kamar Edrea bersama dengan Wili, namun Mira meminta Wili untuk menunggu di luar kamar dan tidak ikut masuk ke dalam karena Wili satu satunya pria di rumah Edrea, jadi Mira memutuskan untuk menyuruh Wili menunggu di luar kamar.


Mira menatap dengan tatapan menelisik ke arah Edrea yang saat ini sedang tertidur dengan pulasnya, kemudian ikut berbaring di sebelah Edrea sambil masih menatap ke arah Edrea yang hingga kini masih memejam dan berlayar ke pulau impiannya. Di pegangnya dengan pelan hidung mancung milik Edrea kemudian mengelus rambut Edrea dengan pelan sambil tersenyum.


Edrea yang merasakan ada sebuah tangan yang menjelajahi wajah dan juga rambutnya, perlahan lahan mulai mengerjapkan matanya untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut hingga mengganggunya berlayar ke pulau impian dengan tenang.


Satu detik


Dua detik


Hingga kesekian detik Edrea seakan terdiam sejenak sambil menatap ke arah depan sekaligus mengumpulkan nyawanya yang masih belum terkumpul sepenuhnya, hingga Mira yang melihat Edrea hanya terbengong lantas langsung tersenyum dan menatap ke arah Edrea, membuat Edrea yang mulai tersadar lantas terkejut bukan main dan dengan spontan bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Mira dengan kaget.


"Aaaaaa apa yang sedang kau lakukan ha?" teriak Edrea yang terkejut akan kehadiran Mira yang tiba tiba berbaring di sebelahnya.


Mira yang melihat Edrea terkejut, lantas perlahan lahan bangkit dari posisi rebahannya dan menatap ke arah Edrea sambil tersenyum dengan garing. Dengan sekali jentikan Mira memunculkan iPad di tangannya kemudian menunjukkannya kepada Edrea, membuat Edrea dengan spontan langsung menatap ke arah iPad itu walau sebenarnya ia masih sangat mengantuk.

__ADS_1


"Ada tugas baru, ayo kita berangkat!" ajak Mira sambil bangkit dari posisinya kemudian kembali menjentikkan tangannya dan menghilangkan iPad dari tangannya.


"Alahhhh... ini bahkan masih pukul 12 malam, tidak bisakah besok pagi saja? aku masih ngantuk banget." ucap Edrea sambil merebahkan dirinya kembali ke ranjang empuk miliknya.


Mira yang melihat Edrea tidur kembali tentu saja langsung berkacak pinggang, dengan gerakan yang kesal Mira langsung menarik tangan Edrea agar bangkit dari tidurnya dan segera berangkat untuk menjemput arwah, Edrea yang di tarik dengan kuat hanya bisa mengikuti arah tarikan tangan Mira begitu saja tanpa bisa melawan sama sekali.


"Tunggu sebentar... setidaknya biarkan aku cuci muka terlebih dahulu..." teriak Edrea ketika tangan Mira terus memaksanya untuk bangkit.


"Sudah tidak perlu... lagi pula kau juga tidak mengiler bukan? jadi langsung berangkat saja." ucap Mira dengan santainya membuat Edrea langsung melotot ketika mendengarnya.


"Benar benar keterlaluan!" ucap Edrea dengan pasrah pada akhirnya mengikuti arah tarikan Mira yang memaksanya bangkit dari tempat tidur kesayangannya itu.


Di sebuah perumahan yang terletak di daerah Jawa timur


Terlihat Edrea, Mira dan juga Wili tengah melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam rumah yang paling besar di komplek perumahan tersebut. Bau anyir darah menyeruak memenuhi indra penciuman Edrea ketika mereka bertiga masuk ke dalam rumah tersebut. Edrea yang mulai terbiasa dengan bau seperti ini hanya melangkahkan kakinya dengan perlahan mengikuti arah langkah kaki Mira dan juga Wili yang terlihat masuk ke dalam kamar.


"Huahhhhh" suara Edrea yang menguap membuat Mira dan juga Wili langsung dengan spontan menatap ke arah Edrea dengan seketika.

__ADS_1


Melihat Edrea menguap dengan keras, lantas membuat Wili langsung menatap tajam ke arah Edrea dan membuat Edrea langsung menutup mulutnya dengan spontan, sedangkan Mira yang mengetahui hal tersebut hanya tersenyum dengan simpul sambil terus melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar.


Ketika ketiganya sampai di dalam kamar, suasananya sudah berantakan di sertai dengan genangan darah yang sudah terlihat bercecer memenuhi ruangan kamar tersebut. Suara tangisan sebuah sosok yang kini tengah bersembunyi di sudut ruang kamar, membuat Mira dan Edrea langsung saling pandang satu sama lainnya.


"Bukankah harusnya ada dua arwah? mengapa hanya satu?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Salah satunya berubah menjadi arwah pendendam dan pergi menyusul para perampok serta pembunuh mereka. Tugas kita sekarang adalah menjemput dia dan juga membawa kembali suaminya sebelum wujudnya sebagai arwah pendendam kian terlihat." ucap Mira kemudian yang lantas membuat Edrea langsung manggut manggut tanda mengerti akan ucapan dari Mira barusan.


Wili kemudian lantas mengeluarkan iPad dan memberikannya kepada Edrea untuk memulai proses penjemputan, dengan langkah yang perlahan Mira dan juga Edrea mulai melangkahkan kaki mereka mendekat kepada arwah tersebut dan memulai prosesinya.


"Sumiati Handoyo, meninggal pada pukul 23.00 dini hari sebab kematian yaitu di bunuh, tugas mu di dunia ini sudah selesai... meski kamu tidak melakukan semuanya dengan baik selama masa hidup mu, tapi apa yang akan kau tanam pasti akan kau panen di kehidupan selanjutnya. Ikutlah bersama kami dan tebus semua kesalahan mu di masa lalu." ucap Edrea yang seakan malas mengatakan hal tersebut karena ia tahu selama masa hidupnya, Sumi selalu bertindak semena mena kepada bawahannya karena merasa orang paling kaya dan di segani pada lingkungannya.


Sedangkan Sumi yang mendengar ucapan dari Edrea barusan, tentu saja takut bukan main dan malah semakin keras menangis, membuat Edrea bukannya simpati malah langsung memutar bola matanya dengan jengah. Entah mengapa semua manusia di dunia ini selalu saja menjalani kehidupannya dengan sesuka hati mereka tanpa memikirkan konsekuensi yang akan mereka tanggung tepat setelah raga tidak lagi bersatu dengan ruh, mereka cenderung memanfaatkan kekayaan mereka untuk menindas orang orang lemah yang tidak mempunyai kekuasaan sama sekali, namun ketika mereka di mintai pertanggung jawaban yang mereka lakukan malah menangis dan terus menangis, seakan mereka menyesali perbuatan mereka sendiri selama masa hidup mereka. Bukankah mereka aneh? jika mereka bisa melakukannya selama masa hidup mereka, mengapa tidak untuk pertanggung jawaban dari perbuatan yang mereka lakukan? bukankah semua itu selalu ada timbal baliknya?


Edrea menghela nafasnya panjang dan menatap ke arah arwah tersebut dengan malas, tidak hanya karena tidurnya yang terganggu dan masih mengantuk, entah mengapa Edrea merasa kesal saja karena harus menjemput seorang arwah yang sama sekali tidak pernah berguna di masyarakat.


"Jangan menangis dan ikut kami sekarang, bukankah sudah terlambat untuk menyesal saat ini?" ucap Edrea dengan tegas yang lantas membuat Mira dan juga Wili saling pandang satu sama lainnya.

__ADS_1


"Ternyata dia lumayan juga!" ucap Wili dalam hati sambil memperhatikan setiap gerak gerik Edrea.


Bersambung


__ADS_2