
"Lalu kau mau apa?" tanya Barra.
"Sebuah hukuman" ucap Edrea dengan senyum yang menyeringai, membuat Barra langsung menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung.
*****
Kantor polisi
Suami sosok hantu berambut panjang yaitu Mirna, terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan masuk ke dalam kantor polisi dengan tatapan yang kosong. Pria tersebut berhenti tepat di depan petugas dan mulai menyerahkan sebuah ponsel yang berisi rekaman percakapan terakhir sebelum Mirna meninggal.
"Ada apa kamu memberikan kami bukti ini? apa kamu mengetahui siapa dalang di balik ini semua?" tanya polisi tersebut yang langsung di balas pria itu dengan anggukan kepala.
"Istri saya meninggal bukan karena bunuh diri pak, saya mendorongnya dari rooftop gedung ketika dia memergoki saya berselingkuh, saya memanipulasi segala hal yang terjadi pada istri saya sehingga kematiannya terlihat seperti sebuah percobaan bunuh diri semata. Ini adalah ponsel saya, bapak bisa memeriksa segalanya di sana, saya yakin anda akan menemukan bukti kalau saya memang benar benar pelaku pembunuhan istri saya sendiri." ucap pria tersebut dengan tatapan yang kosong, namun berhasil membuat beberapa petugas polisi yang tengah berada di sana terkejut bukan main akan laporan yang di buat oleh pria tersebut.
Petugas yang menerima laporan tersebut, lantas langsung mengkode rekannya untuk meringkus pria itu dan mulai menyelidiki kasus kematian Mirna.
Dua orang petugas nampak langsung menyergap pria tersebut dengan kasar dan menggelandangnya ke dalam sel. Pria tersebut yang memang tengah dalam kondisi terhipnotis hanya menurut ketika di bawa ke dalam sel.
Sedangkan Edrea dan juga Barra yang melihat pria itu berjalan dengan lempeng ketika di gelandang masuk ke dalam sel merasa kurang asyik, sehingga Edrea mulai menjentikkan jarinya dan membuat si pria itu sadar.
"Di mana aku?" ucap pria tersebut dengan kebingungan sambil menatap ke arah sekeliling di mana ia sudah berada di dalam sel tahanan.
"Lepaskan aku pak, lepaskan! kalian salah tangkap, bisa bisanya kalian memasukkan ku ke mari... hei... apa kalian sudah tuli?" teriak pria itu dengan kesal ketika mendapati dirinya sudah berada di dalam sel.
Beberapa petugas polisi yang mendengar teriakan pria tersebut lantas di buat bingung dan saling pandang satu sama lain, mereka terkejut ketika mendengar ucapan dari pria tersebut yang terkesan plin plan.
__ADS_1
"Selidiki kasus ini sampai tuntas, tes juga dia siapa tahu mungkin dia adalah pengguna narkoba atau sejenisnya." ucap salah seorang petugas polisi kepada rekannya.
"Siap laksanakan." ucap petugas polisi lainnya.
**
Sementara itu Edrea dan juga Barra terlihat mulai melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kantor polisi. Seulas senyuman yang mengembang tak henti hentinya terlihat dari wajah Edrea, membuat Barra hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat tingkah laku Edrea.
"Kau sebut itu sebuah hukuman?" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea menghentikan senyumannya.
"Tentu saja, bukankah di dunia... penjara adalah tempat hukuman yang pas bagi para pelaku tindak kejahatan? jadi memasukkannya ke dalam penjara itu sudah termasuk ke dalam sebuah hukuman." ucap Edrea dengan nada yang terdengar bangga.
"Ya ya ya terserah padamu." ucap Barra pada akhirnya memilih diam dan membiarkan Edrea bereuforia akan keberhasilannya memberikan hukuman kepada suami Mirna.
Dari arah tidak jauh dari keduanya melangkah, terlihat Mira dan juga dua ajudannya tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan juga Barra dengan membawa seorang arwah wanita dengan tampilan layaknya seorang manusia pada umumnya.
"Ada yang ingin berpamitan dengan dia." ucap Mira dengan nada yang datar sambil menunjuk ke arah Edrea.
Sedangkan Edrea yang di tunjuk hanya bisa menatap ke arah Mira dengan tatapan yang bingung, hingga seorang wanita yang sedari tadi berada di belakang Riko dan juga Wili terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, aku tahu aku sudah menyusahkan mu sedari kemarin, tapi berkat mu aku bisa pergi dengan tenang." ucap sosok arwah wanita tersebut, namun malah membuat Edrea kebingungan karena Edrea sama sekali tidak mengenali siapa sosok arwah di hadapannya ini.
"Siapa kau sebenarnya? aku sama sekali tidak mengingat pernah membantu mu." ucap Edrea yang lantas membuat Mira langsung memutar bola matanya jengah karena malas melihat drama yang terjadi di hadapannya.
"Aku Mirna, sosok hantu berambut panjang yang selalu mengikuti mu." ucap wanita itu lagi yang lantas membuat Edrea terkejut ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Mirna? bagaimana bisa kau berubah seperti ini?" ucap Edrea yang terkejut ketika melihat sosok arwah di hadapannya, namun Mirna yang mendengar hal itu malah hanya menanggapi Edrea dengan senyuman saja.
Mira yang merasa sudah cukup drama kali ini, lantas langsung memberikan kode kepada kedua ajudannya untuk membawa Mirna menuju ke Stasiun Pemberhentian.
"Maaf mengganggu waktu kalian, tapi kini saatnya untuk pergi." ucap Wili menjeda pembicaraan keduanya.
"Sekali lagi terima kasih Edrea." ucap Mirna untuk yang terakhir kalinya sebelum pada akhirnya berlalu pergi dan menghilang dari hadapan Edrea.
"Aku pergi dulu Bar." ucap Mira berpamitan yang lantas di balas Barra dengan anggukan kepala setelah itu ikut menghilang dan menyusul dua ajudannya yang terlebih dahulu pergi ke Stasiun Pemberhentian.
Kini di sana hanya tersisa Barra dan juga Edrea, membuat keduanya lantas saling pandang satu sama lain dalam keheningan sehingga menciptakan suasana yang canggung di antara keduanya.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Barra kemudian ketika mendapat tatapan aneh dari Edrea.
"Em sebenarnya beberapa hari ini aku mencari mu." ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Barra.
"Mengapa kau mencari ku? bukannya kau sama sekali tidak ingin kembali bertemu dengan ku?" ucap Barra kemudian, yang lantas membuat Edrea mendongak dan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang bingung harus mengatakan apa kepada Barra.
"Aku... aku ingin minta maaf kepadamu karena sudah terburu buru menuduh mu dan mengucapkan kata kata yang kasar kemarin, aku benar benar tidak tahu apapun karena ingatan yang di berikan oleh Fano sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya." ucap Edrea kemudian menatap ke arah manik mata milik Barra dengan tatapan yang dalam.
"Aku benar benar menyesal." ucap Edrea lagi.
Barra yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Edrea, lantas sedikit merasa ada yang aneh dengan Edrea saat ini. Bukan karena Edrea yang tiba tiba mengetahui kebenarannya, melainkan karena tepat ketika Edrea mendongak dan menatap ke arahnya. Manik mata miliknya sekilas berkilap dan tampak seperti manik mata ular ketika terkena cahaya rembulan, sehingga membuat Barra sedikit tersentak ketika melihatnya.
"Apakah aku sedang berhalusinasi?" ucap Barra dalam hati sambil terus memperhatikan Edrea tanpa berkedip sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung