
Sebenarnya aku tidak mengalami kecelakaan di Stasiun ini, aku sampai di sini karena aku ikut menaiki kereta menuju ke daerah ini, aku... aku benar benar tidak sadar bahwa aku mengalami sebuah kecelakaan... huhuhu
Ucap hantu tersebut dengan tangis yang tersedu sambil menundukkan kepalanya, namun malah membuat Edrea terkejut bukan main ketika mendengarnya.
"Apa kau bilang?" pekik Edrea yang sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, ketika mendengar ucapan dari sosok tersebut.
Beberapa orang yang berlalu lalang di sana saja sampai dengan spontan menoleh ke arah Edrea, saking kerasnya suara Edrea yang membuatnya langsung menjadi pusat perhatian di Stasiun kereta tersebut. Edrea yang mulai frustasi lantas langsung berjongkok dan menutupi kepalanya, ingin sekali ia berteriak karena kesal dan juga lelah sudah di buat berkeliling tanpa kejelasan oleh sosok tersebut.
Sedangkan sosok gadis itu yang melihat Edrea diam termenung dengan posisi yang berjongkok, membuat sosok tersebut lantas perlahan lahan mulai mendekat ke arah Edrea dan ikut mengambil posisi berjongkok tepat di hadapan Edrea karena merasa bersalah kepada Edrea.
Sedangkan Edrea yang tidak mendengar apapun selain hanya kebisingan orang orang yang berlalu lalang di Stasiun kereta, lantas perlahan lahan mulai mendongak untuk mengecek keberadaan sosok tersebut, namun Edrea malah di buat terkejut ketika melihat sosok itu ikut berjongkok tepat di depannya sambil menatap dengan tatapan yang tak biasa ke arahnya, membuat Edrea langsung mengelus dadanya karena terkejut akan tatapan dari sosok gadis itu.
"Astaga, tidak bisakah kau tidak mengejutkan ku seperti itu?" ucap Edrea sambil mengelus dadanya secara perlahan karena terkejut akan sosok gadis tersebut.
Apa kamu masih marah? aku minta maaf... aku benar benar tidak tahu... aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi padaku...
Ucap sosok tersebut dengan raut wajah yang sendu, namun bagi Edrea malah terlihat semakin menyeramkan jika di tambah dengan wajah pucat nya itu sama sekali tidak cocok.
Edrea menghela nafasnya dengan panjang, mencoba untuk mengatur hatinya yang terasa berantakan. Jujur saja Edrea sama sekali belum siap jika harus di berikan tugas kembali untuk saat ini, pikirannya benar benar masih berantakan dan kacau balau memikirkan tentang masa lalunya yang berkaitan dengan Barra dan juga Siluman ular tersebut. Edrea tidak tahu lagi harus mencari tahu di mana dan bertanya kepada siapa, namun Edrea tidak setega itu jika harus terus memaksakan kehendaknya kepada Barra agar Barra mengatakan tentang masa lalunya.
__ADS_1
Edrea menatap ke arah sosok tersebut sekilas kemudian menghela nafasnya dengan panjang.
"Baiklah, sekarang ceritakan padaku kronologinya, bukan hanya ketika terjadi kecelakaan, tapi lokasi terakhir kamu sebelum kecelakaan dan juga tempat tinggal mu... aku minta katakan yang sejujurnya agar aku bisa membantu mu kembali ke tubuh mu dengan cepat, apa kau mengerti?" ucap Edrea pada akhirnya yang kini dengan nada bicara yang lebih lembut.
Sedangkan sosok tersebut yang mendengar ucapan Edrea langsung dengan spontan menganggukkan kepalanya dan mulai menceritakan kronologi lengkapnya, di mulai dari awal keberangkatannya hingga segala hal yang berkaitan dengannya kepada Edrea, berharap Edrea bisa benar benar membantunya untuk kembali kali ini sebelum semuanya terlambat dan mereka berdua kehabisan waktu.
***
Ruangan Barra
Dari arah luar ruangannya, Barra dan juga Max terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Barra. Max yang sedari tadi mengikuti langkah kaki Barra masuk sebenarnya sangat penasaran akan satu hal, namun Max ragu untuk menanyakannya langsung kepada Barra saat ini. Hingga Barra mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya, Max tetap hanya berdiri diam sambil memikirkan berbagai banyak hal, membuat Barra yang melihat tingkah Max lantas mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Eh tuan... anu... boleh saya tanya sesuatu?" ucap Max kemudian dengan nada yang ragu ragu.
Barra yang mendengar pertanyaan dari Max tersebut, lantas terlihat berpikir sejenak namun sedetik berikutnya mengangguk tanda mengiyakan permintaan dari Max barusan. Max yang melihat Barra menyetujuinya lantas menghela nafasnya panjang terlebih dahulu dan mulai bersiap untuk bertanya kepada Barra, yang mungkin sifatnya agak sedikit privasi.
"Em... maaf sebelumnya tuan, hanya saja mengapa tuan malah menyuruh Edrea yang mengantar roh tersebut kembali ke tubuhnya tanpa pengawasan? bukankah itu akan memperumit keadaan? em... maksud saya Edrea kan belum pernah mengantar roh kembali ke tubuhnya, bagaimana kalau Edrea tiba tiba melakukan kesalahan atau membuat masalah? bukankah itu akan semakin sulit untuk di perbaiki?" ucap Max pada akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang sudah ia pendam sedari tadi dan tidak berani Max keluarkan karena tidak enak kepada Barra.
Barra yang mendengar pertanyaan beruntun dari Max barusan, lantas hanya tersenyum yang malah membuat Max bingung karena ekspresi yang di berikan oleh Barra ketika mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Mungkin itu lebih baik, setidaknya Edrea akan melupakan pertanyaan tentang masa lalu yang selalu saja ia tanyakan dan membuat ku gelisah dan bingung hendak mengatakannya seperti apa kepada Edrea." ucap Barra dalam hati sambil tersenyum menatap ke arah Max.
Sedangkan Max yang melihat tuannya hanya tersenyum seperti itu, lantas tidak lagi berani bertanya kembali karena takut tuannya akan marah nantinya jika Max mengulang pertanyaannya.
***
Sementara itu Edrea terlihat baru sampai di Stasiun Kereta tempat sosok gadis itu kecelakaan sore harinya dengan mengendarai mobil miliknya, butuh waktu hampir setengah harian untuk sampai di Stasiun kereta tersebut, dengan langkah kaki yang bergegas Edrea mulai memasuki area Stasiun bersama dengan sosok gadis tersebut menuju ke arah meja informasi untuk mencari tahu tentang kecelakaan pagi tadi.
"Permisi, saya mau bertanya apakah ada kecelakaan yang terjadi pagi tadi di eskalator Stasiun ini?" ucap Edrea berharap ada seseorang yang mengetahui tentang kecelakaan tersebut.
Petugas resepsionis yang mendengar ucapan dari Edrea barusan, lantas langsung bangkit dan bertanya kepada rekannya setelah itu kembali duduk di meja pusat informasi.
"Iya benar, kalau tidak salah kecelakaan tersebut terjadi sekitar pagi tadi." ucapnya kemudian.
"Apa saya boleh tahu korban di larikan ke Rumah Sakit mana dan seperti apa kondisi terakhirnya?" ucap Edrea lagi bertanya.
"Jika tidak salah korban di larikan ke Rumah Sakit Medika Cipta, namun untuk keadaannya saya kurang tahu soalnya saya shift siang jadi tidak terlalu tahu kronologinya, cuman yang saya dengar sepertinya korban tidak bisa selamat ketika di bawa ke Rumah sakit." ucap resepsionis tersebut.
"Apa? meninggal?" pekik Edrea yang terkejut ketika mendengar ucapan dari resepsionis barusan.
__ADS_1
Bersambung