
"Kamu" ucap sosok arwah Lidia yang terkejut ketika mendapati Mira tengah berdiri dihadapannya saat ini.
Mira yang tahu Lidia pasti terkejut ketika berjumpa dengannya lantas hanya tersenyum menatap ke arah Lidia. Mira yang memang dalam posisi sedang terburu-buru kemudian kembali mengulang perkataannya dan mengajak sosok arwah Lidia untuk segera bergegas pergi dari sana menuju ke Stasiun pemberhentian. Lidia yang kembali mendengar ajakan tersebut terlihat melirik ke arah dimana tubuhnya yang saat ini terlihat berlumuran darah.
Lidia menatap ke arah Mira dengan tatapan yang sendu, membuat Mira lantas menghela napasnya dengan panjang ketika melihat raut wajah Lidia saat ini.
"Bisakah aku meminta satu hal?" tanya Lidia dengan nada yang ragu.
"Katakan saja."
"Aku ingin potongan tubuh ku nantinya ditemukan dalam keadaan yang lengkap, aku tentu tidak bisa pergi jika salah satu dari tubuh ku belum ketemu." ucap Lidia dengan nada yang memohon namun berhasil membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Mira.
"Tak perlu khawatir teman masa kecil mu pasti akan mencarinya hingga ke kolong jembatan sekalipun." ucap Mira sambil tersenyum ke arah Lidia.
Lidia yang mendapat jawaban tersebut tentu saja sedikit bingung namun sekaligus lega karena potongan tubuhnya dapat dipastikan ketemu walau untuk disatukan kembali mungkin akan sangat susah. Mendapat jaminan dari Mira membuat Lidia pada akhirnya mau menuruti perkataan Mira dan ikut dengannya menuju ke Stasiun pemberhentian tanpa kembali bertanya ataupun protes akan kematiannya yang tragis.
***
Sementara itu Edrea yang sedari tadi masih berputar-putar tanpa henti pada akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi taman sekedar melepas penat karena sedari tadi ia tak kunjung menemukan keberadaan Lidia. Ditatapnya area taman dengan tatapan yang sendu sambil terus memikirkan dimana kira-kira keberadaan Lidia saat ini.
Sebagai teman masa kecilnya, Edrea bahkan merasa gagal karena tidak bisa membantu Lidia disaat ia tengah membutuhkan pertolongan seperti saat-saat ini. Helaan napas kembali terdengar dari mulut Edrea begitu ia tidak lagi bisa mengikuti jejak kepergian Lidia yang menghilang ketika tengah berkomunikasi dengannya.
"Kamu dimana Lid? Apa kamu bisa mendengar ku?" ucap Edrea dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Hingga sebuah nada dering yang terdengar berasal dari ponselnya, lantas terdengar dan mengejutkan Edrea yang tengah melamun saat itu. Edrea yang mendengar sebuah panggilan masuk dari ponselnya lantas langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya dan mulai menjawab panggilan tersebut.
"Re syukurlah kau mengangkat panggilan ku, apa kamu bisa kemari dan menemani ku saat ini? Aku benar-benar takut sendirian." ucap sebuah suara di seberang sana yang ternyata berasal dari Kiera.
Edrea yang mendapat telpon dari Kiera barusan tentu saja langsung kebingungan, ini adalah pertama kalinya Kiera memintanya untuk menemaninya hanya karena ia sedang ketakutan yang lantas membuat perasaan cemas dan juga khawatir yang semula mengarah kepada Lidia kini berpindah tempat dan lebih dominan ke arah Kiera.
"Tenanglah dulu Ki... Satu menit lagi aku akan langsung datang ke rumah mu!" ucap Edrea kemudian menutup panggilan telponnya setelah mengatakan bahwa ia akan datang ke sana.
Edrea yang tidak ingin kejadian kepada Lidia akan kembali terulang tanpa memikirkan bahwa Kiera akan terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba lantas langsung berteleportasi menuju ruang kamar Kiera.
**
Kamar Kiera
Kiera yang memang dalam posisi was-was setelah menerima kabar bahwa sepupunya hilang dan sampai sekarang belum ditemukan, lantas terlihat duduk dengan posisi meringkuk di atas kasur. Pikiran Kiera kini bahkan hanya terisi hal-hal negatif apalagi ketika mengingat bahwa beberapa hari ini Kiera sering merasa ada yang mengikutinya secara diam-diam, namun ketika Kiera mencari tahu tentang orang itu yang Kiera dapati selalu saja hanya kekosongan belakang.
"Rea... Kamu dimana? Cepatlah kemari Re..." ucap Kiera dengan nada yang lirih.
Kiera yang mengira hal ini karena ulah seseorang mendengar sebuah suara yang tak asing di telinganya lantas langsung menghentikan gerakan tangan Kiera yang hendak melempar bantal karena terkejut akan sosok hitam yang samar-samar mendekat ke arahnya.
"Apa yang terjadi Ki?" tanya Edrea dengan tiba-tiba.
"Edrea! Kau benar-benar mengejutkan ku..." ucap Kiera dengan nada yang meninggi.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut lantas membuat Edrea terdiam seketika disaat menyadari kesalahannya yang tiba-tiba berteleportasi dihadapan Kiera yang tentu saja pasti akan terkejut dengan hal tersebut, namun detik berikutnya Edrea yang tidak ingin Kiera memperpanjang masalah ini lantas kembali melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah di mana Kiera tengah berada saat ini.
"Katakan padaku ada apa?" ucap Edrea kemudian mencoba mengalihkan fokus Kiera agar tidak membahas masalah kedatangannya.
Mendapat pertanyaan tersebut Kiera yang semula hendak protes karena Edrea datang dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan tersebut, mendadak langsung berganti ketika Kiera mendengar pertanyaan dari Edrea barusan. Kiera yang memang dalam kondisi tidak baik-baik saja, lantas langsung mulai bercerita akan segala hal yang terjadi kepada dirinya. Mulai dari hilangnya saudara sepupunya yang secara misterius hingga beberapa hari ini Kiera yang terus merasa diawasi dan juga diikuti kemanapun Kiera pergi. Edrea yang mendengar secara keseluruhan cerita dari Kiera barusan, lantas langsung menghela napasnya dengan panjang dan berusaha menenangkan Kiera agar tidak terlalu khawatir akan hal yang terjadi saat ini.
"Tenanglah Ki... Tak perlu khawatir aku akan selalu ada di sini untuk mu. Sekarang pergilah tidur biar aku yang akan menjaga mu disini." ucap Edrea kemudian.
"Tidak perlu Re, kita bisa tidur sama-sama namun ijinkan aku tidur satu kamar dengan mu." pinta Kiera kemudian.
"Baiklah, sekarang mari kita tidur dan lupakan segalanya." ucap Edrea kemudian yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kiera.
***
Keesokan paginya
Edrea yang baru saja menyiapkan sarapan untuk ia dan juga Kiera, lantas membawa dua piring omelet lengkap dengan jus jambu di sebuah nampan menuju ke arah ruang televisi. Kebiasaan Edrea dan juga Kiera ketika berada di Apartment Kiera adalah makan di depan televisi sehingga ketika Edrea menginap di sana ia akan langsung menyusunnya di meja tepat ruang menonton.
Edrea yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa lantas mulai menekan remote untuk melihat siara berita. Namun siapa sangka sebuah berita yang tak pernah Edrea duga mendadak tersiar di sana.
"Telah ditemukan mayat wanita di dekat pinggiran kota tua dengan kondisi tangan sebelah kirinya yang hilang. Tidak adanya identitas yang menyertainya membuat pihak kepolisian lantas kesulitan untuk memastikan identitas mayat tersebut. Hanya terdapat sebuah gelang dengan bandul kupu-kupu berwarna peach yang menghiasi tangan bagian kanannya."
Edrea yang mendengar siaran berita tersebut tentu saja terkejut bukan main, apa lagi ketika kamera memperlihatkan dengan jelas gelang yang dimaksud, membuat Edrea yakin bahwa mayat itu adalah seseorang kenalan nya.
__ADS_1
"Tidak mungkin"
Bersambung-