
Malam harinya
Edrea dan juga Barra di ajak Ibu untuk menikmati hidangan makan malam yang telah di masak olehnya. Suasana makan malam saat itu benar benar hening dan tanpa pembicaraan apapun kecuali suara dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring mereka masing masing.
Edrea menghela nafasnya dengan panjang secara berulang kali, pikirannya benar benar kosong seakan ngeblank dan tidak tahu mengapa tiba tiba ia berada di sini. Terakhir kali yang dia ingat hanya ketika dirinya membeli minuman kepada seorang pedagang asongan, kemudian Edrea berteleportasi ke sebuah gedung tua dan setelah itu Edrea tidak lagi mengingat apapun selain hal tersebut.
"Apakah makanannya tidak enak?" ucap Ibu kemudian memulai membuka pembicaraan.
Hening tidak ada jawaban apapun dari Edrea, sepertinya Edrea tengah melamun saat ini sehingga tidak terlalu mendengarkan ucapan dari Ibu.
Barra yang melihat Edrea hanya diam saja, lantas sedikit menyenggol lengan Edrea dan langsung menyadarkan Edrea dari lamunannya.
"Ada apa Bar?" tanya Edrea kemudian yang sedikit tersentak dengan senggolan dari Barra barusan.
"Ibu bertanya padamu, apakah makanannya tidak enak?" ucap Barra kemudian mengulang ucapan Ibu tadi.
"Em.. enak kok Bu.. enak..." ucap Edrea sambil tersenyum manis ke arah Ibu.
"Jika enak, mengapa kamu hanya mengaduk aduk makanannya sedari tadi." ucap Ibu kemudian yang lantas membuat Edrea kikuk seketika.
"Bukan seperti itu, Rea hanya sedang memikirkan sesuatu saja tadi... maaf ya Bu Rea jadi merusak suasana." ucap Edrea kemudian merasa bersalah.
"Sudahlah tidak perlu di pikirkan terlalu dalam, mau tahu rahasia Ibu mengapa selalu saja bahagia?" ucap Ibu kemudian yang lantas di balas Edrea dengan anggukan kepala.
"Jangan pernah memikirkan sesuatu yang tidak penting, hiduplah untuk hari ini seakan akan esok kamu akan tiada dan jangan pernah larut ke dalam masa lalu, hanya itu rahasianya dan Ibu rasa kamu bisa menerapkannya mulai besok." ucap Ibu lagi dengan nada bicara yang lembut.
"Terima kasih banyak bu, Rea janji akan mengingatnya..." ucap Edrea lagi yang di balas Ibu dengan senyuman.
"Em setelah makan, mungkin kami akan langsung pulang Bu..." ucap Barra kemudian.
__ADS_1
"Mengapa kalian tidak menginap di sini saja?" ucap Ibu ketika mendengar perkataan Barra barusan.
"Mungkin lain kali Bu..." ucap Barra kemudian.
"Ya sudah kalau begitu, oh ya Bar tolong kamu berikan titipan Ibu kepada Mira ya... Ibu menjanjikannya apel beberapa hari yang lalu padanya." ucap Ibu kemudian yang lantas membuat Barra menatap dengan bingung ke arah Ibu, namun detik berikutnya Barra langsung mengangguk dan mengiyakan ucapan Ibu tanpa protes sedikit pun.
***
Ruangan Barra
Setelah kepulangannya dari rumah Ibu baik Edrea dan juga Barra, lantas langsung berteleportasi ke ruangan Barra di Stasiun Pemberhentian. Edrea yang baru saja sampai, lantas langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk milik Barra dengan raut wajah yang di tekuk kesal, membuat Barra sedikit kebingungan ketika melihat ekspresi wajah Edrea.
"Apakah ada sesuatu yang salah?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Bukankah kau ingin mengantar apel untuk Mira? mengapa kau masih di sini?" ucap Edrea dengan nada yang ketus membuat Barra lantas kebingungan akan nada bicara Edrea barusan.
"Memang benar, tapi mengapa kamu marah? perasaan aku tidak melakukan apa apa sedari tadi?" ucap Barra kemudian sambil mengingat ingat kesalahannya tapi tetap saja Barra tidak menemukan letak kesalahannya.
"Jadi sekarang nih?" tanya Barra kemudian seakan malah menambah kekesalan yang Edrea rasakan saat ini.
"Ya sekarang lah! jangan menambah kekesalan ku semakin berkali kali lipat ya Bar... sana pergi sana..." usir Edrea sambil mendorong tubuh Barra agar segera keluar dari ruangannya.
"Benar benar laki laki selalu saja tidak peka, aku kira aku yang pertama ia ajak ke rumah Ibu tapi ternyata si nenek lampir sudah lebih dulu dekat dengan Ibu, benar benar menyebalkan! mengapa harus nenek lampir itu sih?" ucap Edrea dengan nada yang kesal setelah kepergian Barra dari sana yang kini hanya menyisakan Edrea seorang diri dengan perasaan kesal yang ia rasakan karena rasa cemburu yang memenuhi hatinya.
***
Ruangan Mira
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk" ucap Mira dari arah dalam ruangan yang lantas membuat Barra tanpa sungkan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Mira dengan langkah kaki yang bergegas.
"Barra? tumben ke sini... ada apa?" tanya Mira ketika melihat Barra yang melangkahkan kakinya mendekat dengan membawa kantong kresek di tangannya.
"Ada titipan dari seseorang yang meminta ku untuk memberikannya kepadamu." ucap Barra sambil menaruh kantong kresek yang ia bawa sedari tadi.
"Apel? dari siapa?" tanya Mira ketika melihat ke dalam bungkusan kantong kresek yang di bawa oleh Barra sedari tadi.
"Dari Ibu, aku yakin kamu juga tidak akan tahu siapa dia tapi setidaknya aku sudah menyampaikan pesan darinya." ucap Barra dengan nada yang datang.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lebih lanjut, tapi sampaikan terima kasih ku padanya." ucap Mira kemudian.
"Baiklah" ucap Barra sambil melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan Mira.
"Apel ya? sepertinya enak." ucap Mira setelah kepergian Barra dari ruangannya.
***
Rumah sakit
Seorang laki laki yang mengenakan pakaian seorang dokter lengkap dengan masker di wajahnya, terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan seorang pasien di Rumah Sakit tersebut.
Bunyi suara alat vital dan detak jantung yang di pasang pada tubuh pasien terdengar nyaring memenuhi ruangan kamar pasien tersebut di rawat, dokter tersebut nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah pasien tersebut lalu menatapnya cukup lama.
"Jika aku meneruskan apa yang telah tertunda bukankah itu akan menimbulkan asumsi yang berbeda? aku hanya tinggal memasukkan ingatan lewat mimpinya mungkin sebuah drama akan terbentuk dengan indah... bukankah ini menarik? sssssss" ucap seseorang yang mengenakan jubah dokter tersebut sambil terus mendesis layaknya seekor ular.
Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, dokter tersebut nampak mulai mengulurkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya ke area ubun ubun pasien dan detik itu juga energi milik pasien tersebut mulai terserap secara perlahan, membuat alat alat untuk mengecek tanda vital yang di tempel di tubuh pasien, langsung berbunyi seketika menandakan bahwa pasien dalam kondisi yang tidak baik baik saja, hingga detik berikutnya suara bunyi panjang mulai terdengar menggema memenuhi ruangan pasien tersebut.
Titttttttttttttttt
__ADS_1
Bersambung