Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Itu tidaklah penting!


__ADS_3

"Fan... Fano.. kamu dimana Fa..." teriak Kiera sambil menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan Fano di sekitaran sana.


"Aku di sini Ki.." ucap Fano dengan nada suara yang samar samar, membuat Kiera lantas dengan spontan menoleh ke sekitar mencari sumber suara, namun tetap saja ia tidak melihat Fano di manapun.


"Di sini dimana Fan? bisakah kau untuk tidak bercanda seperti ini? keluarlah Fan... ini mulai tidak lucu!" teriak Kiera lagi karena mulai kesal akan sikap Fano yang malah mengajaknya bermain petak umpet.


Fano yang sedari tadi bersembunyi di dalam kegelapan, lantas tersenyum dengan miring ketika mendengar rengekan Kiera, Fano kemudian langsung melesat dan berhenti tepat di belakang Kiera.


"Aku di sini ssssss" ucap Fano dengan nada yang berbisik dengan disertai desisan yang membuat bulu kuduk Kiera langsung berdiri dengan seketika.


Kiera yang mendengar suara tersebut, perlahan lahan mulai memutar kepalanya dan menatap ke arah Fano yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Aaaaaaaa" teriak Kiera yang terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


Kiera yang baru saja berbalik badan, lantas di buat terkejut ketika melihat manik mata Fano bersinar layaknya mata seekor ular yang tengah mengintai mangsanya dalam kegelapan.


Sedangkan Fano yang mendengar teriakan Kiera, hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kiera yang terlihat terus berusaha mundur dan menghindar dari dirinya.


"Ada apa Ki... mengapa kamu menghindar dariku ssssss" ucap Fano dengan nada yang menggoda disertai desisan yang selalu saja terdengar memenuhi telinga Kiera, membuat Kiera semakin dibuat ketakutan akan sosok Fano yang saat ini tengah berdiri dan melangkah semakin mendekat ke arahnya.


"Si... siapa kamu..." ucap Kiera sambil terus berjalan mundur dan menghindari Fano.


"Aku Fano... apakah kamu tidak mengenali ku Ki..." ucap Fano sambil tersenyum menyeringai.


Kiera yang yakin itu bukanlah Fano lantas hendak berusaha melarikan diri, namun sayangnya tangan Fano sudah berhasil lebih dulu mencengkram leher Kiera, hingga membuat Kiera tidak lagi bisa bergerak untuk melepaskan diri dari cengkraman Fano.


"Le... lepaskan aku..." ucap Kiera dengan nada yang tersendat karena cengkraman Fano yang begitu kuat melingkar dengan erat di lehernya.


"Melepaskan mu? tentu saja tidak semudah itu Ki... Sss" ucap Fano dengan tawa yang menggema hampir memenuhi gudang saat itu.


***


Sementara itu Edrea yang sudah berkeliling kampus untuk mencari keberadaan Kiera sama sekali tidak membuahkan hasil apapun, membuat Edrea terlihat sangat frustasi karena bingung akan mencari keberadaan Kiera kemana lagi.

__ADS_1


"Kemana lagi aku harus mencari mu Ki... ayo berpikir Rea.. berpikir." ucap Edrea pada diri sendiri sambil mengetuk ketukan jarinya ke dahi secara berulang kali berharap ia akan mendapatkan petunjuk jika melakukan hal tersebut.


"Tunggu sebentar... jika Max datang untuk menjemput Kiera itu artinya Max pasti juga berada tidak jauh dari posisi Kiera saat ini, mengapa aku baru terpikirkan sekarang? dasar bodoh kau Rea!" ucap Edrea kemudian dengan penuh semangat ketika sebuah ide terlintas di benaknya secara tiba tiba.


Edrea yang sudah yakin akan pendapatnya, lantas mulai memusatkan pikirannya kemudian menjentikkan tangannya perlahan dan mulai berteleportasi.


***


Tidak butuh waktu lama bagi Edrea untuk berteleportasi, dalam sepersekian detik ia kini sudah berdiri tepat di sebelah Max, membuat Max yang sadar akan kedatangan Edrea yang tiba tiba, hanya bisa memutar bola matanya jengah karena lagi lagi Max harus bertemu dengan si pembuat onar.


Edrea yang baru saja sampai lantas di buat terkejut dengan pemandangan yang kini ada di hadapannya.


"Kiera!" pekiknya ketika melihat Kiera tengah di cengkram oleh Fano pada bagian lehernya.


Max yang melihat Edrea hendak melangkahkan kakinya untuk maju dan menolong Kiera, lantas langsung mencekal tangan Edrea hingga langsung menghentikan langkah kaki Edrea.


"Jangan mencampuri urusan mereka." ucap Max memperingati Edrea.


"Lepaskan aku Max, aku tidak bisa membiarkan Kiera mati begitu saja... lepaskan aku..." ucap Edrea sambil terus meronta ronta agar Max melepaskannya.


"Ku bilang lepaskan ya lepaskan Max! lagi pula aku tidak ikut andil dalam tugas ini, jadi kau sama sekali tidak punya hak untuk melarang ku menyelamatkannya." pekik Edrea sambil mendorong tubuh Max sekuat tenaganya, Edrea yang sudah tidak sabar lagi lantas tanpa sadar mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menghentakkan Max, hingga membuatnya mundur beberapa langkah dan membentur dinding gudang.


"Arg" rintih Max karena tubuhnya yang tiba tiba terhempas begitu saja karena ulah Edrea.


Sedangkan Edrea yang sudah bebas dari cengkraman Max, lantas langsung bergerak maju ke arah depan dengan membawa balok kayu di tangan kirinya.


Edrea yang sudah gelap mata dengan gerakan yang cepat langsung mengayunkan balok kayu tersebut ke arah tengkuk Fano dengan keras.


Bruk...


Tubuh Fano dan juga Kiera terjatuh secara bersamaan, membuat Edrea langsung dengan spontan melangkahkan kakinya dan menolong Kiera.


Uhuk uhuk uhuk...

__ADS_1


Edrea mengelus punggung Kiera yang kini sedang terbatuk batuk karena berhasil menghirup udara segar setelah cengkraman tangan Fano lepas dari lehernya.


"Rea..." ucap Kiera dengan nada yang lirih.


"Tenanglah semua sudah baik baik saja... kamu tidak perlu khawatir." ucap Edrea sambil mengelus punggung Kiera berusaha untuk menenangkannya.


"Tadi Fano... Fano.." ucap Kiera hendak menjelaskan tentang Fano namun keburu di potong oleh Edrea.


"Sudahlah tidak perlu di jelaskan... yang terpenting kamu selamat." ucap Edrea lagi yang lantas di balas anggukan kepala oleh Kiera.


**


Sementara itu tanpa Kiera dan juga Edrea sadari, tubuh Fano yang tadinya limbung dan jatuh di lantai setelah mendapat pukulan dari Edrea tadi. Perlahan lahan mulai membuka kelopak matanya dan terlihat bergerak.


Sssss


Ssss


Tubuh Fano perlahan lahan mulai bangkit sambil merenggangkan otot otot sendinya yang tadi sedikit bergeser akan pukulan dari Edrea yang secara mendadak.


"Cukup lumayan juga pukulannya tadi sss." ucap Fano dengan nada yang lirih sambil merenggangkan bagian lehernya.


Fano kemudian lantas berbalik badan dan menatap ke arah Edrea dan juga Kiera yang tengah berbicara dan saling memberikan kehangatan tersebut.


"Wah wah wah apakah kalian tidak ingin menyudahi drama ini?" ucap Fano kemudian yang lantas membuat Edrea dan juga Kiera berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Edrea kemudian dengan manik mata yang tajam menatap ke arah Fano.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Edrea, lantas membuat Fano langsung tertawa dengan geli. Beberapa detik tertawa Fano kemudian dengan spontan mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya dan mulai menghentikan tawanya.


"Siapapun aku itu tidaklah penting!" ucap Fano dengan nada yang datar kemudian langsung melesat dan mendekat secara cepat ke arah Edrea dan juga Kiera.


"Awas!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2