
Ruangan Barra
Di atas sofa ruangan Barra, Edrea terlihat mulai membuka kelopak matanya secara perlahan. Sambil mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul Edrea mulai terlihat mengedarkan pandangannya ke area sekitar dengan tatapan yang sedikit bingung. Sampai beberapa detik kemudian Edrea yang mulai sadar bahwa ia saat ini tengah berada di dalam ruangan Barra, lantas menghela napasnya dengan panjang sambil menatap ke arah lengannya yang saat ini sudah terbalut dengan perban itu.
"Ah sepertinya memang benar-benar Barra yang membawa ku waktu itu." ucap Edrea pada diri sendiri dengan nada yang lirih.
Ketika Edrea baru bangkit dari tidurnya sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar menggema dan membuat Edrea dengan spontan menoleh ke dah sumber suara. Dari arah pantry terlihat Barra tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah Edrea sambil membawa secangkir minuman ke arah dimana Edrea berada saat ini. Barra meletakkan minuman tersebut di atas meja kemudian mengambil duduk di sebelah Edrea.
"Bagaimana kondisi mu?" tanya Barra kemudian sambil menyodorkan minuman yang tadi ia bawa kepada Edrea.
"Aku sudah merasa lebih baik, berapa lama aku tidur?" tanya Edrea balik yang lantas membuat helaan napas lantas terdengar dengan jelas dari mulut Bara.
"Jika aku tidak mentransfer kembali energi milik ku mungkin kamu saat ini sudah naik kereta bersama para arwah yang kamu pernah jemput." ucap Barra dengan nada yang ketus membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah.
__ADS_1
Edrea yang mendapat jawaban ketus dari Barra barusan hanya terdiam tanpa bertanya kembali. Edrea tahu pasti ia akan kembali mendapat omelan dari Barra sebentar lagi karena ulahnya yang tanpa ijin bertindak mengeksekusi Pria itu. Sedangkan Barra yang melihat wajah Edrea seperti itu hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, Barra yakin Edrea pasti juga tidak sengaja melakukan hal tersebut, lagi pula apa yang ia lakukan adalah keputusan yang benar hanya saja sedikit membahayakannya saja, selebihnya tidak ada masalah bagi Barra.
Barra yang melihat wajah cemberut Edrea lantas bangkit dari posisinya kemudian mengambil duduk di sebelah Edrea dan langsung mengusap puncak kepala Edrea dengan lembut, membuat Edrea yang secara tiba-tiba mendapat perlakuan tersebut tentu saja terkejut.
"Apa yang sedang dia lakukan?" ucap Edrea dalam hati sambil terdiam terpaku setelah menerima perlakuan tersebut.
Pandangan mata keduanya bertemu sepersekian detik menciptakan sebuah gleyer aneh dalam diri keduanya. Edrea yang fokus matanya hanya menatap jakun milik Barra yang terlihat naik dan turun berulang kali, membuat Edrea lantas menelan salivanya dengan kasar ketika melihat hal tersebut. Melihat hal itu pikiran Edrea benar-benar berlarian kemana-mana, membuatnya yang sudah tidak kuat untuk menahannya lantas bangkit dari posisinya dan berusaha untuk menghindari jarak yang begitu dekat dengan Barra karena itu akan selalu memunculkan imajinasi liar di kepalanya, jika saja Edrea terus-terusan seperti ini dengan Barra.
"Sepertinya aku harus...." ucap Edrea hendak berlalu pergi dari sana namun sayangnya kata-kata Edrea terpotong begitu saja ketika tangan Barra menahannya untuk pergi.
"Lepaskan aku Bar... Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?" ucap Edrea dengan tatapan yang bingung.
Hanya saja Barra yang mendengar perkataan Edrea bukannya menjawab pertanyaannya malah tersenyum dengan tipis, membuat Edrea semakin dibuat tidak mengerti akan tingkah Barra saat ini. Hingga kemudian Barra yang tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu mendadak menarik tengkuk Edrea begitu saja dan membawanya mendekat ke area wajahnya sambil terus bergerak berusaha mendaratkan bibir miliknya kepada milik Edrea.
__ADS_1
Sebuah ciuman yang tanpa terbayangkan sama sekali oleh Edrea lantas membuat Edrea terkejut beberapa saat namun detik berikutnya malah ikut terhanyut ke dalam ciuman tersebut. Tangan Edrea yang semula terdiam kaku karena terkejut akan perlakuan Barra yang tiba-tiba itu mendadak dengan santainya mengalung ke leher Barra, membuat Barra yang merasakan hal tersebut tentu saja tersenyum karena tahu bahwa Edrea saat ini tengah meresponnya secara perlahan.
Ciuman antara Barra dan juga Edrea terus berlanjut dan semakin panas, tidak hanya sampai di mulut saja bahkan Barra mulai berani turun ke area leher Edrea dan meninggalkan beberapa jejak di sana, membuat Edrea yang tak tahan dengan gelayar aneh dalam dirinya tanpa sadar membuat suara- suara yang semakin membuat Barra bersemangat melakukannya.
Edrea menjambak rambut Barra dengan spontan ketika Barra sudah mulai turun dan hampir menjamah kedua gunung kembar miliknya. Membuat Barra lantas menatap dengan bingung ke arah Edrea begitu mendapat jambakan tersebut. Edrea yang semula melakukan hal tersebut karena tidak ingin Barra melampaui batasan tanpa sadar malah menjambak Barra dengan keras dan membuat suasana menjadi canggung.
Untuk menghilangkan rasa yang canggung di antara keduanya Edrea kemudian menarik area tengkuk Barra dan kembali menuntunnya ke dalam ciuman panas yang sempat tertunda beberapa menit karena jambakan yang tiba-tiba dari Edrea. Hingga ketika keduanya sudah kembali hanyut ke dalam tautan antara satu sama lain, sebuah kilauan cahaya terlihat mulai muncul dari Edrea dan perlahan-lahan terserap masuk melalui area mulut Barra. Membuat Barra yang merasakan ada sesuatu yang terus masuk ke tubuhnya lantas membuat ia terkejut, namun karena mengira hal itu hanyalah sebuah perasaannya saja pada akhirnya Barra memilih untuk melanjutkan tanpa memperdulikan dari mana asal energi tersebut masuk ke dalam tubuhnya.
Sampai kemudian Barra yang terlanjur terbawa ke dalam gairah yang tak pernah ia rasakan, lantas semakin terbawa masuk ke dalamnya. Hingga ketika Barra merasa tautan Edrea mulai melemah baru lah ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres kepada Edrea dan langsung melepas tautannya dengan cepat. Ditatapnya raut wajah Edrea yang saat ini terlihat begitu pucat, membuat Barra lantas menatap dengan tatapan yang bingung karena ia yakin tadi jelas-jelas Edrea dalam kondisi yang baik-baik saja dan seperti biasanya. Mengapa mendadak Edrea berubah sangat pucat? Seakan-akan seperti semua energi kehidupannya terserap habis oleh sesuatu.
"Apa yang terjadi Re?" tanya Barra dengan tatapan yang bingung ke arah Edrea.
"Kamu... ternyata kamu sangat kuat ya Bar..."
__ADS_1
Bruk
Bersambung