Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kau dan aku tidaklah sama!


__ADS_3

Sementara itu Mira yang melihat gadis tersebut terjatuh, lantas langsung dengan spontan berlarian menghampiri gadis itu dan membantunya untuk berdiri. Mira yang semula memasang raut wajah yang khawatir akan keadaan gadis itu, mendadak langsung terkejut ketika melihat wajah gadis tersebut sangat mirip persis dengan Edrea.


"Edrea!" pekik Mira dalam hati ketika melihat wajah gadis itu yang mirip sekali dengan Edrea.


Mira yang baru saja mendapatkan penglihatan tersebut secara tiba tiba, lantas langsung terdiam di tempatnya dengan tatapan yang kosong ke arah depan, di tatapnya apel yang baru saja ia gigit selama berkali kali dengan tatapan yang menelisik seakan akan menaruh curiga kepada apel tersebut.


Buah apel yang ada di tangannya benar benar telah memberikannya ingatan kenangan di masa lalu yang tidak pernah Mira bayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa seseorang yang Mira benci kehadirannya karena terus menempel dengan Barra, mendadak berubah menjadi reinkarnasi dari adik Mira di masa lalu, bukankah itu gila?


Mira benar benar tidak lagi bisa berkata kata selain hanya tertegun setelah mendapat penglihatan tersebut, seakan tidak percaya akan penglihatan yang baru saja Mira dapatkan melalui gigitan apel pemberian dari Ibu.


"Bagaimana bisa?" ucap Mira dengan nada yang lirih pada diri sendiri.


***


Sementara itu Edrea yang sudah tidak tahan lagi sekaligus penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, lantas terlihat sedang melajukan mobilnya menuju ke arah Stasiun Kereta di mana di sana menjadi tempat gerbang utama menuju Stasiun pemberhentian. Edrea benar benar harus meminta penjelasan kepada Barra tentang hal ini, sehingga memutuskan untuk langsung pergi menemui Barra ke Stasiun pemberhentian.


Edrea menggigiti bibir bawahnya sambil berusaha untuk tetap fokus dalam melajukan mobilnya, entah mengapa semenjak ia mengetahui pemberitaan tentang meninggalnya pedagang asongan tadi pagi, membuat pikiran Edrea benar benar bercabang antara satu sisi dengan sisi lainnya.


Dalam hati kecil Edrea benar benar yakin bahwa ia sama sekali tidak membunuh dan menyerap energi pedagang asongan tersebut hingga habis, namun anehnya di pikiran dan juga otaknya justru berbanding terbalik dengan hati kecilnya, membuat Edrea benar benar berada dalam jurang kebingungan yang bahkan Edrea sendiri tidak tahu dengan pasti apa yang sebenarnya sudah ia lakukan.


Edrea melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota, namun ketika mobil yang Edrea kendarai berada di persimpangan jalan, seekor kucing berwarna hitam pekat mendadak melintas di hadapannya dan membuat Edrea langsung menginjak rem mobilnya secara mendadak karena terkejut akan kehadiran kucing hitam tersebut yang secara tiba tiba.

__ADS_1


Ckit


Suara bunyi decitan rem yang di injak dengan spontan terdengar menggema di jalanan tersebut, sedangkan Edrea yang terkejut akan hal yang baru saja terjadi, lantas langsung mencoba untuk menarik nafasnya secara dalam dalam selama beberapa kali, kemudian baru mendongak berniat untuk mengecek keadaan kucing tersebut.


Edrea yang baru saja mendongakkan kepalanya ke atas, lantas kembali di buat terkejut ketika dengan tiba tiba mobilnya berpindah ke sebuah hutan lebat dengan nuansa malam hari dan juga berkabut saat itu tengah berhenti tepat di depan mulut gua.


Edrea yang terkejut akan perpindahannya yang tiba tiba, lantas mengerjapkan matanya secara berulang kali untuk mengecek apakah ia sedang berhalusinasi atau tidak. Hingga sebuah suara desisan ular yang mulai terdengar membuat Edrea langsung menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan ular tersebut.


"Sssss apa kau tengah mencari ku?" ucap sebuah suara dengan desisan yang memekakkan telinganya.


Sebuah kepala ular dengan ukuran yang besar perlahan lahan mulai terlihat muncul dari arah depan dan mulai menggeliat naik pada kap mobilnya. Edrea benar benar terkejut akan kehadiran ular besar tersebut yang muncul dengan tiba tiba, membuat Edrea hanya bisa terdiam mematung di tempatnya tanpa bisa bergerak kemanapun.


"Kau dan aku adalah sama, dalam dirimu mengalir juga darah ku sejak jaman dahulu bahkan sebelum kau bereinkarnasi menjadi seperti sekarang ini, apa kau pikir bisa merubah kodrat mu? sehingga kau bisa terbebas dari takdir yang sudah seharusnya terjadi pada kau, aku dan juga Barra?" ucap Siluman ular tersebut lagi yang lantas membuat Edrea terkejut bukan main ketika mendengar ucapan dari Siluman ular tersebut barusan.


"Apa maksud mu? aku tahu kau sedang berbohong bukan? jangan coba coba meracuni pikiran ku dengan terus membolak balikkan ingatan milik ku, kau dan aku adalah dua hal yang berbeda!" pekik Edrea dengan nada meninggi seakan tidak terima akan ucapan dari Siluman ular tersebut.


Mendengar ucapan Edrea barusan, membuat Siluman ular itu tertawa dengan girangnya kemudian langsung dengan spontan mengibaskan ekornya hingga membuat mobil milik Edrea terhempas jauh entah ke mana, sampai akhirnya berhenti di suatu tempat yaitu tempat semula Edrea berhenti ketika Edrea hampir menabrak kucing hitam di sana.


Edrea menatap ke arah sekeliling dengan tatapan yang bingung sekaligus bertanya tanya pada diri sendiri tentang apa yang baru saja terjadi kepada dirinya.


Kamu akan segera melihat kebenarannya, camkan itu baik baik!

__ADS_1


Ucap sebuah suara yang menggema tepat di telinga Edrea, membuat Edrea langsung dengan spontan menutup kedua telinganya ketika mendengar suara tersebut terus berulang di pendengarannya di sertai dengan suara dengungan yang panjang dan menyakitkan.


***


Ruangan Barra


Edrea yang berhasil masuk ke Stasiun Pemberhentian, lantas langsung terlihat melangkahkan kakinya masuk begitu saja ke dalam ruangan Barra tanpa mengetuk pintu ataupun memberitahu Barra tentang kedatangannya sebelumnya.


Bruk...


Suara pintu yang di buka dengan langkah yang terburu buru, membuat Barra langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk ke ruangannya tanpa permisi terlebih dahulu.


Barra yang melihat Edrea tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arahnya, lantas langsung di buat bingung sekaligus bertanya tanya tentang maksud kedatangan Edrea dengan raut wajah yang di tekuk seperti itu.


"Apakah kamu tidak bisa lebih sopan sedikit jika bertamu ke tempat orang?" sindir Barra dengan nada yang datar.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan dari Barra barusan, bukannya menjawab malah terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra dan berhenti tepat di samping Barra dengan tatapan yang serius mengarah kepada laki laki itu.


"Katakan padaku dengan sejujurnya, apa yang terjadi dengan ku, kamu dan juga Siluman ular tersebut di masa lalu?" ucap Edrea dengan tiba tiba yang lantas membuat Barra terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2