Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Apa kalian sudah selesai bermain?


__ADS_3

Ruangan Barra


Dari arah luar terlihat Max tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra yang tengah sibuk melihat beberapa berkas tentang keberangkatan para arwah sedari tadi. Barra yang mendengar langkah kaki seseorang yang mulai mendekat ke arahnya, lantas langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah sumber suara.


Barra yang melihat langkah kaki yang ia dengar berasal dari Max, lantas sedikit mengerutkan keningnya dengan bingung, bukan tanpa alasan, hanya saja Max baru saja dari ruangannya 5 menit yang lalu dan sekarang mengapa ia kembali lagi kemari? bukankah itu sangat aneh atau memang ada laporan yang penting?


"Ada apa lagi?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Max saat ini.


"Mira menggunakan kesempatannya pada sosok arwah yang ia jemput saat ini tuan, apakah itu akan baik baik saja tuan? mengingat Mira tidak pernah sama sekali menggunakan kesempatan tersebut." ucap Max kemudian memberikan laporan kepada Barra.


Barra yang mendengar laporan dari Max barusan sedikit mengernyit seakan heran, bukan tanpa alasan pasalnya Mira sama sekali tidak pernah menggunakan hal tersebut walau dengan seseorang yang sangat menderita sekalipun kehidupannya, Mira tetap tidak akan menggunakannya. Jika tiba tiba sekarang Mira menggunakannya, bukankah itu sangat aneh dan membuat semua orang yang mengenalnya menjadi bertanya tanya? akan apa alasan kuat yang membuat Mira pada akhirnya menggunakan kesempatan itu dengan tiba tiba.


"Kasus apa yang ia tangani memang?" tanya Barra kemudian.


"Sebuah kasus tabrak lari, tidak hanya itu Mira juga mengajak Edrea bersamanya." ucap Max lagi.


Mendengar nama Edrea di sebut, lantas membuat Barra tersenyum dengan simpul yang malah membuat Max bertanya tanya akan reaksi yang di berikan oleh Barra barusan ketika mendengar laporannya. Jika Mira mengajak Edrea dan menggunakan kesempatannya itu artinya Mira sedang memberikan sebuah pelajaran kepada Edrea, Barra yakin Mira kini tengah berusaha menghibur Edrea yang tengah murung karena kepergian arwah Sari. Tidak ada yang salah dalam penggunaan kesempatan tersebut, karena memang kesempatan itu selalu di berikan kepada para arwah yang meninggal dengan tragis atau belum waktunya, ini sebagai bentuk hadiah atau pemberian khusus bagi mereka. Hanya saja, tidak banyak penjemput arwah yang mau menggunakannya karena mereka yang tidak mau repot dan menambah masalah, mangkanya jarang sekali para petugas penjemput arwah yang mau menggunakannya.


"Biarkan saja Mira melakukannya, aku yakin dia punya alasan menggunakan kesempatan itu." ucap Barra kemudian dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apa anda yakin tuan?" tanya Max lagi kembali memastikan, namun Barra yang mendengar ucapan Max langsung mengangguk dengan mantap, membuat Max pada akhirnya mau tidak mau menuruti ucapan Barra.


*****


Sementara itu keadaan di bibir jurang.


"Kau salah paham, ada sesuatu yang tidak kau ketahui Edrea!" ucap Mira kemudian dengan nada yang santai.


"Apa?" ucap Edrea dengan nada yang ketus.


Mendengar jawaban ketus dari Edrea barusan sama sekali tidak membuat Mira marah ataupun kesal, melihat Edrea yang seperti itu Mira malah tersenyum kemudian menarik tangan Edrea untuk kembali melihat pria tersebut. Edrea yang tidak mengerti apapun tentu saja bingung bukan main karena Mira sama sekali tidak menjelaskan apapun kepadanya.


"Sssttt kita tunggu sebentar lagi." ucap Mira sambil memberikan isyarat kepada Edrea untuk diam dan tak berbicara.


Satu menit...


Dua menit...


Hingga lima menit kemudian, Edrea mulai tidak tenang ketika melihat kelopak mata pria itu semakin menyipit dan pada akhirnya menutup dengan sempurna, tidak ada lagi gerakan yang terlihat dari tubuh pria itu yang kini sudah terlihat bersimbah darah. Sampai kemudian Mira yang baru saja melihat pria itu menghembuskan nafas terakhirnya lantas langsung tersenyum ke arah Edrea.

__ADS_1


"Sudah saatnya..." ucap Mira dengan senyum yang mengembang namun malah membuat Edrea menatapnya dengan tatapan bingung.


Mira yang melihat tatapan bingung Edrea hanya tersenyum kemudian detik berikutnya menjentikkan jarinya dan berteleportasi ke sebuah tempat yang sama seperti awal Edrea, Mira dan juga Wili datangi yaitu tempat terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa Pricilia.


Edrea mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan pandangannya lantas terhenti pada sebuah mobil keluaran terbaru yang Edrea hapal dengan betul itu adalah mobil pribadi milik pria yang menabrak Pricilia hingga tewas. Di dalam mobil yang berada tidak jauh dari posisinya, tepat di bagian kursi pengemudi Edrea melihat pria yang baru saja menghembuskan nafasnya di ujung jurang, lantas mendadak berada di sini dalam keadaan yang utuh seperti sebelum terjadinya kecelakaan itu. Pandangan mata pria itu kosong menatap ke arah depan sedangkan bagian depannya, jasad Pricilia masih tergeletak di bahu jalan dengan kondisi yang sama.


"Bukankah dia..." ucap Edrea sambil menunjuk ke arah mobil tersebut yang langsung di balas Mira dengan anggukan kepala.


Belum habis keterkejutan Edrea mendadak terdengar suara riuh beberapa orang yang berlarian dan mengerubungi mobil pribadi milik pria itu karena mereka menganggap bahwa si pria itu akan kabur setelah menabrak seorang gadis. Seorang bapak bapak nampak langsung membuka pintu bagian pengemudi dan langsung menyeret pria itu keluar dari mobilnya. Tidak ada yang di lakukan pria itu selain hanya terbengong sambil mengikuti arah seretan dari beberapa pengemudi yang kebetulan melintasi jalan tol tersebut. Jika di lihat dari gelagatnya si pria penabrak itu seperti dalam kondisi di hipnotis sekaligus terkejut bercampur menjadi satu, hingga membuatnya hanya diam dengan pandangan yang kosong walau beberapa pengemudi sudah hampir melakukan tindak kekerasan padanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Edrea kemudian sambil masih menatap tak percaya ke arah pria itu yang bisa tiba tiba hidup kembali, tidak hanya itu beberapa pengemudi yang melintasi daerah ini pun terkesan agak aneh menurut Edrea, seakan akan terasa seperti semua sudah di susun sedemikian rupa untuk menjebak si pria tersebut dan membuatnya mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Aku hanya memberikan gambaran rasa sakit yang di alami oleh arwah Pricilia, dan untuk para pengemudi itu... ya sesuai dengan pemikiran mu aku yang telah mengaturnya." ucap Mira dengan santai.


"Jadi apa yang kita lihat tadi hanya merupakan sebuah gambaran semata? mengapa kamu tidak bilang sedari awal? apa ini yang menurut mu senang senang? aku bahkan sama sekali tidak menikmatinya karena tidak tahu apa apa!" ucap Edrea pada akhirnya dengan nada yang kesal namun malah membuat Mira terkekeh ketika mendengarnya.


"Apa kalian berdua sudah selesai dalam bermain?" ucap sebuah suara yang lantas langsung menghentikan tawa Mira dengan seketika.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2