Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah rencana


__ADS_3

Ruangan Barra


Barra terdiam di tempatnya sambil berpikir apa yang tengah Edrea lakukan saat ini. Diusapnya pipinya yang tadi bekas kecupan Edrea di sana, terasa begitu manis dan menggetarkan hatinya. Barra tersenyum sekilas ke arah tembok bercat warna putih pada ruangannya, membuat seseorang yang sedari tadi berdiri di sebelahnya menatap bingung ke arah Barra karena yang dilakukan Barra hanya duduk termenung sambil menatap ke arah tembok dengan sesekali tersenyum.


"Apa kau baik-baik saja Bar?" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Mira.


Mendengar sebuah suara yang terdengar dengan tiba-tiba, membuat Barra langsung tersadar dari lamunannya. Dengan gelagapan Barra lantas memutar kursinya dengan spontan untuk melihat ke arah sumber suara. Melihat Mira sudah berdiri di depan meja kerjanya, membuat Barra mendengus dengan kesal karena Mira masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Bisakah kau untuk..." ucap Barra hendak mengomeli Mira namun keburu dipotong oleh Mira.


"Untuk mengetuk pintu lebih dulu maksud mu? Aku bahkan sudah mengetuknya berulang kali namun kamu sama sekali tidak menanggapinya, jadi aku memutuskan untuk masuk ke dalam!" ucap Mira menjelaskan panjang kali lebar.


Barra yang mendengar ucapan Mira barusan hanya bisa menghela nafasnya panjang, Barra terdiam seakan mengiyakan bahwa ia telah melamun sedari tadi jadi tidak terlalu mendengar ketukan pintu Mira tadi. Barra kemudian menatap ke arah Mira tanpa suara seakan bertanya ada perlu apa Mira datang ke ruangannya. Mira yang mengerti kode tersebut lantas langsung memberikan iPad yang sedari tadi ia pegang ke meja Barra, membuat Barra langsung melihat apa yang ingin ditunjukkan Mira kepadanya.


"Ini adalah kasus yang kemarin, setelah aku melakukan penggalian informasi sepertinya kelompok mereka tersusun atas oran-orang yang baru mereka temui, dalam kata lain seperti sengaja di kumpulkan oleh seseorang. Mereka masuk ke dalam sebuah situs internet yang dimana fungsinya untuk menampung segala unek-unek mereka tentang dunia ini." ucap Mira menjelaskan yang lantas membuat Barra mulai mengerti alur kasus ini.


Barra terus mempelajari kasus tersebut dengan teliti. Hingga kemudian ia lantas teringat dengan Edrea yang juga Barra berikan tugas untuk menyelidiki kasus ini di dunia manusia. Barra yang mendengar hal tersebut langsung berdecak dengan kesal, membuat Mira dengan spontan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang bertanya-tanya. Namun belum sempat Mira menanyakannya Barra keburu berdiri dari tempatnya dan bersiap untuk bangkit melewati Mira begitu saja.


"Kau mau kemana Bar?" tanya Mira kemudian sambil menatap dengan raut wajah yang penasaran ke arah Barra.


Sedangkan Barra yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap ke arah Mira sekilas. Setelah itu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Mira dengan raut wajah yang penasaran di sana.

__ADS_1


"Aku ingin menemui si pembuat masalah, jika kamu bertemu dengan Max katakan aku keluar sebentar." ucap Barra sambil terus berlalu pergi dari ruangannya.


Mira yang mendengar perkataan Barra tentu saja langsung mengernyit dengan bingung, sambil berpikir siapa yang sedang di maksud oleh Barra. Hingga kemudian sebuah nama lantas terlintas di benak Mira, membuat Mira langsung membulatkan bibirnya tanda mengerti setelah mengetahui bahwa yang dimaksud Barra adalah Edrea.


"Dasar mereka berdua benar-benar selalu ingin pamer kemesraan di depanku." ucap Mira sambil memutar bola matanya dengan jengah kemudian ikut melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra.


**


Kamar Edrea


"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak bertindak sendiri?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Aku bahkan ingin membuat mu bangga, tapi kamu malah muncul bahkan disaat aku belum melakukan apa-apa." ucap Edrea dengan nada yang kesal.


Mendengar perkataan Edrea barusan membuat Barra menghela nafasnya dengan panjang kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada saat ini.


"Membuat bangga menyelesaikan masalah? Maksud mu dengan ikut masuk ke dalam kasus tersebut? Edrea itu bukan menuntaskan masalah tapi malah menambah masalah!" ucap Barra dengan nada yang menyindir.


"Aku hanya ingin mencoba menyelesaikannya..." ucap Edrea dengan nada yang lirih sambil cemberut.


"Apa kau tidak ingat satu persatu masalah yang kau timbulkan karena inisiatif mu itu? Dan kamu ingin menambahnya lagi kali ini? Tidak akan aku biarkan itu terjadi!" ucap Barra dengan nada penuh penekanan seakan tidak ingin diprotes sama sekali.

__ADS_1


"Kali ini saja percaya padaku Bar, aku bisa menyelesaikannya...." ucap Edrea dengan nada yang memohon.


Barra mendengus dengan kesal mendengar permintaan dari Edrea barusan, tak ingin menatap wajah Edrea yang seakan kini tengah merayunya. Barra kemudian lantas berbalik badan dan memunggungi Edrea. Hanya saja bukan Edrea namanya kalau ia hanya pasrah pada keputusan Barra saja. Hingga pada akhirnya Edrea langsung bangkit dan berdiri tepat di depan Barra berusaha untuk kembali membujuknya.


"Ayolah... sekali ini saja, aku janji hanya kali ini saja. Rencana ku kali ini benar-benar sudah matang." ucap Edrea kembali merayu Barra.


Barra terdiam sejenak mencoba memikirkan permintaan Edrea. Hingga kemudian helaan nafas lantas terdengar dari mulut Barra, membuat Edrea langsung tersenyum dengan sumringah karena Edrea tahu ia pasti berhasil membujuk Barra saat ini.


"Katakan apa rencana mu!" tanya Barra sambil mengambil posisi bersendekap dada menatap ke arah Edrea.


Dengan mata yang berbinar Edrea mulai mengisyaratkan Barra agar duduk di sebelahnya dan mendengarkan semua rencana Edrea. Sambil tersenyum dengan cerah Edrea mulai menceritakan dengan rinci rencana apa yang dimilikinya. Barra mendengarkan dengan seksama setiap perkataan yang keluar dari mulut Edrea dengan cermat. Hingga ketika Edrea mengatakan sesuatu hal yang menurut Barra terdengar sedikit gila, membuat Barra langsung mengernyit tidak mengerti akan rencana yang Edrea katakan akan berhasil seratus persen.


Barra yang mulai merasa ucapan Edrea semakin melantur kemana-mana, lantas kembali bangkit dari posisi duduknya dan menatap tajam ke arah Edrea saat ini.


"Aku tidak setuju!" ucap Barra memotong perkataan Edrea.


"Ayolah Bar... Aku yakin ini akan berhasil..." ucap Edrea yang kali ini dengan nada merengek kepada Barra agar mengijinkannya.


"Tidak Rea!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2