Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Penglihatan tiba tiba


__ADS_3

"Fano" pekik Edrea sambil menarik bahu Fano hingga membuatnya langsung berbalik badan dan menatap ke arahnya.


Manik mata keduanya lantas bertemu dan terkunci antara satu sama lain, Fano yang sudah menduga ini akan terjadi lantas tersenyum dengan sinis, perlahan lahan manik mata miliknya berubah warna menjadi kehijauan layaknya seekor ular. Dalam manik mata berwarna kehijauan milik Fano, secara mendadak Edrea seperti terserap masuk ke dalam manik mata tersebut dan melihat bayangan tentang masa lalunya.


Dalam penglihatannya, Edrea seperti di bawa ke masa lalu jauh sebelum era modern saat ini berlangsung.


Dari kejauhan terlihat Barra tengah berlari dengan cepat menuju tepat ke arahnya dan langsung menusuk area dada Edrea dengan tiba tiba tanpa aba aba ataupun peringatan sebelumnya.


Crash..


Darah segar terlihat mulai mengalir membasahi bajunya, rasa sakit yang ditimbulkan akibat luka tusukan itu, benar benar terasa ngilu dan sakit seakan akan nyata dan benar benar terjadi kepadanya.


Bruk..


Tubuh Edrea limbung dan jatuh ke tanah begitu saja, dalam keadaan yang sekarat di tatapnya manik mata Barra yang terlihat membuang muka tepat setelah menikam dirinya.


"Mengapa..." ucap Edrea dengan lirih sampai pada akhirnya ia seakan seperti di tarik kembali ke tempat asal, sedangkan manik mata kehijauan yang semula Edrea lihat perlahan lahan berangsur kembali seperti manusia normal pada umumnya.


Edrea yang tanpa sengaja melihat ke arah manik mata Fano, lantas langsung terdiam seketika dengan tatapan yang terkejut sekaligus perasaan sakit yang tiba tiba saja menyeruak memenuhi hatinya.


"Penglihatan apa itu?" ucap Edrea dengan manik mata yang berkaca kaca.


Setetes air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya, membuat Edrea langsung dengan spontan menghapus air mata tersebut dan menatapnya dengan tatapan yang terkejut.


"Ada apa dengan diriku? bukankah harusnya aku marah? mengapa... mengapa aku malah menangis?" ucapnya dalam hati dengan menatap bingung ke arah jarinya yang basah karena air matanya.


Fano yang melihat wajah terkejut Edrea mendadak tersenyum dengan sinis, seakan ia senang karena dirinya berhasil membuat memori kelam dalam pikiran Edrea.


"Bukankah ini semakin menarik?" ucapnya dengan lirih sebelum akhirnya berlalu pergi ketika mencium energi milik Barra semakin mendekat ke arahnya.


***

__ADS_1


Sementara itu Barra yang baru saja selesai membereskan dua kamera pengawas di area gudang, lantas langsung melangkahkan kakinya mencari keberadaan Edrea untuk segera membawanya kembali ke masa depan.


Beberapa kali Barra melangkah, Barra yang melihat Edrea tengah termenung menatapi jari jari tangannya lantas langsung menghela nafasnya panjang dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.


"Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" ucap Barra ketika melihat Edrea yang hanya diam termenung.


Ketika jarak keduanya sudah semakin dekat, Barra kemudian lantas menarik tangan Edrea secara tiba tiba berniat untuk segera membawanya pulang.


"Ayo kita segera pergi dari sini!" ucap Barra sambil menarik tangan Edrea hendak membawanya kembali menuju ke arah tangga darurat.


Edrea yang tiba tiba di tarik tentu saja terkejut bukan main, dalam perasaan yang kebingungan Edrea menghentikan langkahnya tiba tiba dan menghempaskan tangan Barra begitu saja.


"Lepaskan..." ucap Edrea dengan lirih, membuat Barra langsung menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung.


"Ada apa?" tanya Barra dengan tatapan yang menelisik.


"Tidak apa aku bisa jalan sendiri." ucap Edrea kemudian sambil berlalu pergi melewati Barra.


Keduanya kemudian lantas melangkahkan kakinya kembali ke arah tangga darurat, seperti sebelum keduanya datang untuk kembali ke waktu semula Barra cukup memasukkan kunci tersebut kembali ke pintu tangga darurat kemudian memutarnya seperti biasa.


Setelah cahaya keputihan terlihat muncul barulah Barra membuka pintu dan kemudian mengajak Edrea untuk masuk ke dalam.


"Kita sudah kembali ke waktu semula, kamu bisa mengeceknya apakah yang kita lakukan di masa lalu merubah segalanya atau tidak di masa sekarang." ucap Barra kemudian.


"Terima kasih banyak" ucap Edrea dengan wajah yang datar kemudian berlalu pergi meninggalkan Barra di sana dengan tatapan yang bingung akan sikap yang di tunjukkan oleh Edrea barusan.


"Apakah ada sesuatu yang salah dengannya?" ucap Barra pada diri sendiri dengan nada bicara yang bingung karena ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada Edrea selain membantunya kembali ke masa lalu.


***


Edrea melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari tangga darurat, pikirannya benar benar melayang entah kemana. Rasa sakit di dadanya bahkan masih terasa membekas hingga sekarang, membuat Edrea secara perlahan meraba area dadanya dan kembali meneteskan air mata.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" ucap Edrea dalam hati sambil mengusap dengan kasar air matanya yang perlahan lahan turun.


"Rea!" panggil sebuah suara yang lantas langsung menghentikan langkah kakinya.


Edrea berbalik badan dan menatap ke arah Kiera dengan tatapan yang datar, membuat Kiera yang melihat tatapan Edrea lantas langsung kembali merasa tidak enak kepadanya.


"Apakah kamu masih marah padaku?" tanya Kiera dengan nada yang melemah sambil terus menunduk karena tidak berani menatap manik mata milik Edrea terlalu lama.


"Sudahlah Ki... aku sedang tidak mood untuk membahas hal yang telah lalu saat ini." ucap Edrea dengan nada yang lirih, Edrea kali ini benar benar tidak sanggup jika harus kembali berdebat dan meributkan tentang Fano kembali.


Kiera yang mendengar ucapan lirih dari Edrea, lantas langsung dengan spontan mendongak karena Edrea terlihat tidak seperti biasanya, wajah Edrea bahkan kini terlihat pucat sambil terus meraba area dadanya, membuat Kiera berpikir bahwa Edrea tengah sakit saat ini.


"Apa kamu sedang sakit Rea? apa perlu ku antar ke ruang kesehatan?" ucap Kiera dengan nada khawatir akan kondisi Edrea saat ini.


Edrea yang mendengar tawaran tesebut, perlahan lahan menepis tangan Kiera membuat Kiera langsung terdiam seketika.


"Tidak perlu... aku mau pulang saja." ucap Edrea dengan lirih.


"Apa mau ku antar?" tanya Kiera lagi, namun Edrea langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak perlu Ki, bukankah kamu masih ada kelas? sebaiknya kamu pergi saja ke kelas mu..." ucap Edrea kemudian berlalu pergi meninggalkan Kiera begitu saja.


"Tapi ...." ucap Kiera hendak menolak namun tidak bisa karena Edrea sudah berlalu pergi meninggalkannya, membuat Kiera hanya bisa menatap kepergian Edrea dengan tatapan yang sendu.


**


Sementara itu tak jauh dari tempatnya berada, tanpa Kiera sadari Fano terlihat tengah memperhatikan interaksi keduanya sejak tadi. Seulas senyum nampak terlihat dari bibir Fano ketika menatap ke arah Kiera yang di tinggal pergi oleh Edrea.


"Sepertinya dia mangsa yang empuk untuk makanan ku selanjutnya.." ucap Fano dengan tersenyum menyeringai menatap ke arah Kiera.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2