Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tolong aku


__ADS_3

Kediaman Edrea


Edrea yang baru saja pulang dari kampus, lantas langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya.


"Aw" pekik Edrea ketika ia merasa ada yang mengganjal di punggungnya.


Edrea yang baru saja tiduran, lantas mendadak kembali bangun karena ada sesuatu yang mengganjal di dalam tasnya yang mengenai punggungnya ketika baru saja merebahkan tubuhnya.


Edrea yang penasaran akan benda tersebut, lantas mulai membongkar tasnya untuk mencari benda apa itu. Dua buah apel yang masih segar berhasil Edrea keluarkan dari dalam tasnya.


"Bukankah ini buah dari nenek nenek tadi? ah... aku bahkan hampir melupakannya." ucap Edrea dengan santainya sambil menggosok buah tersebut dengan tisu kemudian mulai menggigitnya tanpa mencuci buah tersebut.


Gigitan pertama yang mulai masuk ke dalam mulutnya membuat sensasi yang berbeda dalam diri Edrea. Edrea yang memang posisinya saat ini tengah duduk di ranjangnya, lantas langsung menatap ke arah depan tepat pada standing mirror yang terletak di sudut ruangannya.


Sebuah bayangan mendadak muncul di dalam cermin tersebut, membuat Edrea yang terkejut hanya bisa terdiam seketika sambil menatap ke arah standing mirror tersebut.


"Apa itu?" ucapnya dalam hati sambil menatap ke arah standing mirror miliknya.


Dalam cermin tersebut, Edrea melihat sebuah pemandangan yang indah seperti layaknya di sebuah hutan yang masih asri tanpa pernah di jamah oleh manusia seperti hutan hutan yang ada sekarang. Edrea melihat seorang gadis muda dengan wajah yang mirip dengannya sedang berlarian ke sana ke mari bermain kejar kejaran dengan seorang pemuda.


"Barra" ucap Edrea dengan nada yang lirih namun pandangan yang masih fokus menatap ke arah cermin tersebut.


Baik Barra maupun gadis yang berwajah seperti dirinya, terlihat sangat bahagia bersenda gurau dan berbagi kasih setiap harinya di hutan tersebut.


Hingga sebuah bayangan hitam mendadak mengepung keduanya dan membuat langkah kaki gadis yang berwajah mirip dengan Edrea terhenti seketika.

__ADS_1


Edrea melihat dengan jelas manik mata gadis itu perlahan lahan berubah layaknya manik mata seekor ular dan langsung melesat menyerang ke arah Barra dengan gerakan yang membabi buta. Pertarungan antara keduanya kini tidak lagi bisa terhindarkan. Hingga ketika Barra dan juga gadis tersebut sudah sama sama sampai pada titik darah penghabisan, gadis itu menyerahkan hidupnya kepada Barra untuk di habisi. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat waktu itu.


Tak tak tak...


Apel yang semula berada di genggaman tangannya, perlahan lahan mulai turun dan jantuh menggelinding ke lantai. Edrea menutup mulutnya karena terkejut akan gambaran yang baru saja ia lihat di standing mirror miliknya. Apa yang di perlihatkan oleh Fano dengan yang ada di hadapannya saat ini benar benar berbeda. Keduanya memang memiliki akhir yang sama, namun ingatan yang di berikan oleh Fano lebih kelam dari apa yang kini ia lihat.


"Aku mengorbankan diriku sendiri? ba... bagaimana bisa Fano memberikan ku ingatan yang salah... Barra tidaklah bersalah dalam hal ini, tapi aku... aku malah menyudutkannya dan berkata kata kasar kepadanya kemarin, apa yang sudah aku lakukan?" ucap Edrea dengan nada yang kebingungan sekaligus merasa bersalah kepada Barra karena tindakannya yang terlalu terburu buru dalam mengambil kesimpulan kemarin.


Edrea bangkit dari posisi duduknya dan mulai melangkahkan kakinya mondar mandir sambil memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Barra.


"Bagaimana aku bisa meminta maaf kepadanya sedangkan aku tidak mempunyai akses menuju ke Stasiun Pemberhentian? harusnya aku dulu belajar cara masuk ke Stasiun Pemberhentian kepada Max, jika sudah seperti ini aku juga yang susah kan?" ucap Edrea pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya mondar mandir ke sana ke mari.


****


Sementara itu di sebuah rumah kosong yang sudah tidak lagi berpenghuni, terlihat Mira tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut di ikuti dengan Riko dan Wili yang senantiasa berjalan mengikuti langkah kakinya sedari tadi.


"Ah aku benar benar benci tempat seperti ini... bau dan juga kotor! harusnya Barra mengijinkan ku meminjam pelayannya jadi aku tidak perlu susah susah datang ke tempat seperti ini." gerutu Mira sambil terus melangkahkan kakinya dengan kesal.


"Anda bisa menunggunya di luar madam, biar saya dan juga Riko yang akan menyelesaikannya." ucap Wili memberikan Mira penawaran.


"Diam! aku tidak butuh belas kasihan dari kalian, sebaiknya kita selesaikan saja dengan cepat pekerjaan kali ini, apa kalian mengerti?" ucap Mira dengan nada yang kesal.


"Baik madam" jawab Wili dan juga Riko dengan kompak sambil terus melangkahkan kakinya masuk menyusuri rumah kosong tersebut mencari keberadaan arwah yang hilang.


**

__ADS_1


"Ayu Sulistyawati, 26 tahun, waktu kematian 12 Desember 2021. Waktu mu di dunia sudah selesai saatnya kamu untuk ikut kami dan mempertanggungjawabkan semua kesalahan mu." ucap Mira dengan nada yang santai sambil memberikan iPad kepada Wili.


Sosok arwah perempuan yang sedang bermain di kursi goyang itupun, lantas perlahan lahan menoleh dan menatap ke arah Mira dan juga lainnya dengan tatapan yang tidak suka.


Tidak akan! aku belum selesai membalaskan dendam ku di dunia... jangan pernah menghalangi aku!


Ucap sosok tersebut dengan nada bicara yang marah kemudian menghilang dari kursi goyang dan berpindah tempat naik ke atap, seakan akan sedang mengajak Mira dan yang lainnya untuk bermain kejar tangkap.


Mira yang melihat kelakuan dari arwah yang hilang tersebut hanya bisa memutar bola matanya dengan jenggah, ini adalah salah satu alasan mengapa ia sangat malas menjemput arwah yang hilang karena ketika dalam proses penjemputannya mereka pasti akan membelot dan menolak untuk di bawa ke Stasiun Pemberhentian.


"Kalian berdua urus arwah itu secepatnya." ucap Mira kemudian memberikan perintah kepada Wili dan juga Riko.


"Baik madam" jawab Wili dan juga Riko hampir secara bersamaan.


Setelah mendapat perintah, baik Wili dan juga Riko terlihat mulai bergerak dan memburu sosok arwah tersebut yang tidak bisa diam dan terus saja berpindah pindah tempat.


****


Kembali kepada Edrea


Edrea terlihat sangaf frustasi karena tidak mendapat pencerahan tentang cara masuk ke Stasiun Pemberhentian tanpa undangan dari penghuni Stasiun. Mulai menggaruk kepalanya dengan kesal karena tidak kunjung menemukan ide yang tepat untuk masalahnya kali ini.


Hingga kemudian langkah kaki Edrea lantas terhenti karena terkejut ketika ia berbalik badan dan malah menjumpai sosok wanita berambut panjang berdiri tepat di hadapannya tanpa Edrea sadari sebelumnya.


Tolong aku...

__ADS_1


"Astaga! sebenarnya apa mau mu sih?" teriak Edrea dengan nada yang kesal karena sosok hantu wanita tersebut lagi lagi datang dan mengejutkannya.


Bersambung


__ADS_2