Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Ingatan apa itu?


__ADS_3

Nginggggggggg........


Bunyi itu terdengar dengan jelas dan nyaring di telinga Barra dan juga Edrea, sebuah penglihatan yang tiba tiba saja terlintas di benak Edrea dan juga Barra dalam waktu yang sama namun tanpa keduanya sadari bahwa mereka mendapat penglihatan yang sama antara satu sama lain dan saling berhubungan.


Sebuah bayangan di mana di sana terlihat Barra dan juga wanita yang berwajah mirip dengan Edrea terlihat tengah bahagia dan saling bersenda gurau di tengah tengah hutan, keduanya lantas berlarian ke sana ke mari dengan bebas sambil saling berkejar kejaran antara satu sama lain. Edrea nampak sangat bahagia di sana berlari sambil memegang setangkai bunga di tangannya, hingga sebuah bayangan hitam bak sosok ular besar mendadak muncul dan menghentikan langkah kaki Edrea yang tengah berlarian, Barra yang tidak melihat bayangan tersebut lantas sedikit terkejut ketika Edrea terlihat diam sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa nyimas? apakah ada sesuatu yang mengganggu mu?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran.


Edrea yang mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung perlahan lahan berbalik dan menatap ke arah Barra, Barra yang semula tersenyum karena menganggap Edrea tengah bermain main dengannya, lantas di buat terkejut ketika Edrea berbalik dan manik matanya berubah menjadi seperti mata ular.


**


Edrea yang sedikit terkejut akan sesuatu yang baru saja ia lihat, membuat Edrea lantas dengan spontan membuka kelopak matanya namun masih dalam posisi saling berciuman dengan Barra.


"Apa itu barusan?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya tentang penglihatan yang baru saja ia dapatkan.


Di tengah tengah tanda tanya yang besar di benak Edrea, dengan tiba tiba Barra lantas mendorongnya menjauh namun kali ini dengan tenaga yang lebih kecil dan tidak sekuat sebelumnya, hingga membuat Edrea langsung mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk karena dorongan dari Barra barusan.


"Ah..." teriak Barra dengan posisi langsung berjongkok sambil memegangi kepalanya seperti tengah kesakitan tepat setelah Barra mendorong tubuh Edrea menjauh darinya.


"Barra!" pekik Edrea yang terkejut ketika melihat Barra yang memegang kepalanya dengan kesakitan.


Edrea yang melihat hal tersebut lantas langsung bangkit dan berlarian menghampiri Barra untuk mengecek keadaannya.


"Apa yang tengah terjadi? apa kau baik baik saja?" ucap Edrea bertanya kepada Barra dengan nada yang khawatir.

__ADS_1


"Pergi dan urus saja masalah arwah itu..." ucap Barra kemudian sambil mendorong tubuh Edrea agar menjauh darinya.


"Maksud mu bagaimana Bar? jangan membuat ku semakin khawatir..." ucap Edrea dengan tatapan yang bingung ke arah Barra.


Sakit kepala Barra yang mulai mereda secara perlahan lantas membuat Barra langsung terdiam sekilas sambil memijat pelipisnya secara perlahan mencoba menstabilkan keadaannya terlebih dahulu kemudian perlahan bangkit, membuat Edrea semakin bingung dan khawatir karena Barra tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Aku memberimu waktu hingga tengah malam, pergi dan bantu dia..." ucap Barra dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Edrea yang kini masih menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Sungguh? terima kasih banyak... hanya saja... bisakah aku minta tolong padamu sekali lagi..." ucap Edrea dengan menatap ke arah Barra penuh harap.


"Katakan" ucap Barra sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Bisakah kau mengeluarkan ku dari dunia gaib, aku kesulitan untuk berinteraksi dengan manusia." ucap Edrea dengan nada yang lirih membuat Barra lantas menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar ucapan dari Edrea barusan.


Tanpa banyak bicara Barra kemudian lantas menjentikkan jarinya pelan dan tubuh Edrea mulai kembali terlihat di dunia manusia.


"Apa lagi?" tanya Barra sambil memutar bola matanya jengah.


"Bagaimana aku akan membantunya dengan tepat waktu, jika aku saja membutuhkan waktu yang lama untuk berpindah tempat dan membantunya, ada cara lain agar aku lebih mudah melakukannya seperti dirimu..." ucap Edrea dengan nada yang mengiba.


"Kemari kan tangan mu..." pinta Barra yang langsung membuat Edrea mendekat ke arah Barra dan memberikan tangannya. "Aku akan meminjamkan sebagian kekuatan ku padamu, gunakanlah dengan hati hati dan jangan memancing manusia di luar sana, apa kau mengerti?" ucap Barra memperingati Edrea agar tidak bermain main dengan kekuatannya.


Barra kemudian lantas menempelkan telapak tangannya kepada Edrea dan memulai penyaluran kekuatan, sebuah cahaya keemasan lantas terlihat timbul dan muncul di area sekitaran tangan keduanya, hingga membuat Edrea lantas takjub akan cahaya keemasan yang terlihat muncul di sana.


"Pergilah dan gunakan dengan benar, aku percaya padamu..." ucap Barra dengan wajah yang sedikit pucat, membuat Edrea lantas kebingungan ketika melihat ke arah wajah Barra.

__ADS_1


"Apa kau baik baik saja Bar?" tanya Edrea yang kembali khawatir.


"Ku bilang pergi ya pergi sekarang..." ucap Barra kemudian setengah berteriak yang lantas membuat Edrea terkejut bukan main dan langsung berpikir untuk pergi menjauh dari Barra dan menemukan arwah Ardi.


Tepat setelah Edrea memikirkan hal tersebut, tubuh Edrea mendadak menghilang dari hadapan Barra tanpa bekas, sepertinya cara kerja kekuatan yang di transfer oleh Barra bukan dengan menjentikkan tangannya seperti yang lainnya, melainkan dengan memusatkan pikirannya maka kekuatan itu akan langsung bekerja sesuai dengan pikiran dari si empunya.


"Cepat sekali dia belajarnya..." ucap Barra ketika melihat kepergian Edrea yang tiba tiba sambil mengelus bagian dadanya yang entah mengapa terasa sangat nyeri.


***


Edrea yang belum sadar ia sudah berpindah tempat, lantas hendak kembali bertanya kepada Barra akan sesuatu yang masih mengganjal hatinya.


"Lalu bagaimana aku menggunakannya Bar..." ucap Edrea namun mengambang begitu saja di udara ketika ia tak melihat Barra di manapun kecuali sosok arwah Ardi yang terlihat menatap dirinya dengan tatapan yang bingung karena kemunculannya yang tiba tiba.


"Kau datang dari mana?" tanya Ardi kemudian sambil menatap bingung ke arah Edrea.


"Sudahlah itu tidak penting, yang terpenting sekarang segera selesaikan misi mu karena aku hanya punya waktu hingga tengah malam untuk membantu mu." ucap Edrea sambil menarik tangan Ardi dan mengajaknya untuk berlari agar mempersingkat waktu bagi keduanya untuk menyelesaikan masalah mereka dan segera kembali membawa arwah Ardi ke Stasiun pemberhentian.


***


Sementara itu di sebuah ruangan kamar dengan pencahayaan yang gelap terdengar suara d**sahan menggema memenuhi ruangan kamar tersebut. Edrea yang baru saja sampai di tempat itu di kejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa di hadapannya.


"Benar benar brengsek!" pekik arwah Ardi sambil berlari hendak menghampiri keduanya ketika ia menyadari bahwa yang tengah bercinta di sana adalah Putri calon istrinya.


"Jangan!" teriak Edrea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2